Sabtu, 12 Januari 2013

Jargon Filsafatku


BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
Hidup adalah filsafat. Inilah sekiranya kalimat pertama yang ingin saya ucapkan dalam makalah ini. Saya mengatakan hal tersebut, bukan tanpa alasan, melainkan memiliki alasan, yaitu tidak ada satu apa pun di dunia ini yang mampu terlepas dari filsafat. Filsafat, jika kita lihat secara ruang lingkup, maka filsafat memiliki ruang lingkup yang sangat besar karena objek yang dipelajarinya meliputi segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Selain itu, filsafat mempelajari kedua objek tersebut dengan sedalam-dalam dan seluas-luasnya. Selanjutnya, filsafat memandang segala sesuatu dalam dimensinya, baik dalam dimensi ruang, maupun dimensi waktu. Tidak ada sesuatu apa pun di dunia ini yang dapat terbebas dari kedua dimensi ini. Sehingga perlu kiranya semua kita bisa memahamai kedua dimensi tersebut. Untuk dapat memahami dimensi ruang, maka pergunakanlah dimensi waktu, dan untuk memahami dimensi waktu, maka pergunakanlah dimensi ruang. Hal ini pun mengindikasikan bahwa antara kedua dimesni ini tidaklah bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Mengingat hidup adalah filsafat, maka sangatlah penting kiranya kita untuk mempelajarinya. Akan tetapi, ada satu hal yang perlu kita tekankan sebelum kita mempelajari filsafat, yaitu tetapkanlah terlebih dahulu hati kita dalam cahaya islam yang ber-Tuhan-kan ALLAH SWT dan ber-Rasul-kan MUHAMMAD SAW. Hal ini disebabkan karena filsafat bukanlah ilmu yang kecil, melainkan ilmu yang besar yang tingkatannya berada di bawah ilmu spiritual dan berada di atas ilmu bidang dan ilmu aplikasi. Sesuatu yang besar tidaklah bisa terlepas dari manfaat dan bahaya yang besar juga. Oleh karena itu, untuk menghindarkan kita akan bahaya dari filsafat, maka selalu gunakan hati kita sebagai pedoman agar tidak pernah sedikit pun menyinggung ranah spiritual. Menyinggung ranah spiritual berarti iblis yang siap menjerumuskan kita ke dalam neraka dan azab-Nya. Adapun proporsi mempelajari filsafat dengan spiritual (ibadah) adalah 1 : 10. Artinya, ketika kita mempelajari satu tentang filsafat, maka pelajarilah sepuluh tentang spiritual atau beribadahlah dalam sepuluh kali lipat dari biasanya.
Filsafat adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Artinya, kita tidak mungkin dapat berfilsafat mengenai sesuatu hal jika kita tidak memiliki pengalaman dan logika mengenai sesuatu hal tersebut. Dalam berfilsafat, tidaklah kita harus memiliki logika, meliputi pengetahuan yang purna tentang sesuatu hal. Akan tetapi, dalam berfilsafat pun, kita tidak boleh memilki pengetahuan yang terlalu sedikit tentang sesuatu hal. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak asal sembarang berbicara tentang sesuatu hal, melainkan memiliki alasan yang melandasinya. Dalam filsafat, jawaban akhir mengenai benar dan salahnya sesuatu tidaklah terlalu dipentingkan, melainkan yang dipentingkan adalah alasan atau penjelasan tentang jawaban akhir tersebut. Hal ini pun, mengindikasikan bahwa filsafat bisa dilakukan oleh siapa pun, dimana pun, dan kapan pun asalkan kita memiliki pengalaman dan logika tentang sesuatu hal tersebut. Dari sini, kita pun dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya filsafat adalah penjelasan.
Selanjutnya, filsafat dapat diartikan sebagai suatu pola pikir yang reflektif. Pola pikir reflektif yang bersifat intensif (sedalam-dalamnya) dan ekstensif (seluas-luasnya). Dalam berfilsafat, bahasa yang digunakan adalah bahasa analog. Bahasa analog adalah bahasa yang tingkatannya jauh lebih tinggi di atas bahasa kiasan. Akan tetapi, hal ini tidaklah bersifat selamanya karena filsafat pun dapat diungkapkan dalam bahasa biasa (common sense). Biasanya bahasa seperti ini digunakan oleh orang-orang awam dalam berfilsafat. Filsafat dapat diawali dengan beberapa kegiatan, seperti kegiatan membaca, diskusi, bertanya, berkomunikasi, dan lain sebagainya. Dan satu-satunya cara agar kita dapat meningkatkan kemampuan berfilsafat adalah baca, baca, baca, baca lagi, baca lagi, baca lagi, dan baca lagi, dan baca lagi, dan baca lagi, dan begitu pun seterusnya, terutama membaca pikiran para filsuf. Oleh karena itu, filsafat pun dapat dikatakan sebagai para filsuf dan pikirannya. Ada pun metode dalam berfilsafat adalah hermeneutika yang diartikan sebagai metode menterjemah dan diterjemahkan. Semua objek filsafat (yang ada dan mungkin ada) untuk dapat dipahami, maka kita haruslah mampu menterjemahkannya dan diterjemahkan oleh objek-objek tersebut.
Musuh utama filsafat adalah mitos, meskipun mitos juga merupakan salah satu bagian dari filsafat. Mitos merupakan hal yang sangat ditakuti dalam filsafat karena akan membawa kita ke dalam kehidupan yang hanya menerima sesuatu tanpa pernah berusaha untuk membuktikan kebenarannya. Adapun ketika mitos tersebut sudah dapat kita buktikan kebenarannya, mak mitos tersebut pun akan berubah menjadi logos. Atau dengan kata lain logos adalah anti-tesis atau kontradiksi dari mitos.
Filsafat menganggap segala sesuatu yang ada dan mungkin tidak akan pernah bersifat mutlak, melainkan relatif. Relatif tergantung dimensi ruang dan waktu sesuatu itu berada. Hal ini pun mengindikasikan bahwa segala sesuatu yang ada dan mungkin ada pasti memilki anti-tesis. Contohnya, jika tesisnya adalah hidup, maka anti tesisnya adalah mati, jika tesisnya adalah diam, maka anti-tesisnya adalah bergerak, dan begitupun seterusnya. Akan tetapi, hanya ada satu hal yang tidak memiliki anti-tesis dalam dunia ini, yaitu ALLAH SWT.
Dalam filsafat, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa filsafat memandang segala sesuatu yang ada dan mungkin ada dalam dua dimensi, yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Dalam dimensi ruang, dikenal empat tingkatan ruang, yaitu ruang material, ruang formal, ruang normatif, dan ruang spiritual. Dan sebenar-benar ruang adalah intuisi. Sehingga untuk memahami ruang adalah dengan menggunakan intuisi. Cara mengekstensikan ruang adalah dengan menggunakan analogi. Sedangkan untuk mengintensikannya kita menggunakan abstraksi atau reduksi. Dalam dimensi waktu, kita kenal dua sistem waktu, yaitu sistem A (kemarin, sekarang, dan akan datang) dan sistem B (sebelum, peristiwa, dan sesudah). Selanjutnya, antara ketiga unsur sistem waktu tersebut, terdapat sifat-sifat yang melekat di dalamnya, yaitu urutan, berkelanjutan, dan kesatuan.
Berdasarkan atas pemaparan di atas, maka ada satu hal yang menjadi titik tolak yang sangat menarik bagi saya dalam filsafat, yaitu baca. Hal ini disebabkan karena dalam Al-Qur’an pun, kata pertama yang diturunkan adalah iqra’ yang berarti bacalah. Janganlah sekali pun kita menganggap diri kita islam, jika kita tidak pernah membaca Al-Qur’an. Begitu pun dengan filsafat, janganlah sekali pun kita menganggap diri kita belajar filsafat, jika kita tidak pernah membaca pikiran para filsuf. Membaca pikiran para filsuf dapat dilakukan dengan cara membaca sumber primer, sumber sekunder, sumber tersier, dan begitupun selanjutnya. Membaca sumber primer diartikan sebagai membaca langsung pikiran para filsuf langsung dari tulisan mereka. Membaca sumber sekunder diartikan sebagai membaca pikiran para filsuf dari tulisan orang lain yang mengutip langsung dari tulisan para filsuf. Sedangkan membaca sumber tersier diartikan sebagai  membaca pikiran para filsuf dari tulisan orang lain yang mengutip dari tulisan orang lain yang mengutip langsung dari tulisan para filsuf. Begitu pun seterusnya. Oleh karena itu, saya dalam makalah ini akan coba menyajikan beberapa orang filsuf dan pikirannya dari beberapa sumber yang dimaksud.
Sebelum melanjutkan penulisan makalah ini, ada satu hal yang sangat penting untuk saya utarakan, yaitu mengenai permintaan maaf saya sekiranya dalam makalah ini, saya tidak menyebutkan gelar-gelar yang dimilki oleh para filsuf tersebut. Padahal mereka semuanya itu adalah profesor-profesor atau guru besar-besar dalam filsafat. Mohon maaf atas tidak ada pengucapan gelar tersebut dan terima kasih atas perkenaannya. 

B.       TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan beberapa contoh filsuf beserta pikirannya. Filsafat, khususnya filsafat ilmu, tidak akan pernah bisa menjadi seperti sekarang ini tanpa perantara mereka semua. Begitupun dengan ilmu pengetahuan, tidak akan pernah bisa berkembang menjadi seperti sekarang ini tanpa perantara mereka juga. Dengan adanya pikiran mereka mengenai segala sesuatu yang ada dan mungkin ada telah mampu membuka pikiran semua orang mengenai filsafat. Dan secara otomatis, hal ini akan berdampak positif, baik terhadap filsafat itu sendiri, maupun terhadap segala sesuatu di luar filsafat.



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Thales
Masa hidup Thales sekitar tahun 624-546 SM. Thales merupakan salah satu dari anggota The Seven Wise Men, yaitu orang-orang yang bijaksana, orang-orang yang sering memberikan petuah-petuah pendek. Petuahnya bisa meliputi: kenalilah dirimu, ingat akhirnya, dan jangan belebih-lebihan. Di luar masalah mengenai masa hidupnya, Thales merupakan orang pertama yang berfilsafat sehingga dia dikenal sebagai Bapak Filsafat. Gelar ini dia peroleh karena menanyakan pertanyaan mendasar yaitu, “What is the nature of the world stuff?”. Apakah sebenarnya unsur utama dari alam semesta, begitulah sekiranya maksud dari pertanyaan ini. Thales pun menjawab pertanyaannya ini dengan menyatakan bahwa sebenarnya unsur dari alam semesta ini adalah air (Ahmad Tafsir, 2009: 48; Knierim, T, tth: 2; Strub, W., tth: 133).
Seperti yang kita ketahui, air merupakan unsur yang sangat penting bagi hidup kita. Bayangkan, apa yang dapat kita lakukan jika tidak ada air? Air ada yang berada di dalam diri kita dan di luar diri kita. Kita sering mengenal istilah dehidrasi untuk menyatakan kekurangan cairan dalam badan kita. Ketika hal tersebut terjadi, sungguh orang akan terlihat lemas dan kurang bisa melakukan apa-apa. Sehingga untuk memulihkan kondisi badan, seseorang tersebut memerlukan minuman tambahan berupa, air mineral dan sejenisnya. Kembalikan ke permasalah membayangkan di awal, apa yang terjadi jika tidak ada air. Bisakah kita membayangkan dalam kehidupan sehari-hari kita membutuhkan air mineral untuk memulihkan kondisi badan tetapi tidak ada. Selain itu, seperti yang diketahui bersama bahwa awal penciptaan manusia pun berasal dari setetes air, yaitu air mani. Tidak akan pernah ada manusia di muka bumi ini tanpa adanya air tersebut.
Air yang ada di luar tubuh pun, banyak jenisnya dan sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan. Air kita gunakan untuk masak, mandi, mencuci, mengairi sawah, dan lain sebagainya. Tidak akan kita bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari jika air tidak ada. Sehingga dapat kita katakana bahwa air merupakan unsur yang sangat penting bagi kehidupan. Mungkin ini merupakan salah satu alasan mengapa Thales mengatakan bahwa unsur dari alam semesta ini merupakan air berdasarkan manfaat dari air tersebut.

B.       Anaximander
Anaximander lahir pada tahun 610 SM dan meninggal pada tahun 546 SM. Anaximandros atau Anaximander adalah seorang murid Thales. Thales menyatakan bahwa alam semesta ini berasal dari air tetapi Anaximander mengatakan berbeda. Dia mengatakan bahwa asal alam berasal dari to apeiron, yaitu yang tak terbatas. Apeiron tidak dapat dirupakan dan tidak memiliki batasan atau kontradiksi. Akan tetapi, satu hal yang perlu ditekankan bahwa sebenarnya Anaximander pun menganggap bahwa unsur dari alam semesta adalah satu. Untuk lebih memahami mengenai masalah keterbatasan, berikut saya berikan beberapa contoh. Air batasnya api, dingin batasnya panas, cair batasnya beku, begitulah seterusnya. Akan tetapi, jika kita menggunakan pengandaian seperti contoh tersebut, tidak adalah unsur dari alam semesta itu dapat dijelaskan. Semua yang ada dan mungkin ada di alam semesta ini pasti memiliki batasan, setiap tesis memiliki anti tesis, dan setiap objek memiliki subjek, dan begitulah dengan sesuatu yang ada dan mungkin ada yang lain. Jadi, dapat disimpulkan dari pernyataan ini bahwa sebenarnya apeiron itu bersifat ilahi, abadi tidak dapat dirubah dan meliputi segala hal (Juhaya S. Praja, 2010: 75-76; Knierim, T., tth: 5).
Dari sumber lain, didapatkan bahwa sebenarnya Anaximander menyatakan bahwa unsur atau asal dari alam semesta adalah udara (Ahmad Tafsir, 2009: 48). Sebenarnya, jika kita kaitkan antara pernyataan pertama mengenai asal dari alam semesta adalah apeiron (yang pada dasarnya tidak dapat dirupakan) dengan udara, memang terlihat kesamaan, yaitu udara tidak dapat dirupakan atau dilihat langsung oleh panca indera, mata. Akan tetapi, jika kita mengartikan sebagai apeiron sebagai tak terbatas, sungguh udara bukanlah termasuk di dalamnya. Udara bersifat terbatas, karena batas dari udara adalah hampa udara. Sering kita dengar mengenai istilah ini dalam astronomi. Ketika ilmuan-ilmuan astronomi menggunakan ruang hampa udara untuk simulasi. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa udara bukanlah apeiron yang dimaksudkan anaximandros.
Berikut penjelasan Anaximander mengenai terjadinya bumi. Menurut Anaximander, berangkat dari apeiron keluarlah panas dan dingin. Yang panas membalut yang dingin. Dari yang dingin keluarlah yang cair dan yang beku. Yang beku inilah yang kemudian membentuk bumi. Api yang membalut yang dingin inipun dikatakan Anaximander, pecah menjadi pecahan-pecahan. Pecahan-pecahan kemudian berputar dan terpisah-pisah sehingga terbentuklah benda langit yang lain, seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang. Kemudian untuk poses terbentuknya laut, Anaximander menjelaskan bahwa bumi pada awalnya dibalut oleh uap yang basah. Yang basah ini pun berangsur-angsur menjadi kering diakibatkan perputaran terus menerus. Akan tetapi, perputaran tersebut tidak mengakibatkan uap basah tersebut kering secara total dan menghasilkan sisa berupa uap basah juga. Sisa uap basah inilah yang sebenarnya disebut sebagai laut.  Mengenai terjadinya mahluk di bumi, Anaximander menjelaskan bahwa atas dasar bumi dilapisi oleh uap-uap basah, dia mengatakan bahwa bumi diliputi oleh air semata. Dari pendapat ini, dia juga mengatakan bahwa mahluk hidup yang pertama adalah mahluk hidup yang berada di air, seperti ikan. Karena perputaran terus menerus, bumi pun semakin kering dan membentuk daratan. Hal ini pun, memaksa mahluk hidup yang ada di air itu untuk bermigrasi ke daratan. Sehingga Anaximander pun  mengatakan bahwa sebenarnya asal mula dari manusia adalah ikan (Juhaya S. Praja, 2010: 76-77; Strub, W., tth: 113).

C.      Anaximenes
Masa hidup Anaximenes berkisar antara tahun 585-528 SM. Anaximenes adalah seorang murid dari Anaximandros. Sumber yang saya dapatkan menyatakan bahwa Anaximenes adalah orang yang menyatakan bahwa alam semesta berasal dari udara. Terlepas dari permasalahan siapakah yang mengatakan hal tersebut dan siapakah sebenarnya yang benar, akan saya berikan mengapa Anaximenes menyatakan bahwa unsur dari alam semesta adalah udara. Anaximenes menyatakan bahwa alam semesta berasal dari udara didasarkan pada beberapa alasan, seperti udara ada di mana-mana, tidak adalah sesuatu yang di dunia ini yang tidak terdapat udara di dalamnya, udara tidak berkesudahan dan tidak berkeputusan; udara tidak pernah berhenti, udara selalu bergerak secara kontinu sehingga tidak ada satu apa pun kejadian atau perubahan di dunia ini tidak dipengaruhi oleh udara; dan udara adalah unsur kehidupan, tidak ada satu pun mahluk di dunia ini yang mampu hidup tanpa udara. Udara menjadi sebab terjadinya alam semesta, udara bisa rapat dan bisa jarang. Ketika udara jarang, maka terbentuklah api. Ketika udara rapat, maka terbentuklah angin dan awan. Ketika udara itu makin rapat lagi, maka terbentuklah hujan dari awan tersebut. Hujan menghasilkan air dan air menghasilkan tanah. Dan tanah yang sangat rapat akan menjadi batu. Anaximenes dalam buku yang sama juga menyatakan mengenai asal manusia. Dia menyatakan bahwa manusia berasal dari sesuatu yang tak terbatas dan satu yang disebut jiwa. Jiwa disini sama dengan udara. Jiwa mengikat segala sesuatu yang ada di tubuh manusia agar tidak bercerai-berai. Sehingga jika jiwa keluar dari diri manusia, maka akan mengakibatkan bagian tersebut menjadi bercerai-berai dan hancur. Yang demikian inilah yang disebut dengan mati. Intinya, tanpa jiwa tidak adalah manusia itu (Juhaya S. Praja, 2010: 78).
Anaximenes, jika kita bandingkan dengan Anaximdros memiliki kesamaan dalam mengatakan bahwa alam semesta itu berasal dari satu dan tak terbatas. Akan tetapi, kita menemukan sesuatu yang baru dalam Anaximenes, yaitu istilah jiwa. Kita dapat melihat, bahwa sebenarnya Anaximenes memisahkan alam semesta menjadi dua bagian, yaitu alam dan manusia  Alam terbentuk dari udara dan manusia dari jiwa. Bagi Anaximenes udara adalah jiwa dan jiwa adalah udara.

D.      Pythagoras
Pythagoras hidup sekitar tahun 571-497 SM. Dia lahir di Samos dan bermigrasi ke daerah Grik di bagian selatan Italia sekitar tahun 529 SM. Pythagoras adalah seorang filsuf yang bersifat loyal terhadap golongan aristocrat dan bersifat sangat oposisi terhadap pemerintahan tirani di bawah pemerintahan Plykrates. Disebabkan sifat oposisinya ini, Pythagoras akhirnya bermigrasi kembali ke kota Krotona. Di sana, dia mendirikan sebuah perkumpulan tarekat atau agama yang dinamai mazhab Pythagorean yang dipengaruhi oleh aliran mistik yang disebut Orfisme. Aliran ini adalah aliran yang mempercayai tentang kebatinan atau jiwa. Pythagoras mengajari mengenai inkarnasi. Inkarnasi diartikan sebagai jiwa manusia yang tidak pernah mati. Ketika manusia mati, maka jiwanya akan berpindah kepada hewan. Dan jika hewan itu mati, maka jiwa itu akan berpindah ke hewan lain dan begitupun seterusnya. Agar jiwa suci manusia tersebut tidak berpindah ke hewan, maka diperlukan suatu acar pensucian jiwa yang dapat dilakukan dengan tidak memakan makanan tertentu, seperti ikan, daging, dan kacang. Ajaran ini pun mengajarkan mengenai hidup bersahaja dan berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Pythagoras adalah seorang matematikawan. Dia tidak terlalu tertarik untuk memikirkan mengenai asal alam semesta tetapi lebih banyak memikirkan mengenai hubungan antara berbagai macam benda, terutama yang berhubungan dengan bentuk dan hubungan yang bersifat kuantitatif. Bahkan dia beranggapan bahwa angka merupakan suatu prinsip terhadap segala sesuatu yang ada. Pythagoras menekankan bahwa di balik sesuatu itu, pasti terdapat bilangan. Kemudian, dia membagi bilangan-bilangan tersebut menjadi bilangan-bilangan yang saling berlawanan, seperti ganjil dan genap, terhingga dan tidak terhingga. Meskipun Pythagoras tidak terlalu memikirkan tentang alam tetapi ditemukan juga pemikirannya mengenai alam. Bahwa di alam ini terdapat hal-hal yang berlawanan, seperti baik dan buruk, laki-laki dan perempuan, gelap dan terang, lurus dan bengkok, dan lain sebagainya. Menurutnya, titik tengah antara hal-hal yang berlawanan ini adalah keserasian dalam alam semesta (Frater, O. L., 2006: 19; Juhaya S. Praja, 2010: 79-80).
Secara keseluruhan, Pythagoras adalah seorang yang sangat religious, mengajarkan hidup yang sederhana atau bersahaja, dan dia merupakan matematikawan pertama yang mengenalkan konsep bilangan dalam hidup ini. Pythagoras menurt saya adalah seorang yang sangat berpengaruh dan berperan penting terhadap perkembangan matematika sehingga bisa seperti sekarang. Selain itu, dia menemukan bahwa sebenarnya di alam semesta ini, terdapat hal-hal yang saling berkontradiksi antara satu dengan yang lain. Jika terdapat tesis, maka terdapatlah anti-tesis. Begitulah sekiranya bahasa yang tepat untuk mengungkapkannya. Ada hal yang paling saya senangi dari Pythagoras, dia menyatakan bahwa di antara yang bertentangan tersebut, terdapat suatu keserasian. Misalkan, kesusahan yang berlawanan dengan kebahagian. Dalam hidup, tidaklah kita selamanya mengalami kesusahan, melainkan juga mengalami kebahagian. Sungguh, kebahagian dan kesusahan dalam hidup tidaklah dapat dipisahkan satu sama lain. Dari kesusahan, kita dapat belajar mengenai bagaimana cara agar selalu berusaha untuk tetap hidup.
Kesusahan mengajarkan kita bahwa kita adalah mahluk ALLAH SWT yang tidak punya daya upaya untuk berpaling dari kesusahan tersebut. Dari kesusahan tersebut, kita bisa belajar bangkit. Kita bisa belajar mengenai hakikat doa dan ikhtiar. Sedangkan dari kebahagiaan, kita dapat belajar banyak hal, seperti selalu bersyukur kepada ALLAH SWT dan selalu berusaha untuk mempertahankan kebahagiaan itu agar hidup menjadi tenang. Dengan adanya kesadaraan mengenai hakikat kedua hal ini, sungguh kita akan mendapatkan hidup kita dalam keadaan yang normal atau harmonis atu serasi. Memahami mengenai hakikat kedua hal yang berlawanan itu untuk kemudian menggunakannya sebagai refleksi dalam kehidupan, itulah sebenarnya yang dimaksudkan sebagai titik temu untuk memperoleh keserasian hidup yang dimaksudkan oleh Pythagoras.

E.       Herakleitos
Herakleitos lahir sekitar tahun 540 SM dan meninggal sekitar tahun 480 SM. Herakleitos terlahir dari keluarga arisrokrat di Ephesos. Herakleitos adalah seorang yang keras dan sangat bebas dalam menyampaikan pendapat. Bahkan dia tidak segan-segan untuk menghina filsuf-filsuf terkemuka, seperti Pythagoras. Berdasarkan kebebasannya tersebut, sehingga dia mempunyai pandangan sendiri mengenai filsafat. Dia tergolong orang yang tertarik terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di alam. Menurutnya, alam semesta ini selalu berubah secara kontinu. Tidak adalah satu apa pun di alam semesta ini yang diam. Atas dasar perubahan ini, maka terjadilah pluralitas dalam alam semseta. Bahkan sesuatu yang terlihat tetap pun sebenarnya sedang mengalami perubahan yang yang tiada hentinya. Beberapa pandangan Herakleitos yang terkenal adalah semuanya mengalir dan tidak ada satu pun yang tinggal menetap dan matahari adalah baru setiap hari. Herakleitos berkeyakinan bahwa elemen utama dari sesuatu yang ada adalah api. Api mebutuhkan bahan bakar dan bahan bakar itu berubah menjadi asap dan abu. Dia pun beranggapan bahwa dunia ini tidak diciptakan oleh siapa pun. Dunia tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir (Juhaya S. Praja, 2010: 81-82).
Pendapat Herakleitos mengenai segala sesuatu itu selalu berubah adalah pendapat yang sangat menakjubkan menurut saya. Secara tidak sadar, dalam filsafatnya, dia sudah menemukan istilah dimensi ruang dan waktu. Sesuatu yang kelihatan tetap secara hakikatnya adalah berubah. Berubah dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Mungkin secara fisik sesuatu yang terlihat tetap itu tidak berubah tetapi bagaimana jika kita berbicara mengenai ruang dan waktu di mana sesuatu itu berada. Sungguh, tidak ada satu apa pun di dunia ini yang dapat mencegah perubahan ruang dan waktu, kecuali ALLAH SWT.
Ada hal yang sangat bertentangan dalam diri saya mengenai pendapat Herakleitos yang mengatakan bahwa dunia tidak dijadikan oleh satu apa pun. Tuhan (ALLAH SWT) adalah pencipta alam semesta beserta isinya. Semuanya sudah tertulis jelas dalam Al-Qur’an. Sehingga saya pun dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya Herakleitos adalah seseorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Selain itu, ada hal yang menurut saya masih menjadi pertentangan, mengenai pendapat Herakleitos yang menyatakan tidak adalah dunia ini memiliki awal dan akhir. Akan tetapi, pada sisi lain, dia menyatakan bahwa api adalah elemen utama pembentuk segala sesuatu yang ada. Jadi, dari pendapatnya ini pun, kita dapat simpulkan bahwa api adalah awal dari segala sesuatu. Tidakkah hal ini kontradiksi dengan pendapat sebelumnya? Semua saya serahkan kepada pembaca untuk menghermeneutikakannya.

F.       Parmenides
Parmenides dilahirkan di Elea sekitar tahun fl.501-492. Dia adalah seorang yang sangat berbeda pendapat dalam berfilsafat dengan yang orang-orang yang ada sebelumnya, dia mengatakan bahwa “yang realitas dalam alam ini hanya satu, tidak bergerak, dan tidak berubah.” Adapun dasar pemikirannya adalah yang ada itu mustahil menjadi tidak ada, sebagaimana yang tidak ada mustahil menjadi ada. “yang ada” menurut Parmenides adalah satu dan tidak dapat terbagi-bagi sehingga tidak terdapat pluralitas dalam filsafatnya. Selanjunya, “yang ada” tidak dijadikan dan tidak dimusnahkan atau bersifat kekal. “Yang ada” itu sempurna, dan “yang ada” mengisi segala tempat. Selain itu (Hansen, M. J., 2010: 65-66; Juhaya S. Praja, 2010: 82-83; Stamatellos, G., 2012: 244).
Pandangan ini sebenarnya ada sedikit kecocokan jika kita kaitkan dengan keberadaan Tuhan (ALLAH SWT). ALLAH SWT adalah satu, ALLAH SWT bersifat kekal, ALLAH SWT maha sempurna dalam kebaikan, dan ALLAH SWT akan selalu ada di mana pun itu, selama seorang hamba selalu mengingat-Nya. Akan tetapi, jika kita kaitkan pandangan Parmenides tersebut dengan segala sesuatu selain ALLAH, sungguh tidak ada sedikit pun kebenaran dalam pandangan Parmenides tersebut. Segala sesuatu yang ada pasti bukanlah satu, melainkan banyak dan dapat terbagi-bagi, bahkan sesuatu yang terlihat satu pun sebenarnya banyak secara hakikatnya. Tidak adalah sesuatu yang ada itu bersifat tidak dijadikan dan tidak dimusnahkan atau kekal, melainkan memiliki awal dan akhir. Meskipun, awal bisa berarti akhir, dan akhir bisa berarti awal, tergantung dari penjelasan yang kita berikan.
Sungguh, akhir dari dunia ini adalah ketika kiamat datang menimpa dunia ini. Dan sungguh, awal dari kehidupan yang sebenarnya adalah dunia akhirat. Selain itu, segala sesuatu yang ada dan mungkin ada tidaklah bersifat sempurna. Semua tesis memiliki anti-tesis dan semua anti-tesis memiliki tesis. Pandangan yang terakhir mungkin begitu sulit untuk diterjemahkan karena memiliki sifat kebenaran di dalamnya. Akan tetapi, saya menemukan satu tempat kosong yang tidak diisi oleh sesuatu, yaitu pikiran. Pikiran dimana kita sedang berdoa. Kosongkanlah pikiran kita dari semua urusan dunia ketika sedang berdoa. Sungguh ALLAH SWT akan sangat mencintai hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya dengan mengesampingkan urusan dunianya. Akan tetapi, sebenarnya tidak adalah pendapat ini saya dapat pertanggungjawabkan karena sungguh tidak adakah kekosongan dalam pikiran dan diri kita, melainkan selalu mengingat-Nya. Sungguh itulah hamba yang paling dicintai ALLAH SWT.


G.      Zeno
Zeno adalah seorang murid Parmenides yang sangat terkenal sebagai filsuf matematika barat yang pertama. Zeno dilahirkan di Elea sekitar tahun 490 SM. Zeno termasuk orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya realitas adalah satu. Zeno adalah penganut paham yang demokratis tetapi dalam perjalanan karirnya di pemerintahan dia berhasil digulingkan oleh kaum aristocrat. Zeno mengungkapkan bahwa alam semesta terdiri atas empat substansi, yaitu air, udara, api, dan tanah. Elemen-elemen ini tergabung karena cinta dan terpisah karena kebencian. Dia mengatakan bahwa tidak adalah satu apa pun di dunia ini yang bersifat kekal kecuali keempat substansi tersebut dan cinta dan kebencian. Zeno terkenal sebagai orang yang sangat cerdas dan sependapat terhadap pandangan gurunya. Dan berusaha untuk membuktikan kebenaran gurunya mengenai ketidakberadaan gerak. Akan tetapi, jika kita lihat dalam pandangannya kita melihat perbedaan antara keduanya. Parmenides mengatakan bahwa gerak itu tidak ada. Akan tetapi, Zeno dalam pandangannya mengatakan bahwa campuran yang berbeda-beda dari substansi (air, udara, api, dan tanah) membentuk segala yang ada di alam semesta. Bercampur secara hakikatnya pasti bergerak, bergerak dari satu substansi ke substansi yang lain dan begitupun selanjutnya. Zeno mengatakan bahwa substansi adalah awal dari terbentuknya segala sesuatu sesuatu. Sedangkan Parmenides mengatakan bahwa “yang ada” tidak dijadikan. Zeno mengatakan bahwa wujud dalam alam ini adalah sementara, sedangkan Parmenides mengatakan bahwa “yang ada” tidak akan dimusnahkan. Tidakkah kedua pandangan ini berbeda? Semua diserahkan kepada pembaca (Jan Hendrik Rapar, 2002: 95; Juhaya S. Praja, 2010: 84; Venugopalan, A., 2007: 52).
Ada istilah baru yang kita temukan dalam pandangan Zeno, yaitu cinta dan kebencian. Sungguh tingkatan pandangan ini sudah masuk ke dalam tingkatan spiritual atau hati. Sangatlah benar ketika Zeno mengatakan bahwa cinta bersifat kekal. Kekal di sini tergantung dari sudut pandang mana kita mendefinisikannya. Sungguh, kecintaan ALLAH SWT kepada hambanya adalah bersifat kekal karena ALLAH SWT adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Akan tetapi, ketika kita mengatakan bahwa kecintaan dalam arti hubungan antara manusia, mungkin hal ini akan sulit untuk ditemukan karena manusia tidaklah emiliki sifat tersebut secara kekal, melainkan sementara. Dan meskipun itu ada, mungkin itu hanya dimilki oleh orang tertentu saja, seperti cinta orang tua kepada anaknya. Karena sesungguhnya ridho ALLAH SWT adalah sangat bergantung terhadap ridho orang tua.
Zeno adalah seorang pemikir yang berhasil menemukan metode dalam membuktikan kebenaran suatu pernyataan seseorang dengan membuktikan kesalahan dalam premis-premis lawan. Adapun caranya adalah dengan mereduksikan premis itu menjadi suatu kontradiksi sehingga kesimpulannya pun menjadi mustahil. Cara seperti ini pun sangat sering kita temukan dalam pembuktian kebenaran suatu teorema dalam matematika. Dengan cara mengambil percontohan yang bertentangan dengan pernyataan awal untuk kemudian mencari kemustahilan terhadap hal tersebut sehingga bertentangan dengan pernyataan awal atau pernyataan secara umum. Kemudian ditariklah suatu kesimpulan baru yang membuktikan kebenaran proposisi awal. Sebenarnya, dalam filsafatnya, Zeno ingin mengatakan bahwa sungguh tidak adalah satu pun pernyataan yang melahirkan pertentangan dapat dianggap benar (Jan Hendrik Rapar, 2002: 95-98).
Dan sungguh hanya ada satu hal yang memang-memang benar dan tidak memilki pertentangan di dalamnya, bahwa ALLAH SWT adalah Tuhan dan MUHAMMAD SAW adalah Rasulullah. Islam adalah sebenar-benar agama dan Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah sebenar-benar petunjuk atau pedoman hidup. Semoga kita semua termasuk orang yang selalu mendapatkan petunjuk dari ALLAH SWT dan selalu berusaha untuk mencari ridhonya dalam setiap hembusan nafas kita. Amin.

H.      Anaxogras
Anaxogras lahir sekitar tahun 500 SM di Lazomonal, Ionia dan meninggal sekitar tahun 428 SM. Pada usia muda dia pindah ke Athena dan menetap di sana selama 30 tahun. Disana, dia memiliki seorang teman yang bernama Pericles. Ketika Pericles lanjut usia, Anaxogras pernah ditolongnya karena sempat hendak ingin dibunuh oleh Mahkamah akibat difitnah musuh-musuhnya. Dia dianggap sudah murtad dan keluar dari ajaran agama dengan melakukan kesalahan yang menyatakan bahwa matahari adalah benda yang menyala panas dan bulan menyala diakibatkan memantulkan sinar matahari. Bulan menurutnya sama dengan bumi bergunung dan berdaratan rendah. Selain itu, dia mengatakan timbul dan hilang itu ada. Isi-isi alam ini tidak pernah bertambah dan berkurang, mereka selama-lamanya. Timbul dan hilang tersebut hanyalah percampuran anasir-anasir awal yang jumlahnya tak berhingga dan digerakkan oleh kodrat dari luar yang dinamakan Nus. Nus menurutnya adalah pencipta alam semesta ini (Juhaya S. Praja, 2010: 84).
Jika kita pikirkan pandangan ini dari sudut pandang astronomi, maka tidak ada kesalahan yang terdapat di dalamnya. Sangatlah benar bahwa matahari tersebut adalah mengeluarkan cahaya karena termasuk bintang dan bulan bisa bersinar karena memantulkan cahaya yang dikeluarkan matahari. Seperti yang ketahui juga bahwa tekstur permukaan bulan hampir mirip dengan bumi karena bergunung-gunung. Sungguh, Anaxogras adalah seorang yang sangat jenius dalam hal yang berkaitan dengan astronomi. Dia bisa membuat suatu teori yang notabenenya pada zaman dahulu belum ada tekhnologi canggih dan memiliki kebenaran.
Pandangan Anaxogras mengenai isi alam adalah selama-lamanya kayaknya kurang begitu pas dengan pandangan kita. Hal ini disebabkan karena alam semesta beserta isinya, termasuk manusia-manusia kafir, suatu saat nanti akan musnah dan hancur, yaitu pada saat datangnya hari kiamat. Sungguh, kiamat pasti datang dan hanya ALLAH SWT yang mengetahui kapan kiamat tersebut akan terjadi. Akan tetapi, ada istilah baru yang dikenalkan Anaxogras kepada kita, yaitu Nus. Nus jika kita kaitkan dengan Theologi, mungkin Nus adalah Tuhan. Sehingga dapat kita mengatakan bahwa dia adalah orang yang percaya akan keberadaan Tuhan. Keberadaan suatu Dzat yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya. Dan sungguh, sebenar-benar Tuhan adalah ALLAH SWT.

I.         Socrates
Masa hidup Socrates sekitar tahun 470-399 SM. Socrates hidup di tengah-tengah keruntuhan Athena oleh orang-orang oligarki dan demokratis. Pandangan Socrates mengenai kebenaran adalah bahwa tidak semua kebenaran itu bersifat relative. Dia menganggap bahwa ada juga kebenaran yang bersifat mutlak atau objektif yang bisa dijadikan pedoman bagi semua orang. Kebenaran objektif inilah yang biasanya disebut sebagai definisi dan induksi. Socrates adalah seorang penganut moral yang absolute; meyakini bahwa penegakan moral adalah tugas filosof, yang berdasarkan ide-ide rasional dan keahlian dalam ilmu pengetahuan; dan seorang yang sangat menentang ajaran relativisme sofis dan sangat menegakkan agama dan sains. Pada tahun 399 SM, Socrates dituduh merusak pemuda dan menolak tuhan-tuhan negara. Oleh karena itu, Socrates pernah diadili oleh pengadilan Athena. Dalam persidangannya, Socrates sempat membacakan pidato pembelaanya yang berjudul Apologia yang dituliskan oleh Plato. Dalam pidato tersebut Socrates menjelaskan pembelaannya dengan panjang-lebar seolah-olah mengajari semua orang yang ada di ruangan tersebut. Hal ini pun dianggap penghinaan oleh sebagian besar orang yang ada di sana. Dan akhirnya, Socrates dihukum mati dengan sebagian besar orang di pengadilan tersebut menyatakan dia bersalah. Sebenarnya hukuman mati ini bisa ditolak Socrates dengan meminta untuk dibuang ke luar kota. Akan tetapi, karena kecintaannya kepada negaranya, Socrates menolak hal tersebut dan sempat mengajukan tebusan sebesar 30 mina tetapi ditolak hakim. Socrates dihukum mati sebulan setelah pemberian keputusan sehingga dia pun mendekam di dalam penjara selama masa jeda hukuman tersebut bersama para sahabatnya yang juga muridnya, seperti Kriton. Plato menceritakan bahwa pada hari terakhir hidupnya, Socrates dengan tenang meminum racun di keadaan senja dengan di kelilingi sahabat-sahabatnya tersebut. Socrates tidak meninggalkan satu tulisan apa pun tetapi ajarannya bisa diperoleh dari tulisan murid-muridnya, seperti Plato. Sangat banyak filsuf-filsuf yang mengagumi Socrates, salah satunya Kierkegaard yang merupakan Bapak Eksistensialisme Modern (Ahmad Tafsir, 2009: 53-56; Crome, K., 2005: 1).
Ada hal menarik yang bisa kita kaji dalam pemikiran Socrates mengenai kebenaran objektif. Socrates adalah orang yang sangat memegang teguh agama dan mungkin dapat kita ambil suatu kesimpulan bahwa sebenarnya yang dia maksudkan sebagai kebenaran objekif adalah kebenaran ajaran agama. Hal ini pun didukung alasan karena ajaran agam tersebut dapat digunakan sebagai pegangan atau pedoman dalam hidup seperti yang dikatakan Socrates. Sungguh kebenaran ajaran agama itu adalah benar. Dan sebenar-benar ajaran agama adalah ajaran agama ISLAM. Dan sebenar-benar definisi atau hakikat tentang segala sesuatu adalah terdapat di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Selain itu, kita dapat mengambil banyak pelajaran dari pandangan-pandangan Socrates, seperti rasa cinta terhadap tanah air dan belajar sampai akhir hayat. Sungguh ini adalah suatu yang sangat indah untuk dijadikan salah satu motto dalam hidup kita.
Manusia adalah titik tolak semua pemikiran-pemikiran Socrates. Sehingga dalam berfilsafat dia memulainya dari kehidupan sehari-hari yang konkret untuk kemudian berusaha menggapai kebenaran yang objektif terhadap hal tersebut. Adapun metode filsafat Socrates adalah dialektik atau bercakap-cakap. Dalam bercakap-cakap Socrates secara aktif menggunakan argumentasi rasional dalam menunjukkan perbedaan, pertentangan, penolakan, menyaring, dan membersihkan, serta menjelaskan keyakinan dan pendapat demi lahirnya kebenaran objektif (Jan Hendrik Rapar, 2002: 99-101).
Bercakap-cakap dalam sudut pandang kita adalah cara berinteraksi yang paling bagus. Dengan bercakap-cakap paling tidak kita bisa lebih akrab dalam interaksi social kita dengan orang lain, berbagi ilmu sesama kita, dan lebih saling mengenal satu sama lain. Bercakap-cakap sungguh mampu menambah teman dan sahabat dalm hidup kita.

J.        Plato
Plato hidup sekitar tahun 427-347 SM. Plato adalah seorang teman sekaligus murid dari Socrates. Plato mempertegas pandangan Socrates, bahwa kebenaran objektif atau definisi tidak bisa diperoleh dengan cara bercakap-cakap seperti yang dikatakan Socrates. Menurut Plato, definisi itu tersedia di dalam idea. Definisi itu mempunyai realitas dan realitas itu berada di alam idea. Sehingga menurutnya, idea itu berlaku umum. Selain itu, Plato dalam memahami konsep kebenaran sama saja dengan gurunya, yaitu membedakan kebenaran menjadi dua, yaitu kebenaran yang bersifat umum dan kebenaran yang bersifat khusus. Kebenaran khusus diartikan sebagai bentuk konkret dari kebenaran umum yang ada di alam ide. Contoh, “ayam” di alam ide berlaku umum, sedangkan “ayam yang dipelihara ayah saya” adalah kucing yang khusus (Ahmad Tafsir, 2009: 57-59).
Apabila kita memperhatikan pandangan Plato mengenai kebenaran objektif atau definisi, maka akan didapatkan bahwa Plato sebenarnya meletakkan alam ide di atas segala-galanya bahkan mengalahkan bentuk konkret dari kebenaran umum tersebut. Sungguh, sangat banyak pengikut dari Plato ini termasuk orang-orang besar di negara kita. Sekarang, bayangkan apa yang terjadi jika konsep atau pandangan plato ini kita aplikasikan dalam dunia pendidikan, seperti pembelajaran matematika di kelas. Dalam pandangan plato, dia menempatkan bahwa sebenar-benar kebenaran adalah definisi-definisi matematika, postulat-postulat, aksioma-aksioma, dan teorema-teorema yang ada di dalam matematika. Jika kita langsung menerapkan hal ini dalam pembelajaran di kelas, sungguh tidaklah tepat, terutama dalam pembelajaran matematika di sekolah. Hal ini disebabkan karena tidak sepenuhnya definisi-definisi itu dapat diterima dengan mudah oleh siswa karena sifatnya yang abstrak. Sedangkan seperti yang kita ketahui bahwa tahapan pemikiran siswa di sekolah masih tergolong konkrit. Hal ini pun berimplikasi langsung dengan mengakibatkan kesulitan siswa dalam memahami konsep matematika. Selain itu, keberadaan definisi-definisi ini pun sungguh akan membatasi ruang gerak siswa dalam berpikir dan beraktivitas dalam pembelajaran. Ada hal fatal yang merupakan akibat terburuk dengan adanya kebenaran objektif dalam idea ini dalam pembelajaran di sekolah, yaitu hilangnya intuisi siswa dalam pembelajaran. Sungguh, 80% hidup adalah intuisi dan bayangkan jika hal tersebut hilang dari siswa-siswa kita. Tidakkah ini kejam? Sangat Kejam.
Intuisi bagi siswa sangatlah penting, hal ini disebabkan karena beberapa hal seperti intuisi merupakan bentuk cerminan awal pengetahuan siswa mengenai konsep sehingga mempermudah guru dalam menentukan pembelajaran yang tepat bagi siswa dan intuisi mampu menambah motivasi siswa dalam mempelajari matematika karena sesungguhnya pembelajaran yang memperhatikan intuisi selalu memulai dari bentuk konkrit dari konsep matematika yang dipelajari. Sehingga hal ini pun berindikasi terhadap kesuksesan pembelajaran siswa, baik dalam proses, maupun hasil akhirnya.
Satu yang paling parah dari kekejaman ini, yaitu tidak adanya usaha untuk mengembalikan pembelajaran yang berbasis intuisi dari pemerintah, bahkan sekarang ini pemerintah menggagas kurikulum 2013 yang berbasis tekhnologi. Akan tetapi, hal ini adalah wajar bahwa sebenarnya sebagian besar atau bahkan hampir semua pejabat pembuat kebijakan adalah orang-orang yang berpayung pada Platonism. Apakah layak seorang yang platonis membuat kebijakan untuk pendidikan yang sebanr-benarnya berbasis kontekstual? Tidaklah layak. Sungguh, diperlukan revolusi besar-besaran dalam dunia pendidikan demi menghentikan kekejaman penghilangan intuisi siswa ini, mulai dari merubah paradigma mengajar kita, sampai pada mengubah semua unsur-unsur yang barbau Platonism dalam aspek pendidikan, seperti pejabat pembuat kebijakan dengan orang-orang yang lebih peduli terhadap pendidikan dan selalu meletakkan siswa sebagai orientasi utama pengambilan kebijakan. Salah satu contoh konkrit kekejaman para kaum Platonism adalah Ujian Nasional. Sungguh, kita semua telah mengetahui bentuk kekejaman ujian nasional dan saya rasa saya tidak perlu utnuk menyajikannya kembali dalam makalah ini.

K.      Aristoteles
Aristoteles lahir sekitar tahun 384 SM dan meninggal sekitar tahun 322 SM. Dia lahir di Stagira, sebuah kota di Thrace dari keluarga yang tertarik dengan ilmu kedokteran sehingga dia cenderung berpikir sistematis dan empiris. Pada saat Aristoteles masih muda, ayahnya meninggal dan ia pun diambil oleh Proxenus dan diberikan pendidikan yang bagus. Ketika dia berusia 18 tahun, ia disekolahkan Proxenus ke Akademia Plato. Dan tentu di sana gurunya adalah Plato. Dalam perjalanan hidupnya, Aristoteles lebih berhasil jika dibandingkan dengan Plato. Dia adalah seorang guru dari raja yang sangat terkenal, yaitu Alexander The Great putra Philip. Bahkan Aristoteles, pernah menekuni riset di Stagira dengan dibantu Theophrastus dengan pembiayaan Alexander The Great. Riset ini pun menghasilkan banyak kemajuan dalam bidang sains dan filsafat. Ketika, raja Alexander The Great berperang ke Asia sekitar tahun 334 SM, Aristoteles kembali ke Athena dan mendirikan sekolah yang bernama Lyceum. Dalam perkembangannya, Lyceum bersaing dengan Akademia Plato dan memaksa Arisoteles untuk melakukan penelitian dan menghasilkan banyak kemajuan lagi dalam bidang politik, retorika, dan dialektika. Dalam dunia filsafat, Aristoteles terkenal sebagai Bapak Logika tradisional atu logika formal (Ahmad Tafsir, 2009: 59-61; Shand, J., 1993: 53).
Dalam berlogika, Aristoteles menggunakan bahwa ada dua metode yang dapat digunakan untuk menarik kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode deduktif (apodiktik) dan metode induktif (epagogi). Metode deduktif adalah cara menarik konklusi berdasarkan dua premis yang tidak diragukan kebenarannya, yang bertolak dari suatu yang umum menuju khusus. Sedangkan metode induktif adalah cara menarik konklusi dengan bertolak dari suatu yang khusu menuju yang umum. Metode deduktif tidak berdasarkan atas pengamatan dan pengetahuan indrawi yang berdasarkan pengalaman, sedangkan induktif sebaliknya. Meskipun dalam perkembangan logikanya, Aristoteles lebih dihubungkan dengan penalaran deduktif. Istilah logika sebenarnya tidak pernah digunakan oleh Aristoteles, melinkan dia menggunakan istilah analitika (berangkat dari proposisi yang benar) dan dialektika (berangkat dari proposisi yang diragukan kebenarannya). Inti logika bagi Aristoteles adalah silogisme. Silogisme diartikan sebagai bentuk formal dari deduksi yang terdiri atas tiga proposisi, dua proposisi awal disebut premis, dan satu proposisi akhir disebut konklusi (Jan Hendrik Rapar, 2002: 104-105).
Banyak hal yang kita bisa kita dari seorang Aristoteles, seperti pentingnya riset demi kemajuan. Atas dasar kuasa ALLAH SWT melalui perantara riset akan mampu mengakibatkan kemajuan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, termasuk dalam pembelajaran matematika. Aristoteles secara langsung mengajarkan kita bahwa untuk menjadi seorang guru yang baik haruslah sering-sering melakukan penelitian atau riset demi kemajuan dalam pembelajaran kita di kelas. Peneiltian dapat berbentuk penelitian kuantitatif dan kualitatif. Gunakan hasil-hasil dari penelitian tersebut sebagai bahan refeleksi pemebelajaran yang sudah ada untuk kemudian melakukan perbaikan dalam setiap pembelajaran ke depannya. Selain itu, dengan adanya penelitian atau riset sungguh akan menambah eksistensi seorang guru dalam menghadapi ketatnya persaingan globalisasi dalam dunia pendidikan. Sungguh, hanya guru-guru yang berkompeten yang bisa menghadapi ketatnya persaingan dalam dunia pendidikan.
Aristoteles dari sudut pandang pure matematika pun memiliki peranan penting, yaitu dengan dipelajarinya materi khusus logika, seperti silogisme dalam matematika. Sungguh, teknik pengambilan kesimpulan dengan menggunakan teknik silogisme ini memiliki banyak manfaat dalam penarikan kesimpulan, baik dalam dunia matematika, maupun kehidupan sehari-hari. Meskipun kadang, tidak semua permasalahan yang kita hadapi di dunia ini mampu kita logikakan. Dan  bahkan semua yang kita pikirkan pun, belum tentu bisa dilogikakan. Sungguh logika berada jauh di bawah filsafat apalagi spiritual. Sehingga janganlah sekali-kali meletakkan logika di atas segalanya dan berusaha untuk melogikan segala sesuatu yang berkaitan dengan spiritual. Seperti yang sering dikatakan guruku (Prof. Dr. Marsigit, M.A.), “apalah daya dan kemampuanku untuk memikirkan hatiku.”

L.       Thomas Aquinas
Thomas Aquinas lahir sekitar tahun 1225 M dan meninggal sekitar tahun 1274 M. Dia lahir di Roccasecca, Italia dari keluarga bangsawan. Aquinas dalam berfilsafat lebih pada kepastian adanya Tuhan. Menurutnya, Tuhan dapat diketahui dengan akal. Hal ini didasarkan pada lima argumen, yaitu 1) Diangkat dari sifat alam yang selalu bergerak. Segala sesuatu yang ada di alam ini bergerak dan digerakkan oleh Tuhan. 2) Sebab yang mencukupi, ada sebab ada akibat, akibat yang satu mengakibatkan hal yang lain, dan keberadaan dunia ini disebabkan sebab pertama, yaitu Tuhan. 3) Kemungkinan dan keharusan, segala sesuatu yang ada di alam bersifat mungkin ada dan mungkin tidak ada. Segala sesuatu yang ada disebabkan karena adanya sesuatu yang ada sebelumnya, dan yang ada pertama adalah Tuhan. Sedangkan sesuatu yang mungkin tidak ada itu tidak mungkin benar karena segala sesuatu yang ada sekarang adalah ada. Jika dikembalikan kepada sebabyang mencukupi di atas, maka segala sesuatu yang ada ini disebabkan sesuatuyang ada pertama, yaitu Tuhan. 4) Tingkatan yang ada pada alam ini bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini memiliki kekurangn dan kelebihan. Disebabkan hal ini, maka muncul bahwa ada tingkatan yang lebih tinggi dan yang lebih rendah. Dan Tuhanlah yang berada pada tingkatan yang paling tinggi. Dan 5) Keteraturan alam bahwa segala sesuatu yang ada di alam memiliki tujuan. Mereka semua bergerak menuju tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka mereka digerakkan oleh Tuhan. Dari sini dibuktikan Tuhan ada (Ahmad Tafsir, 2009: 59-61).
Sungguh, keberadaan Tuhan itu memang ada. Akan tetapi, satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah Tuhan yang sebenar-benar Tuhan adalah ALLAH SWT. Sesungguhnya, Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali, ALLAH SWT. Olehkarena itu, bagi barang siapa yang merasa sedang dalam keberadaan tidak menyembah ALLAH SWT sekarang, maka segeralah bertaubat dan berusaha untuk mencari Hidayah-Nya. Pelajarilah ISLAM dengan cara yang mendalam dan dengan bimbingan ustads atau ulama, maka sesungguhnya kita akan mendapatkan kebenaran yang hakiki yang tidak ada keraguan di dalamnya yang tidak akan pernah kita dapatkan pada agama-agama lain. Sungguh, sebenar-benar agama adalah islam. Berikut, akan kita lihat beberapa pandangan tentang beberapa hal, antara lain:
1.      Kosmologi
Hal yang paling penting dalam pandangan Aquinas adalah matter (bahan) dan form (sifat). Matter dan form tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya (Ahmad Tafsir, 2009: 101-102). Sebagai contoh, Batu. Zat batu adalah bendanya dan batu itu keras adalah sifatnya. Coba bayangkan, adakah batu yang tidak keras?
2.      Jiwa
Beranjak dari matter dan form. Raga menghadirkan matter dan jiwa menghadirkan form. Selama kita hidup, sungguh tidak dapat dipisahkan antara kedua hal ini. Menurut Aquinas, jiwa adalah kapasitas intelektual dan kegiatan vital kejiwaan manusia. Dia juga mengatakan bahwa manusia adalah mahluk berakal dan konsekuensinya adalah jiwa membimbing raga karena jiwa lebih tinggi tingkatannya dibandingkan raga. Jiwa memiliki kesatuan tetapi bisa dibedakan menjadi tiga hal, yaitu kemampuan mengindera atau sensation, kemampuan pikir atau reason, dan nafsu atau appetite (Ahmad Tafsir, 2009: 101-102).
3.      Teori Pengetahuan
Aquinas berpendapat bahwa segala sesuatu yang tidak dapat diteliti oleh inderawi adalah iman. Menurutnya, antara iman dan akal haruslah diseimbangkan. Aquinas membagi pengetahuan menjadi tiga hal, yaitu pengetahuan fisika, matematika, dan metafisika (Ahmad Tafsir, 2009: 101-102). Ketiga hal tersebut sangatlah bereperan penting bagi pengetahuan sehingga bisa berkembang menjadi sekarang ini. Akan tetapi, yang paling penting adalah pengetahuan metafisika. Metafisika adalah mempelajari sesuatu dibalik sesuatu yang tingkatannya lebih tinggi dibandingkan dua pengetahuan yang lain. Dan kita tidak akan pernah bisa mempelajari pengetahuan ini jika kita tidak pernah belajar tentang filsafat. Itulah salah satu kegunaan filsafat, yaitu kita bisa menemukan maksud atau makna dibalik sesuatu. Sehingga berbanggalah kita yang bisa mempelajari filsafat ilmu, terutama filsafat ilmunya Prof. Dr. Marsigit, M.A. Melalui makalah ini, sungguh saya ingin mengatakan bahwa saya bangga sudah bisa belajar filsafat dari beliau.
4.      Etika
Menurut Aquinas, kita tidak akan pernah mampu mencapai kebaikan yang tertinggi pada masa sekarang ini (Ahmad Tafsir, 2009: 105-106). Sangat benarlah pandangan ini tetapi sungguh sampai kapan pun kita tidak akan pernah mencapai tingkatan kebenaran yang paling tinggi. Hal ini dikarena kita adalah seorang hamba ciptaan ALLAH SWT. Dan sungguh, kebenaran yang tertinggi atau yang Maha Benar adalah ALLAH SWT.


M.     Rene Descartes
Rene Descartes atau Renatus Caertesius adalah putra keempat Joachim Descartes yang merupakan seorang anggota perlemen kota Britari Prancis. Dia lahir tanggal 31 Maret 1596 di La Haye, Provinsi Tourine. Pada msa mudanya, Rene Descartes sudah merasa kebingungan dan tidak merasa puas dengan ilmu-ilmu yang diterima dari guru, maupun buku teksnya, terutama yang berkaitan dengan ilmu filsafat. Dalam memperoleh hasil yang sahih (adequate), Descartes mengungkapkan bahwa ada empat hal yang penting, yaitu 1) Tidak menerima sesuatu apa pun sebagai suatu kebenaran, kecuali kita melihatnya secara jelas (clearly) dan tegas (distinctly). 2) Pecahkan setiap masalah sebanyak mungkin bagian-bagiannya sehingga tidak ada satu pun keraguan yang mampu merobohkannya. 3) Bimbinglah pikiran dengan teratur dengan mulai dari hal yang sederhana atau mudah diketahui menuju hal yang kompleks atau sulit. Dan 4) Dalam proses pencarian dan pemeriksaan  hal-hal sulit, selamanya harus dibuat suatu perhitungan yang sempurna dan pertimbangan yang menyeluruh sehingga kita menjadi yakin bahwa tidak ada satu pun yang ketinggalan dari hal yang sulit tersebut. Metode meragukan segala sesuatu Descartes inilah yang sering disebut sebagai metode skeptis dalam filsafat. Descartes adalah salah satu tokoh rasionalisme dalam filafat karena selalu mengandalkan rasio dalam menyelesaikan setiap permasalahan (Juhaya S. Praja, 2010: 91-96; Shand, J., 1993: 75).
Coba renungkan keempat gagasan yang diungkapkan Descartes di atas. Berargumen terhadap gagasan yang pertama. Sungguh, awal dari ilmu adalah kebingungan. Selama kebingungan itu bisa kita manfaatkan dan kita gunakan untuk berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya, maka akan diperoleh suatu informasi yang mendalam tentang sesuatu hal tersebut. Beranjak kepada pandangan kedua bahwa pecahkan setiap kesulitan sebanyak mungkin bagian. Hal ini jika kita terapkan dalam kehidupan sungguh sangatlah bermanfaat. Pandangan ini mengajarkan kita akan hidup yang pantang menyerah, pantang putus asa, dan selalu berusaha untuk memecahkan segala kesulitan yang kita hadapi bahkan sampai kepada bagian-bagian terkecilnya.
Sekarang pandangan ketiga, jika kita mengimplikasikan hal tersebut untuk pemebelajaran matematika sekolah, maka sangatlah tepat. Hal ini disebabkan karena pandangan tersebut mengajarkan kita (guru) untuk memulai suatu pembelajaran dari hal-hal yang sangatlah sederhana atau diketahui siswa. Hal tersebut tidak lain dan tidak bukan yang dimaksudkan adalah pembelajaran yang dimulai dari sesuatu yang bersifat konkrit utnuk menuju sesuatu yang abstrak. Memulai pembelajaran dari masalah kehidupan sehari-hari siswa untuk kemudian dipecahkan di dalam pembelajaran, itulah yang dimaksudkan. Diharapkan dengan memulainya dari masalah kehidupan sehari-hari yang sifatnya familiar, maka akan menambah motivasi belajar siswa dan tidak menghilangkan intuisinya sehingga mampu berimplikasi pada pemahaman siswa yang lebih cepat dan lebih mudah dalam membangun konsep matematika yang bersifat abstrak.
Manusia dari sudut pandang Descartes mengatakan bahwa manusia adalah mahluk dualitas, yang terdiri atas jiwa dan tubuh. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keluasan atau mesin yang dijalankan oleh jiwa (Juhaya S. Praja, 2010: 99). Jiwa adalah pemikiran, apakah kita semua setuju dengan hal ini? Saya secara pribadi tidaklah setuju sepenuhnya kerena menurut saya, jiwa adalah roh dan lebih bersifat spiritual. Jiwa lebih berkaitan dengan hati dan berhubungan langsung dengan Tuhan. Satu hal yang perlu menjadi perhatian bagi kita adalah bahwa tingkatan spiritual atu hati berada di atas tingkatan pikiran. Pemikiran tidaklah mampu menjelaskan segala sesuatu yang ada di hati. Hal ini disebabkan karena hati adalah keyakinan atau iman.
Seperti yang sering dikatakan guru saya Bapak Prof. Dr. Marsigit bahwa “Kembangkanlah keraguan di dalam pikiranmu karena itu adalah awal dari ilmu. Akan tetapi, janganlah engkau ragu sedikitpun dengan sesuatu yang ada di hatimu karena itu adalah iblis yang sedang menggoda imanmu.” Sehingga satu hal yang dapat kita simpulkan dari pandangan seorang Rene Descartes bahwa ragukanlah semua hal yang berkaitan dengan pikiran kita karena itu adalah ilmu dan jangan sekali-kali meragukan segala sesuatu yang ada di hati kita. Akan tetapi, hal ini hanyalah cocok bagi orang-orang muslim, sedangkan orang-orang di luar muslim (kafir) adalah bukan. Saya menyarankan kepada semua kaum kafir untuk meragukan semua keyakinan mereka karena hal itu bukanlah keyakinan yang baik. Keyakinan mereka tersebut adalah iblis bagi diri mereka sendiri. Iblis tersebut akan membawa mereka kepada Neraka Jahannam. Pelajarilah ajaran agama islam jika kalian semua ingin menghilangkan semua keraguan tersebut. Pelajarilah islam secara mendalam dan kalian semua akan menemukan sebenar-benar yang benar tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

N.      De Spinoza
De Spinoza atau Spinoza lahir di Amsterdam pada tahun 1632 M dan meninggal sekitar tahun 1677 M. Spinoza dalam berfilsafat meletakkan substansi sebagai tema pokok dalam metafisika. Dia menganggap bahwa substansi dari segala sesuatu adalah satu. Dia menggunakan deduksi matematis untuk membuktikan kebenaran dari sesuatu. Dia memulai membuktikan sesuatu dengan meletakkan definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan proposisi-proposisi di awal pembuktiannya. Barulah dari hal-hal tersebut kemudian dia berusaha untuk membuktikan sesuatu tersebut. Spinoza juga dikenal sebagai seorang filsuf yang rasionalis (Ahmad Tafsir, 2009: 133-134; Shand, J., 1993: 53).
Pembuktian dengan menggunakan deduksi matematis ini bagi semua kita mungkin adalah sesuatu yang rumit. Hal ini disebabkan karena pembuktian dengan cara seperti ini sangat mengandalkan definisi-definisi dengan aturan-aturan tertentu dalam proses pembuktiannya. Satu hal yang mungkin menjadi pertanyaan besar yang sangat mengganggu di pikiran saya, yaitu “Bagaimanakah cara kita membuktikan kebenaran definisi tersebut?” Akankah kita membuat definisi sebelum definisi untuk kemudian membuktikan definisi tersebut. Lalu muncul pertanyaan lagi, “Kita sebut apakah definisi sebelum definisi itu? Apakah kita akan menyebutnya sebagai metadefinisi?” Ditambah satu lagi yang menjadi pertanyaan saya dalam kasus ini, “Apakah definisi hanya sekedar kesepakatan orang-orang sebelum kita?” Sungguh, saya belum mendapatkan penjelasan dari permasalahan ini. Semoga melalui makalah ini, saya bisa mendapatkan penjelasan dari siapapun yang membacanya. Amin.

O.      John Locke
John Locke lahir pada tahun 1632 dan meninggal sekitar tahun 1704. Menurut Locke, rasio pada awalnya dapat kita anggap sebagai suatu lembaran putih dan seluruh isinya berasal dari pengalaman. Kemudian Locke memisahkan menjadi pengalaman ke dalam dua hal, yaitu pengalaman lahiriah atau sensation dan pengalaman batiniah atau reflection. Dari pengalaman inilah muncul suatu ilmu. Dari sini, sebenarnya kita dapat melihat seorang John Locke adalah seorang yang lebih mengandalkan pengalaman dibandingkan ide. Tidak bergunalah suatu kertas yang kosong tanpa ada tulisan di dalamnya. Tulisan ini menurut John Locke yang diartikan sebagai pengalaman. Sehingga dia pun dikenal sebagai salah seorang yang empiris (Juhaya S. Praja, 2010: 110; Shand, J., 1993: 116).
Hal ini ada benarnya juga, bahwa pengalaman kadang dapat berpengaruh penting bagi kehidupan manusia. Dan bahkan ada yang kata bijak yang mengatakan bahwa “pengalaman adalah guru yang paling berharga”. Kadang sesuatu yang secara teorinya bagus tetapi sangat berbeda jika diterapkan di dalam pengalaman. Hal ini pun mengindikasikan bahwa sebenarnya sesuatu yang baik dalam bentuk ide belum menjamin baiknya dalam dunia nyata. Akan tetapi, kita tidaklah dapat membenarkan pendapat ini secara sepenuhnya karena kadang ide pun sudah cukup baik untuk membuktikan suatu kebenaran yang ada. Bayangkan, jika ide kita mengenai “berada bersama singa di kandangnya adalah bahaya” dan kita tidak mempercayai hal tersebut. Lalu kemudian kita mencari pembenaran ide tersebut dengan menggunakan pengalaman. Sungguh, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika kita mempraktikan keadaan tersebut.

P.       Gottfried Wilhelm von Leibniz
Gottfried Wilhelm von Leibniz adalah seorang filosof Jerman. Dia lahir di Leipzig, Jerman pada tahun 1646 dan meninggal pada tahun 1716. Berbeda dengan Spinoza, Leibniz menyebutkan bahwa substansi dari sesuatu itu adalah banyak. Substansi inilah yang dia sebut sebagai monad. Setiap monad berbeda satu sama lain dan Tuhan adalah supermonad, yaitu satu-satunya monad yang tidak diciptakan oleh monad dan merupakan pencipta dari monad-monad itu. Leibniz, seperti juga Descartes dan Spinoza disebut juga sebagai seorang yang rasionalis (Ahmad Tafsir, 2009: 138-139; Shand, J., 1993: 100).
Ada satu hal yang bisa kita petik dari Leibniz bahwa tidak adalah sesuatu apa pun di dunia ini yang sama. Semuanya berbeda antara satu hal dengan hal yang lain. Hal ini pun mengindikasikan bahwa kita harus sadar bahwa perbedaan itu memang ada dan kita harus bisa menghargai perbedaan-perbedaan tersebut. Dengan saling menghargai perbedaan, maka kita akan memperoleh kehidupan yang harmonis, saling menghargai satu sama lain, dan saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Dan semoga kita semua adalah orang-orang yang bisa menghargai perbedaan tersebut. Amin.
Keberadaan perbedaan ini pun telah kita sadari dan sangat dihargai oleh negara ini (Indonesia). Bahkan hal ini pun dijadikan semoboyan untuk bangsa kita ini, yaitu Bhineka Tunggal Ika. Bhineka Tunggal Ika berarti meskipun berbeda-beda tetapi kita tetap satu, yaitu satu bangsa dan satu negara Indonesia. Hal ini sungguh membuat kita sadar bahwa dimana pun kia berada selama masih warga negara Indonesia, maka kita semua adalah satu dan saudara yang harus saling menolong satu sama lain. Hal yang sama juga bisa kita analogikan untuk agama, bahwa kita semua umat muslim adalah satu. Dimanapun kita berada kita adalah satu sehingga kita haruslah selalu saling mendoakan satu sama lain dan saling tolong menolong dalam kebaikan.

Q.      George Berkeley
George Berkeley lahir di Irlandia sekitar tahun 1685 dan meninggal sekitar tahun 1753. Dia merupakan salah seorang penganut empirisme. Berkeley mencanangkan teori yang dia namakan immaterialisme atas dasar prinsip-prinsip empiris. Dalam teorinya ini, Berkeley berpendapat bahwa sama sekali tidak ada substansi-substansi material, yang ada hanyalah pengalaman dalam ruh saja (Juhaya S. Praja, 2010: 111; Shand, J., 1993: 129). Jika kita bandingkan dengan pandangan ini dengan pandangan John Locke, maka kita akan melihat keradikalan berpikir dari seorang George Berkeley yang menganggap bahwa ide tidak pernah ada. Sedangkan dari kaca mata John Locke, dia masih menganggap bahwa ide itu ada tetapi tidak begitu penting. Dalam kasus ini, saya tidak bisa berbicara sedikit pun karena menurut saya, baik antara ide, maupun pengalaman sama-sama merupakan substansi dari ilmu dan sama-sama memiliki peranan penting bagi terwujudnya suatu ilmu.

R.      Dahid Hume
David Hume lahir pada tahun 1711 dan meninggal sekitar tahun 1776. Berdasarkan informasi, empirisme berpuncak pada David Hume. Hal ini disebabkan karena prinsip-prinsip empiris dengan cara yang paling radikal. Ia tidak menerima substansi dikarenakan yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa hal (Juhaya S. Praja, 2010: 112; Shand, J., 1993: 141). Ternyata pandangan David Hume ini lebih radikal jika dibandingkan dengan Berkeley. Hal ini disebabkan karena tidak adalah objek yang ada di dunia bisa berinteraksi dengan kita melainkan hanya melalui pengalaman kita dengan objek tersebut.


S.        Immanuel Kant
Immanuel Kant lahir sekitar tahun 1724 di Prussian dan meninggal sekitar tahun 1804. Abad ke-18 adalah abad pencerahan bagi hampir semua negara di Eropa. Di Jerman, zaman pencerahan disebut Aufklarung, sedangkan di Inggris disebut dengan Enlightenment. Di Prancis, muncul beberapa ensiklopedis materialis seperti Voltaire, Charles De Montesque, dan Jean Jaqcues Rousseau yang amat terkenal dengan teori kontrak sosialnya. Sedangkan di Jerman muncul seorang filsuf besar yang melebihi zaman pencerahan, dia adalah Immanuel Kant. Dia lahir di Konigserg, Prusia Timur, Jerman pada tahun 1724 dan meninggal sekitar tahun 1804. Filsafat yang dikenal dengan kritisisme adalah filsafat yang diintrodusir oleh Immanuel Kant. Ciri-ciri kritisisme adalah 1) Menganggap bahwa objek pengenalan berpusat pada subjek dan bukan  pada objek. 2) Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui hakikat sesuatu. Dan 3) Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu diperoleh berdasarkan perpaduan antara peranan unsur Anaximenes priori yang berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu dan peranan unsur aposteriori yang berasal dari pengalaman yang berasal dari pengalaman yang berupa materi (Juhaya S. Praja, 2010: 113-114; Shand, J., 1993: 160).
Ada hal menarik yang bisa kita kaji pada kritisisme yang diungkapkan Immanuel Kant, terutama poin kedua dan ketiga. Mengenai poin kedua, sungguh kita memperoleh suatu pandangan bahwa rasio manusia memang bersifat terbatas. Hal ini mengajarkan bahwa apalah daya dan kemampuan rasio manusia untuk memikirkan segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Apalagi untuk memikirkan segala sesuatu yang berkaitan dengan hakikat sesuatu. Hal ini pun mengindikasikan kepada kita semua bahwa janganlah sekali-kali meletakkan rasio di atas segalanya karena rasio penuh dengan keterbatasan. Janganlah mengungkapkan segala sesuatu yang ada selalu dengan rasio karena kadang akan membawa kita kepada bahaya, apalagi ketika mengungkapkan sesuatu yang berkaitan dengan spiritual. Tanamkanlah iman yang kuat berupa selalu mengingat ALLAH dan meletakkannya sebagai pedoman ketika kita berusaha untuk mengungkapkan sesuatu. Dan berhentilah menggunakan rasio ketika sudah melewati batas. Rasio tetaplah rasio dan memiliki keterbatasan, itulah kodrat yang harus kita terima.
Berlanjut kepada pandangan ketiga mengenai pengenalan sesuatu. Pengenalan sesuatu itu kita anggap saja sebagai ilmu. Sungguh, ini adalah pandangan terhebat seorang Immanuel Kant bagi saya. Dia berhasil menemukan titik temu antara kedua hal yang berbeda, yaitu antara rasio (a priori) dan empiris (aposteriori). Dia mengungkapkan bahwa antara kedua hal tersebut sangatlah penting untuk mengenali sesuatu. Hal ini pun menurut saya adalah hal yang paling tepat jika kita implikasikan pada pembelajaran matematika di kelas. Gunakan pengalaman dan ide siswa untuk memulai suatu pembelajaran. Sungguh, siswa bukan merupakan botol kosong yang tanpa ide sedikitpun tentang suatu konsep meskipun tanpa pengalaman. Berusahalah untuk menggali ide dan pengalaman siswa sebelum kegiatan pembelajaran dimulai dan gunakan hal tersebut sebagai bahan pertimbangan utama dalam mengambil model atau metode pembelajaran yang akan diterapkan di kelas.
Dalam sumber lain dikatakan suatu pemikiran yang menurut saya sangat bagus dan dapat kita gunakan sebagai motto dalam belajar. Kant (Ahmad Tafsir, 2009: 159) menyatakan bahwa “Saya sudah menetapkan jalan yang pasti. Saya ingin belajar, tidak satu pun yang dapat menghalangi saya dalam mencapai tujuan itu.” Sungguh, kata yang bijak dan berpengaruh besar dari seorang filsuf bijak dan besar. Belajar adalah esensi hidup. Belajar adalah tujuan hidup. Belajar tidak mengenal umur. Belajar adalah tanpa batas. Belajar adalah ibadah. Belajar bisa dari siapa pun dan kapan pun. Bahkan kita pun tidak pernah bisa mengenal diri kita sendiri, melainkan belajar untuk mengenalnya. Sungguh, belajar yang benar-benar belajar adalah belajar mencari ridha ALLAH SWT dalam setiap aspek kehidupan kita. Semoga kita semua termasuk dalam orang-orang yang selalu berada di jalan ALLAH SWT dan selalu belajar. Amin.
Berlanjut membicarakan tentang filsafat Immanuel Kant. Menurut Kant, syarat utama suatu ilmu pengetahuan adalah bersifat umum dan mutlak dan memberikan pengetahuan yang baru (Juhaya S. Praja, 2010: 115). Dari sini, sebenarnya kita dapat menilai suatu ilmu apakah termasuk ilmu pengetahuan atau bukan. Pertama, tentukanlah apakah ilmu tersebut bersifat umum dan kebenarannya bernilai mutlak. Ilmu bersifat umum dimaksudkan bahwa ilmu bersifat objektif. Objektif di sini dimaksudkan bahwa ilmu tersebut haruslah memiliki kebenaran yang berlaku untuk umum, bukan hanya pada objek pembuat ilmu. Sedangkan mutlak dimaksudkan sebagai kebenaran yang tidak memiliki kontradiksi sedikit pun di dalam unsur-unsurnya. Langkah kedua adalah haruslah ilmu tersebut bersifat baru, bukan merupakan ilmu yang plagiat. Baru di sini dimaksudkan bukanlah sepenuhnya sesuatu yang benar-benar baru dan tidak pernah diungkapkan sebelumnya, melainkan bisa berupa perluasan terhadap suatu kajian ilmu pengetahuan untuk kemudian menghasilkan suatu teori baru. Jika salah satu saja dari kedua hal tersebut tidak bisa dipenuhi, maka ilmu tersbut bukanlah ilmu pengetahuan.
Ada hal yang perlu diingat, ilmu pengetahuan duniawi kadang tidaklah bisa memiliki kebenaran mutlak seperti yang dikatakan seorang Immanuel Kant. Hal ini disebabkan karena kesemua hal tersebut adalah hasil eksplorasi manusia. Sungguh, hanya ada satu kebenaran dan sumber ilmu dari segala ilmu, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Kant adalah satu-satunya filsuf yang berusaha untuk mendamaikan konflik antara rasionalisme dan empirisme. Dia mengatakan bahwa antara kedua hal tersebut sama-sama berat sebelah. Dan bahkan dia berusaha menjelaskan bahwa pengalaman manusia merupakan perpaduan antara sintesa unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori. Unsur apriori menurut Kant memainkan peranan bentuk dan unsur aposteriori memainkan peranan materi. Selain itu, ia berpendapat bahwa pengetahuan inderawi selalu ada dua bentuk apriori, yaitu ruang dan waktu. Jadi, ruang tidak merupakan “ruang dalam dirinya” dan waktu bukan merupakan suatu arus tetap yang di dalamnya bisa diciptakan penginderaan-penginderaan. Pendirian tentang pengenalan inderawi ini mempunyai implikasi yang penting. Kant mengatakan bahwa memang ada benda dalam dirinya tetapi selalu tinggal X yang tidak dikenal. Pemikiran inilah yang disebut sebagai kritik Kant terhadap Rasio murni (Juhaya S. Praja, 2010: 116-117).
Di samping mengenal rasio murni atu teoritis, dalam filsafat Kant dikenal juga istilah rasio praktis. Rasio praktis diartikan sebagai rasio yang mengatakan apa yang harus kita lakukan atau disebut juga rasio yang memberi perintah kepada kehendak kita. Kant menyebutkan bahwa ada tiga postulat mengenai rasio praktis, yaitu kebebasan kehendak, immortal jiwa, dan adanya ALLAH. Intinya, perbedaan mendasar antara rasio murni dengan rasio praktis adalah rasio praktis tingkatannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan rasio murni. Hal ini disebabkan karena apa yang tidak dapat ditemui atas dasar rasio teoritis harus diandaikan atas dasar rasio praktis. Sehingga tiga hal yang merupakan postulat dari rasio praktis tersebut tidaklah memiliki rasio teoritis, melainkan suatu kepercayaan (Juhaya S. Praja, 2010: 121-122).
Selanjutnya Kant (2010: 32) menyatakan bahwa:
In all judgements wherein the relation of a subject to the predicate is cogitated (I mention affirmative judgements only here; the application to negative will be very easy), this relation is possible in two different ways. Either the predicate B belongs to the subject A, as somewhat which is contained (though covertly) in the conception A; or the predicate B lies completely out of the conception A, although it stands in connection with it. In the first instance, I term the judgement analytical, in the second,synthetical. Analytical judgements (affirmative) are therefore those in which the connection of the predicate with the subject is cogitated through identity; those in which this connection is cogitated without identity, are called synthetical judgements. The former may be called explicative, the latter augmentative judgements; because the former add in the predicate nothing to the conception of the subject, but only analyse it into its constituent conceptions, which were thought already in the subject, although in a confused manner; the latter add to our conceptions of the subject a predicate which was not  contained in it, and which no analysis could ever have discovered therein.

Kita akan mencoba menganalisis pernyataan Kant di atas. Menurut pemahaman saya, Kant menyatakan bahwa pada suatu keputusan terdapat dua jenis hubungan antara subjek dengan predikat. Jika semua predikat B termasuk ke dalam subjek A, maka disebut sebagai keputusan analitik. Dan jika predikat B tidak termuat keseluruhannya pada subjek A, maka disebut keputusan sintetik. Keputusan analitik inilah yang sebenarnya sering disebut dengan hukum identitas dan keputusan sintetik inilah yang sering disebut dengan hukum kontradiksi. Hal ini disebabkan karena di dunia ini sungguh hanya terdapat dua kemungkinan hubungan antara suatu subjek dengan predikat, yaitu jika tidak bersifat samaatau identitas, maka pastilah bersifat berbeda atau kontradiksi.
Tidak ada hal yang bisa saya ungkapkan mengenai kritik Kant di atas. Bahasa yang digunakan adalah sangat tinggi dan belum bisa saya pahami. Semoga dikesempatan lain saya bisa memberikan pandangan tentang kedua kritik tersebut seraya saya menuntut ilmu lebih mendalam kepada guru besar saya, Prof. Dr. Marsigit, M. A.. Mohon maaf atas keterbatasan saya.

T.       George Wilhelm Friedrich Hegel
George Wilhelm Friedrich Hegel lahir di Stuttgart, Jerman pada tanggal 17 Agustus 1770 dan meninggal pada tahun 1831. Pada usia tujuh tahun Hegel memasuki sekolah latin. Hegel pada masa mudanya dikenal sebagai seorang yang telmi (telat mikir). Akan tetapi, meskipun dia telmi, Hegel adalah seorang yang rajin sehingga berimplikasi pada karirnya ke depan. Dia adalah seorang filsuf yang terkenal, seorang guru besar atau profesor dan sekitar satu tahun sebelum meninggalnya, dia menjadi rektor Universitas Berlin (Juhaya S. Praja, 2010: 128; Shand, J., 1993: 179).
Sebelum berlanjut ke pembahasan lain mengenai Hegel, ada hal yang penting yang perlu kita garis bawahi dari seorang George Wilhelm Friedrich Hegel, yaitu rajin. Peribahasa Indonesia pun mengatakan bahwa “rajin pangkal pandai.” Rajin adalah kunci keberhasilan. Seorang Hegel yang telmi pun bisa menjadi Profesor dan rektor diakibatkan rajin tersebut. Hegel telah mengajarkan kita dan memberikan bukti nyata kepada kita bahwa rajin adalah satu-satunya cara untuk terlepas dari kebodohan. Menurut saya, sungguh kita semua berada dalam kebodohan kecuali kita yang berusaha keluar dari kebodohan tersebut. Dan salah satu cara untuk keluar dari kebodohan tersebut adalah rajin.
Hegel sangat berkaitan erat dengan sejarah. Hal ini disebabkan karena Hegel sangat menonjol dalam menerapkan metode dialektisnya dalam sejarah. Menurut Hegel, realitas seluruhnya sebagai proses, yaitu sadarnya ruh absolute. Munculnya manusia mengakibatkan ruh sadar akan dirinya sendiri. Proses penyadaran ini berlangsung terus-menerus dalam sejarah sehingga akhirnya mencapai titik penghabisan. Perjalanan sesuatu yang terus-menerus dan mencapai suatu penghabisan inilah yang disebut metode dialektika bagi Hegel. Selain itu, Hegel menyatakan bahwa pada masa ini (abad ke-19 ketika itu) ruh sudah menjadi absolute. Hal ini disebabkan karena tidak ada sesuatu pada masa ini yang sifatnya benar-benar baru, melainkan pengulangan suatu sejarah lama (Juhaya S. Praja, 2010: 132).
Pendapat Hegel ini menurut saya ada benarnya juga. Memang sesuatu yang kita alami sekarang ini adalah suatu bentuk pengulangan kejadian-kejadian masa lalu. Maksudnya, kejadian yang ada sekarang ini merupakan kejadian yang pernah dialami di masa lalu dan bukanlah sesuatu yang tabu. Hal ini pun jika kita kaitkan dengan ajaran agama (ISLAM) sungguh mengandung kebenaran. Sebagai contoh, melakukan hal-hal yang bersifat sunnah. Sekarang bayangkan, semua yang kita lakukan sekarang ini sudah memiliki aturan-aturan. Aturan-aturan tersebut muncul dikarenakan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita. Tidak ada yang bisa menyangkal kebenaran dari Al-Hadits karena datangnya dari Rasulullah SAW. Sunnah tetaplah sunnah dan sudah bersifat mutlak menjadi aturan-aturan tambahan dalam semua aspek kehidupan. Tidak adalah satu aspek kehidupan yang bisa melepaskan diri dari hal-hal sunnah. Semua sudah ada aturannya di dalam Al-Hadits. Kemudian, adakah yang berani menyangkal kebenaran mutlak akan hal ini? Sungguh, nerakalah ganjarannya bagi orang yang ragu dan ingkar. Hal ini mengindikasikan bahwa semua aspek kehidupan yang ada sekarang ini sebenarnya sudah ada dari zaman dahulu dan pernah dialami oleh orang-orang sebelum kita. Kemudian dari hal ini pun kita dapat menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang ada sekarang ini merupakan pengulang dari sesuatu yang ada sebelumnya (zaman dahulu). Pengulangan dalam arti yang sedalam-dalam dan seluas-luasnya.

U.      William James
William James lahir di New York pada tahun 1842 dan meninggal pada tahun 1910. William James menyatakan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak. Tidak ada kebenaran yang berlaku umum, yang bersifat tetap, dan yang berdiri sendiri. Hal ini disebabkan karena pengalaman berjalan secara terus-menerus. Segala yang kita anggap benar dalam pengalaman itu belum tentu benar ke depannya karena sebenarnya apa yang kita anggap benar akan dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. William James dikenal sebagai seorang yang pragmatis. Nilai pengalaman bagi pragmatisme tergantung pada akibatnya. Sesuatu dalam pragmatism dianggap benar jika mampu bermanfaat bagi pelakunya dan mampu mendatangkan kekayaan-kekayaan hidup (Juhaya S. Praja, 2010: 2010).
Ada beberapa hal yang bisa kita soroti dari seorang William James, seperti pengalaman yang kita anggap benar sekarang belum tentu benar ke depannya. Sungguh hal ini mengajarkan kita akan arti keberadaan ruang dan waktu. Kebenaran kadang sangat bergantung kepada ruang dan waktu tersebut. Apa yang kita anggap benar sekarang belum tentu dianggap benar suatu saat nanti. Mungkin saja kebenaraan tersebut berubah sesuai dengan kebiasaan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Kebenaran sangatlah bergantung pada pandangan masyarakat. Bahkan sesuatu yang benar secara teori saja, bisa dianggap salah jika tidak sesuai dengan kebiasaan masayarakat, begitupun sebaliknya. Tidak ada kebanaran yang objektif ini pun bisa mengajarkan kita bahwa sesungguhnya di mana pun kita berada, maka berusahalah untuk menghargai atau mengikuti aturan yang ada di tempat tersebut. Hal ini disebabkan karena belum tentu hal yang kita anggap baik (kebiasaan di daerah asal) berlaku baik di daerah tempat tinggal kita sekarang. Berusahalah untuk saling menghargai masalah kebiasaan yang berkembang di suatu daerah dan gunakanlah jika kita menganggap hal tersebut baik. Sungguh, hanya ada satu kebenaran yang bersifat mutlak, yaitu kebenaran ajaran agama Islam.
Selanjutnya, ada hal lain yang bisa kita soroti dari seorang William james mengenai pragmatisnya. Sungguh, inilah yang disebut guru saya (Prof. Dr. Marsigit) sebagai salah satu dari empat serangkainya sang power now. Pragmatis meletakkan ranah spiritual di tingkatan bawah dan menganggap bahwa sesuatu yang benar itu adalah yang bermanfaat bagi dirinya sendiri. Sungguh, hal ini adalah kesalahan besar dan mereka (para kaum pragmatisme) inilah yang menimbulkan banyak kerusakan di dunia ini. Mereka tidak pernah peduli terhadap objek yang lain, mereka selalu meletakkan kebenaran berdasarkan pemikiran mereka, dan mereka selalu berusaha untuk menggoda semua orang agar termasuk di dalam kaumnya. Sungguh, dalam makalah ini, saya ingin mengatakan bahwa kaum pragmatisme, hedonisme, utilitarian, dan kapitalisme adalah dajjal yang siap menghancurkan dunia ini dengan segala tipu dayanya. Dan semoga kita semua tidak termasuk ke dalamnya dan kita termasuk orang yang selalu mengingat ALLAH SWT. Amin.

V.      Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Prof. Dr. Marsigit, M.A. lahir di Kebumen pada tanggal 19 Juli 1957. Beliau adalah seorang dosen pada Jurusan Pendidikan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (1983-sekarang). Beliau juga pernah menjabat dan bahkan sampai sekarang sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Matematika (1999-2003), Local Coordinator IMSTEP-JICA (1999-2003), Peneliti Ahli (Specialist Researcher) bidang Pendidikan Matematika untuk Negara-negara APEC (2003-sekarang), Ketua Divisi Pengembangan Penjaminan Mutu UNY (2008), Ketua Task Force World Class University (2008-2010), Penulis Buku Matematika SMP-SMA (2004-sekarang), Staf Ahli PR I UNY (2008-2009), dan Kepala Bidang Internal Kantor Internasional UNY (2010-sekarang). Beliau mendapatkan gelar profesor atau guru besar dengan bidang keahlian pembelajaran matematika terhitung mulai bulan Juli tahun 2012 (Marsigit, 2011: 1).
Sekarang beliau adalah dosen mata kuliah filsafat ilmu saya. Begitu banyak tulisan beliau, baik yang berkaitan dengan pendidikan matematika, maupun dengan filsafat. Tulisan beliau dapat langsung kita baca dengan mengikuti blog beliau. Berikut alamat blog beliau: http://powermathematics.blogspot.com/. Ikutilah blog tersebut, dan insyaALLAH kita akan mendapatkan banyak tulisan yang berkaitan dengan filsafat, terutama filsafat pendidikan matematika dan sains yang sangat bermanfaat bagi kita semua, baik sebagai mahasiswa, maupun sebagai guru atau pengajar.
Banyak tulisan beliau yang sudah saya baca, terutama yang berada di dalam blog tersebut. Dan sungguh saya merasakan ada perbedaan yang insyaALLAH berguna bagi diri saya setelah membaca tulisan-tulisan tersebut. Beliau mengajarkan saya bahwa hati (yang ber-Tuhan-kan ALLAH SWT dan ber-Rasul-kan MUHAMMAD SAW) adalah pedoman utama dalam belajar filsafat. Ketika pikiran kita sudah tidak mampu untuk memikirkan segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, maka kembalikanlah semua hal tersebut ke hati. Dan sungguh kita akan menyadari bahwa itulah keterbatasan kita sebagai seorang hamba, keterbatasan pikiran kita yang tidak mungkin mampu menjelaskan semua fenomena yang ada di hati.
Ada hal yang sangat menarik yang insyaALLAH akan sangat berguna bagi saya dari pengajaran yang dilakukan Prof. Dr. Marsigit, M.A. bahwa ternyata saya menemukan bahwa pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan melaui tatap muka langsung di kelas saja, melainkan melalui dunia imajiner dengan memanfaatkan internet. Dunia imajiner diartikan sebagai dunia pembelajaran yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Beliau mengajarkan kepada saya bahwa pembelajaran bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan secara kontinu dengan membuka blog beliau untuk kemudian membaca tulisan-tulisan yang ada di sana. Karena sungguh, cara meningkatkan kemampuan berfilsafat atau membangun dunia kita dalam filsafat hanyalah dengan cara: baca, baca, baca, dan baca, dan baca, dan baca, dan baca lagi, dan baca lagi, dan baca lagi, dan begitulah seterusnya, terutama membaca pikiran para filsuf. Dan sungguh, bagi saya, Prof. Dr. Marsigit, M.A. adalah seorang filsuf. Ada istilah menarik yang akan banyak kita temui dalam tulisan beliau tersebut, yang disebut elegi. Elegi tersebut menurut saya merupakan kata yang mencerminkan pikiran beliau yang di dalamnya mengandung suatu ungkapan kepedulian beliau terhadap suatu objek filsafat.
Dari sekian banyak tulisan beliau, ada hal yang paling menarik menurut saya dan mungkin akan sangat bermanfaat bagi semua kita, terutama mahasiswa yang menempuh mata kuliah filsafat ilmu. Dalam salah satu blog yang berjudul Forum Tanya Jawab 55: Tentang Tes Filsafat 1, diperoleh beberapa kesimpulan bahwa:
1.      Filsafat yang obyeknya di luar pikiran adalah realism.
2.      Filsafat yang obyeknya di dalam pikiran adalah idealism.
3.      Filsafat yang dibangun berdasarkan rasio adalah rasionalisme.
4.      Filsafat yang dibangun di atas pengalaman adalah empirisisme.
5.      Filsafat dimana nilai kebenarannya bersifat mutlak adalah absolutisme.
6.      Filsafat dengan nilai kebenaran koheren adalah koherentisme.
7.      Filsafat dengan obyek benda-benda alam adalah filsafat alam atau naturalisme.
8.      Filsafat yang berlandaskan keraguan adalah skeptisisme.
9.      Filsafat yang mempelajari logika para Dewa adalah transendentalisme.
10.  Filsafat dimana hakekatnya adalah materi adalah materialism.
11.  Filsafat yang mengatasi segala ramalan dan prakiraan adalah teleologi.
12.  Nama lain Filsafat Bahasa adalah analitik.
13.  Filsafat pertama adalah filsafat alam.
14.  Filsafat hidup adalah pilihan adalah reduksionalisme.
15.  Filsafat yang kebenarannya berdasar asas manfaat adalah utilitarian.
16.  Filsafatnya yang hanya mengejar kenikmatan dunia adalah hedonism.
17.  Filsafatnya yang dibangun berdasarkan asas permodalan adalah kapitalisme.
18.  Filsafat yang berdasarkan atas kriteria diri adalah individualtisme.
19.  Filsafat yang kebenarannya memerlukan konfirmasi orang lain adalah obyektivisme.
20.  Filsafat yang menggunakan permulaan adalah foundationalisme.
21.  Filsafat yang tidak menggunakan permulaan adalah intuitionalisme.
22.  Filsafat yang tidak mau berhenti adalah infinite regress.
23.  Kausa Prima adalah Tuhan.
24.  Filsafat dari khusus menuju umum adalah induktionisme.
25.  Filsafat yang berkaitan dengan ketiadaan adalah nihilisme.
26.  Filsafat dimana yang ada adalah “satu” adalah monoism.
27.  Filsafat dimana yang ada adalah “dua” adalah dualisme.
28.  Filsafat dimana yang ada adalah “banyak” adalah pluralisme.
29.  Filsafat yang hobinya menentukan nasib orang lain adalah determinisme.
Ada beberapa hal yang perlu diingat di sini bahwa yang poin-poin di atas bukanlah untuk dihapalkan, melainkan untuk dimengerti, untuk kemudian dihayati, untuk kemudian diperbincangkan, untuk kemudian diperbincangkan, dan untuk kemudian dihidupkan (Marsigit, 2012: http://powermathematics.blogspot.com/).
Inilah sekiranya salah satu dari sekian banyak tulisan Prof. Dr. Marsigit, M.A. yang bisa saya tampilkan dalam makalah ini. Akhirulkalam, dalam kesempatan ini saya selaku murid ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Prof. Dr. Marsigit, M.A. yang telah memberikan banyak sekali ilmu dan bekal filsafat kepada saya. Dan semoga ini semua dapat bermanfaat bagi saya ke depannya dan saya bisa membangun dunia filsafat saya sendiri. Amin. Dan tidak lupa pula, permohonan maaf yang sedalam-dalam dan seluas-luasnya dari saya untuk beliau jika sekiranya ada kata, tulisan, dan perbuatan yang kurang berkenan terhadap beliau. Itu semua semata-mata karena kekhilafan saya dan dapat saya perbaiki kedepannya. Amin.
Sebelum mengakhiri makalah ini, saya ingin mengatakan bahwa sungguh semua kata-kata dalam tulisan ini, mulai dari pendahuluan, sampai pada akhir makalah ini secara tidak langsung adalah hasil dari pembelajaran saya pada perkuliahan Prof. Dr. Marigit, M.A.. Dan sungguh beliau adalah inspirasi saya dalam berfilsafat. Dan sekali lagi saya ingin mengucapkan dua kata untuk beliau, “terima kasih.”



BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pendahuluan dan pembahasan dalam makalah ini, maka dapat disimpulkan beberapa hal penting dalam filsafat, antara lain:
1.        Teguhkanlah hati kita dalam cahaya ISLAM yang ber-Tuhan-kan ALLAH SWT dan ber-Rasul-kan MUHAMMAD SAW sebelum mempelajari filsafat.
2.        Hidup adalah filsafat. Oleh karena itu, mempelajari filsafat adalah hal penting yang harus dilakukan oleh semua kita.
3.        Objek filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada.
4.        Metode filsafat adalah hermeneutika.
5.        Filsafat adalah berpikir refleksif yang bersifat sedalam-dalam dan seluas-luasnya.
6.        Filsafat bisa dilakukan oleh siapa pun di dunia ini, selama mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup tentang suatu objek.
7.        Filsafat adalah para filsuf dan pikirannya.
8.        Thales menyatakan bahwa air adalah unsur utama dari alam semesta.
9.        Anaximander menyatakan bahwa apeiron adalah unsur utama dari alam semesta.
10.    Anaximenes menyatakan bahwa udara adalah unsur utama dari alam semesta.
11.    Pythagoras menyatakan bahwa titik tengah antara dua hal yang bertentangan adalah bentuk keserasian dalam alam semesta.
12.    Herakleitos menyatakan bahwa dunia tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir.
13.    Parmenides menyatakan bahwa yang realitas dalam alam semesta ini hanya satu, tidak bergerak, dan tidak berubah.
14.    Zeno mengungkapkan bahwa alam semesta terdiri atas empat substansi, yaitu air, udara, api, dan tanah.
15.    Anaxogras menyatakan bahwa timbul dan hilang itu ada dan digerakkan oleh Nus.
16.    Socrates mengatakan bahwa tidak semua kebenaran itu bersifat relative, melainkan ada yang mutlak.
17.    Plato mengatakan bahwa kebenaran yang umum itu adalah yang berada di alam ide.
18.    Aristoteles mengartikan bahwa logika adalah silogisme.
19.    Thomas Aquinas mengatakan bahwa Tuhan dapat diketahui dengan akal.
20.    Rene Descartes adalah seorang filsuf yang selalu mengandalkan rasio dengan menggunakan metode skeptic dalam membuktikan suatu kebenaran.
21.    De Spinoza adalah seorang filsuf rasionalis yang selalu meletakkan definisi-definisi di awal pembuktian suatu kebenaran.
22.    John Locke adalah tokoh empiris yang menganggap bahwa pengalaman adalah awal kemunculan suatu ilmu.
23.    Gottfried Wilhelm von Leibniz mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini adalah berbeda.
24.    George Berkeley berpendapat bahwa sama sekali tidak ada substansi-substansi material, yang ada hanyalah pengalaman dalam ruh saja.
25.    David Hume tidak menerima subtansi dikarenakan yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa hal.
26.    Immanuel Kant adalah seorang criticism yang menyatakan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu adalah perpaduan antara unsur-unsur a priori dan aposteriori.
27.    George Wilhelm Friedrich Hegel menyatakan bahwa ruh sudah menjadi absolute karena tidak ada satu apa pun pada masa sekarang ini yang bersifat baru, melainkan pengulangan suatu sejarah lama.
28.    William James menyatakan bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak.
29.    Prof. Dr. Marsigit, M.A. menyatakan bahwa tetapkanlah hati (yang ber-Tuhan-kan ALLAH SWT dan ber-Rasul-kan MUHAMMAD SAW) sebagai pedoman utama sebelum mempelajari filsafat.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir. (2009). Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT. Remaja. Rosdakarya.

Crome, K. (2005). Socrates and Sophistry. Richmond Journal of Philosophy 9, 1-7.

Frater, O. L. (2006). The Pythagorean Philosophy of Numbers. Spelendor Solis, Vol. V, 19-21.

Hansen, M. J. (2010). Plato’s Parmenides: Interpretations and Solutions to the Third Man. Aporia, vol. 20, no. 1, 65-75.

Juhaya S. Praja. (2010). Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Kencana.

Kant, I. (2010). The Critique of Pure Reason. (Terjemahan Meiklejohn, J.M.D.). Harrisburg: University State Pennsylvania. (Buku asli diterbitkan tahun 1781).

Knierim, T. (tth). Pre-Socratic Greek Philosophy. Greek Philosophy,www.thebigview.com, 1-25.

Marsigit. (2011). Daftar riwayat hidup (on-line).

______. (2012). Phylosophy, Psychology, Spiritual, Character, Mathematics Education, Lesson Study, Indonesia. http://powermathematics.blogspot.com/.

Rapar, J.H. (2002). Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Shand, J. (1993). Philosophy and Philosophers: An Introduction to Western Philosophy. London: University Collage London Press Limited.

Stamatellos, G. (2012). Parmenides, Plato, and Mortal Philosophy: Return from Transcendence. The International Journal of the Platonic Tradition 6, 219-249.

Strub, W. (tth). Anaximander’s Boomerang: Tracing the Return of a Pre-Socratic Notion. Departement of Philosophy, 133-145.

Venugopalan, A. (2007). The Quantum Zeno Effect-Watched Pots in the Quantum World. Resonance, 52-68.