BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Hidup adalah
filsafat. Inilah sekiranya kalimat pertama yang ingin saya ucapkan dalam makalah
ini. Saya mengatakan hal tersebut, bukan tanpa alasan, melainkan memiliki
alasan, yaitu tidak ada satu apa pun di dunia ini yang mampu terlepas dari
filsafat. Filsafat, jika kita lihat secara ruang lingkup, maka filsafat
memiliki ruang lingkup yang sangat besar karena objek yang dipelajarinya
meliputi segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Selain itu, filsafat mempelajari
kedua objek tersebut dengan sedalam-dalam dan seluas-luasnya. Selanjutnya,
filsafat memandang segala sesuatu dalam dimensinya, baik dalam dimensi ruang,
maupun dimensi waktu. Tidak ada sesuatu apa pun di dunia ini yang dapat
terbebas dari kedua dimensi ini. Sehingga perlu kiranya semua kita bisa
memahamai kedua dimensi tersebut. Untuk dapat memahami dimensi ruang, maka
pergunakanlah dimensi waktu, dan untuk memahami dimensi waktu, maka
pergunakanlah dimensi ruang. Hal ini pun mengindikasikan bahwa antara kedua
dimesni ini tidaklah bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Mengingat hidup
adalah filsafat, maka sangatlah penting kiranya kita untuk mempelajarinya. Akan
tetapi, ada satu hal yang perlu kita tekankan sebelum kita mempelajari
filsafat, yaitu tetapkanlah terlebih dahulu hati kita dalam cahaya islam yang
ber-Tuhan-kan ALLAH SWT dan ber-Rasul-kan MUHAMMAD SAW. Hal ini disebabkan
karena filsafat bukanlah ilmu yang kecil, melainkan ilmu yang besar yang
tingkatannya berada di bawah ilmu spiritual dan berada di atas ilmu bidang dan
ilmu aplikasi. Sesuatu yang besar tidaklah bisa terlepas dari manfaat dan
bahaya yang besar juga. Oleh karena itu, untuk menghindarkan kita akan bahaya
dari filsafat, maka selalu gunakan hati kita sebagai pedoman agar tidak pernah
sedikit pun menyinggung ranah spiritual. Menyinggung ranah spiritual berarti
iblis yang siap menjerumuskan kita ke dalam neraka dan azab-Nya. Adapun
proporsi mempelajari filsafat dengan spiritual (ibadah) adalah 1 : 10. Artinya,
ketika kita mempelajari satu tentang filsafat, maka pelajarilah sepuluh tentang
spiritual atau beribadahlah dalam sepuluh kali lipat dari biasanya.
Filsafat adalah
separuh pengalaman dan separuh logika. Artinya, kita tidak mungkin
dapat berfilsafat mengenai sesuatu hal jika kita tidak memiliki pengalaman dan
logika mengenai sesuatu hal tersebut. Dalam berfilsafat, tidaklah kita harus
memiliki logika, meliputi pengetahuan yang purna tentang sesuatu hal. Akan
tetapi, dalam berfilsafat pun, kita tidak boleh memilki pengetahuan yang
terlalu sedikit tentang sesuatu hal. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak asal
sembarang berbicara tentang sesuatu hal, melainkan memiliki alasan yang
melandasinya. Dalam filsafat, jawaban akhir mengenai benar dan salahnya sesuatu
tidaklah terlalu dipentingkan, melainkan yang dipentingkan adalah alasan atau
penjelasan tentang jawaban akhir tersebut. Hal ini pun, mengindikasikan bahwa
filsafat bisa dilakukan oleh siapa pun, dimana pun, dan kapan pun asalkan kita
memiliki pengalaman dan logika tentang sesuatu hal tersebut. Dari sini, kita
pun dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya filsafat adalah penjelasan.
Selanjutnya, filsafat dapat
diartikan sebagai suatu pola pikir yang reflektif. Pola pikir reflektif yang
bersifat intensif (sedalam-dalamnya) dan ekstensif (seluas-luasnya). Dalam
berfilsafat, bahasa yang digunakan adalah bahasa analog. Bahasa analog adalah
bahasa yang tingkatannya jauh lebih tinggi di atas bahasa kiasan. Akan tetapi,
hal ini tidaklah bersifat selamanya karena filsafat pun dapat diungkapkan dalam
bahasa biasa (common sense). Biasanya
bahasa seperti ini digunakan oleh orang-orang awam dalam berfilsafat. Filsafat
dapat diawali dengan beberapa kegiatan, seperti kegiatan membaca, diskusi,
bertanya, berkomunikasi, dan lain sebagainya. Dan satu-satunya cara agar kita
dapat meningkatkan kemampuan berfilsafat adalah baca, baca, baca, baca lagi,
baca lagi, baca lagi, dan baca lagi, dan baca lagi, dan baca lagi, dan begitu
pun seterusnya, terutama membaca pikiran para filsuf. Oleh karena itu, filsafat
pun dapat dikatakan sebagai para filsuf dan pikirannya. Ada pun metode dalam
berfilsafat adalah hermeneutika yang diartikan sebagai metode menterjemah dan
diterjemahkan. Semua objek filsafat (yang ada dan mungkin ada) untuk dapat
dipahami, maka kita haruslah mampu menterjemahkannya dan diterjemahkan oleh
objek-objek tersebut.
Musuh utama filsafat adalah
mitos, meskipun mitos juga merupakan salah satu bagian dari filsafat. Mitos
merupakan hal yang sangat ditakuti dalam filsafat karena akan membawa kita ke
dalam kehidupan yang hanya menerima sesuatu tanpa pernah berusaha untuk
membuktikan kebenarannya. Adapun ketika mitos tersebut sudah dapat kita
buktikan kebenarannya, mak mitos tersebut pun akan berubah menjadi logos. Atau
dengan kata lain logos adalah anti-tesis atau kontradiksi dari mitos.
Filsafat menganggap segala
sesuatu yang ada dan mungkin tidak akan pernah bersifat mutlak, melainkan
relatif. Relatif tergantung dimensi ruang dan waktu sesuatu itu berada. Hal ini
pun mengindikasikan bahwa segala sesuatu yang ada dan mungkin ada pasti memilki
anti-tesis. Contohnya, jika tesisnya adalah hidup, maka anti tesisnya adalah
mati, jika tesisnya adalah diam, maka anti-tesisnya adalah bergerak, dan
begitupun seterusnya. Akan tetapi, hanya ada satu hal yang tidak memiliki
anti-tesis dalam dunia ini, yaitu ALLAH SWT.
Dalam filsafat,
seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa filsafat memandang segala
sesuatu yang ada dan mungkin ada dalam dua dimensi, yaitu dimensi ruang dan
dimensi waktu. Dalam dimensi ruang, dikenal empat tingkatan ruang, yaitu ruang
material, ruang formal, ruang normatif, dan ruang spiritual. Dan sebenar-benar
ruang adalah intuisi. Sehingga untuk memahami ruang adalah dengan menggunakan
intuisi. Cara mengekstensikan ruang adalah dengan menggunakan analogi.
Sedangkan untuk mengintensikannya kita menggunakan abstraksi atau reduksi.
Dalam dimensi waktu, kita kenal dua sistem waktu, yaitu sistem A (kemarin,
sekarang, dan akan datang) dan sistem B (sebelum, peristiwa, dan sesudah).
Selanjutnya, antara ketiga unsur sistem waktu tersebut, terdapat sifat-sifat
yang melekat di dalamnya, yaitu urutan, berkelanjutan, dan kesatuan.
Berdasarkan atas
pemaparan di atas, maka ada satu hal yang menjadi titik tolak yang sangat
menarik bagi saya dalam filsafat, yaitu baca. Hal ini disebabkan karena dalam
Al-Qur’an pun, kata pertama yang diturunkan adalah iqra’ yang berarti bacalah. Janganlah sekali pun kita menganggap
diri kita islam, jika kita tidak pernah membaca Al-Qur’an. Begitu pun dengan
filsafat, janganlah sekali pun kita menganggap diri kita belajar filsafat, jika
kita tidak pernah membaca pikiran para filsuf. Membaca pikiran para filsuf
dapat dilakukan dengan cara membaca sumber primer, sumber sekunder, sumber
tersier, dan begitupun selanjutnya. Membaca sumber primer diartikan sebagai
membaca langsung pikiran para filsuf langsung dari tulisan mereka. Membaca
sumber sekunder diartikan sebagai membaca pikiran para filsuf dari tulisan orang
lain yang mengutip langsung dari tulisan para filsuf. Sedangkan membaca sumber
tersier diartikan sebagai membaca
pikiran para filsuf dari tulisan orang lain yang mengutip dari tulisan orang
lain yang mengutip langsung dari tulisan para filsuf. Begitu pun seterusnya.
Oleh karena itu, saya dalam makalah ini akan coba menyajikan beberapa orang
filsuf dan pikirannya dari beberapa sumber yang dimaksud.
Sebelum
melanjutkan penulisan makalah ini, ada satu hal yang sangat penting untuk saya
utarakan, yaitu mengenai permintaan maaf saya sekiranya dalam makalah ini, saya
tidak menyebutkan gelar-gelar yang dimilki oleh para filsuf tersebut. Padahal
mereka semuanya itu adalah profesor-profesor atau guru besar-besar dalam
filsafat. Mohon maaf atas tidak ada pengucapan gelar tersebut dan terima kasih
atas perkenaannya.
B.
TUJUAN
PENULISAN
Adapun tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk memberikan beberapa contoh filsuf beserta
pikirannya. Filsafat, khususnya filsafat ilmu, tidak akan pernah bisa menjadi
seperti sekarang ini tanpa perantara mereka semua. Begitupun dengan ilmu
pengetahuan, tidak akan pernah bisa berkembang menjadi seperti sekarang ini
tanpa perantara mereka juga. Dengan adanya pikiran mereka mengenai segala
sesuatu yang ada dan mungkin ada telah mampu membuka pikiran semua orang
mengenai filsafat. Dan secara otomatis, hal ini akan berdampak positif, baik
terhadap filsafat itu sendiri, maupun terhadap segala sesuatu di luar filsafat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Thales
Masa hidup
Thales sekitar tahun 624-546 SM. Thales merupakan salah satu dari anggota The Seven Wise Men, yaitu orang-orang
yang bijaksana, orang-orang yang sering memberikan petuah-petuah pendek.
Petuahnya bisa meliputi: kenalilah dirimu, ingat akhirnya, dan jangan
belebih-lebihan. Di luar masalah mengenai masa hidupnya, Thales merupakan orang
pertama yang berfilsafat sehingga dia dikenal sebagai Bapak Filsafat. Gelar ini
dia peroleh karena menanyakan pertanyaan mendasar yaitu, “What is the nature of the world stuff?”. Apakah sebenarnya unsur
utama dari alam semesta, begitulah sekiranya maksud dari pertanyaan ini. Thales
pun menjawab pertanyaannya ini dengan menyatakan bahwa sebenarnya unsur dari
alam semesta ini adalah air (Ahmad Tafsir, 2009: 48; Knierim, T, tth: 2; Strub,
W., tth: 133).
Seperti yang
kita ketahui, air merupakan unsur yang sangat penting bagi hidup kita.
Bayangkan, apa yang dapat kita lakukan jika tidak ada air? Air ada yang berada
di dalam diri kita dan di luar diri kita. Kita sering mengenal istilah
dehidrasi untuk menyatakan kekurangan cairan dalam badan kita. Ketika hal
tersebut terjadi, sungguh orang akan terlihat lemas dan kurang bisa melakukan
apa-apa. Sehingga untuk memulihkan kondisi badan, seseorang tersebut memerlukan
minuman tambahan berupa, air mineral dan sejenisnya. Kembalikan ke permasalah
membayangkan di awal, apa yang terjadi jika tidak ada air. Bisakah kita
membayangkan dalam kehidupan sehari-hari kita membutuhkan air mineral untuk
memulihkan kondisi badan tetapi tidak ada. Selain itu, seperti yang diketahui
bersama bahwa awal penciptaan manusia pun berasal dari setetes air, yaitu air mani.
Tidak akan pernah ada manusia di muka bumi ini tanpa adanya air tersebut.
Air yang ada di
luar tubuh pun, banyak jenisnya dan sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan.
Air kita gunakan untuk masak, mandi, mencuci, mengairi sawah, dan lain
sebagainya. Tidak akan kita bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari jika air tidak
ada. Sehingga dapat kita katakana bahwa air merupakan unsur yang sangat penting
bagi kehidupan. Mungkin ini merupakan salah satu alasan mengapa Thales
mengatakan bahwa unsur dari alam semesta ini merupakan air berdasarkan manfaat
dari air tersebut.
B.
Anaximander
Anaximander
lahir pada tahun 610 SM dan meninggal pada tahun 546 SM. Anaximandros atau
Anaximander adalah seorang murid Thales. Thales menyatakan bahwa alam semesta
ini berasal dari air tetapi Anaximander mengatakan berbeda. Dia mengatakan
bahwa asal alam berasal dari to apeiron,
yaitu yang tak terbatas. Apeiron tidak
dapat dirupakan dan tidak memiliki batasan atau kontradiksi. Akan tetapi, satu
hal yang perlu ditekankan bahwa sebenarnya Anaximander pun menganggap bahwa unsur
dari alam semesta adalah satu. Untuk lebih memahami mengenai masalah
keterbatasan, berikut saya berikan beberapa contoh. Air batasnya api, dingin
batasnya panas, cair batasnya beku, begitulah seterusnya. Akan tetapi, jika
kita menggunakan pengandaian seperti contoh tersebut, tidak adalah unsur dari
alam semesta itu dapat dijelaskan. Semua yang ada dan mungkin ada di alam
semesta ini pasti memiliki batasan, setiap tesis memiliki anti tesis, dan
setiap objek memiliki subjek, dan begitulah dengan sesuatu yang ada dan mungkin
ada yang lain. Jadi, dapat disimpulkan dari pernyataan ini bahwa sebenarnya apeiron itu bersifat ilahi, abadi tidak
dapat dirubah dan meliputi segala hal (Juhaya S. Praja, 2010: 75-76; Knierim,
T., tth: 5).
Dari sumber
lain, didapatkan bahwa sebenarnya Anaximander menyatakan bahwa unsur atau asal
dari alam semesta adalah udara (Ahmad Tafsir, 2009: 48). Sebenarnya, jika kita
kaitkan antara pernyataan pertama mengenai asal dari alam semesta adalah apeiron (yang pada dasarnya tidak dapat dirupakan)
dengan udara, memang terlihat kesamaan, yaitu udara tidak dapat dirupakan atau
dilihat langsung oleh panca indera, mata. Akan tetapi, jika kita mengartikan
sebagai apeiron sebagai tak terbatas,
sungguh udara bukanlah termasuk di dalamnya. Udara bersifat terbatas, karena
batas dari udara adalah hampa udara. Sering kita dengar mengenai istilah ini
dalam astronomi. Ketika ilmuan-ilmuan astronomi menggunakan ruang hampa udara
untuk simulasi. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa udara bukanlah apeiron yang dimaksudkan anaximandros.
Berikut
penjelasan Anaximander mengenai terjadinya bumi. Menurut Anaximander, berangkat
dari apeiron keluarlah panas dan dingin. Yang panas membalut yang dingin. Dari
yang dingin keluarlah yang cair dan yang beku. Yang beku inilah yang kemudian
membentuk bumi. Api yang membalut yang dingin inipun dikatakan Anaximander,
pecah menjadi pecahan-pecahan. Pecahan-pecahan kemudian berputar dan
terpisah-pisah sehingga terbentuklah benda langit yang lain, seperti matahari,
bulan, dan bintang-bintang. Kemudian untuk poses terbentuknya laut, Anaximander
menjelaskan bahwa bumi pada awalnya dibalut oleh uap yang basah. Yang basah ini
pun berangsur-angsur menjadi kering diakibatkan perputaran terus menerus. Akan
tetapi, perputaran tersebut tidak mengakibatkan uap basah tersebut kering
secara total dan menghasilkan sisa berupa uap basah juga. Sisa uap basah inilah
yang sebenarnya disebut sebagai laut.
Mengenai terjadinya mahluk di bumi, Anaximander menjelaskan bahwa atas
dasar bumi dilapisi oleh uap-uap basah, dia mengatakan bahwa bumi diliputi oleh
air semata. Dari pendapat ini, dia juga mengatakan bahwa mahluk hidup yang
pertama adalah mahluk hidup yang berada di air, seperti ikan. Karena perputaran
terus menerus, bumi pun semakin kering dan membentuk daratan. Hal ini pun,
memaksa mahluk hidup yang ada di air itu untuk bermigrasi ke daratan. Sehingga
Anaximander pun mengatakan bahwa
sebenarnya asal mula dari manusia adalah ikan (Juhaya S. Praja, 2010: 76-77;
Strub, W., tth: 113).
C.
Anaximenes
Masa hidup Anaximenes
berkisar antara tahun 585-528 SM. Anaximenes adalah seorang murid dari
Anaximandros. Sumber yang saya dapatkan menyatakan bahwa Anaximenes adalah
orang yang menyatakan bahwa alam semesta berasal dari udara. Terlepas dari
permasalahan siapakah yang mengatakan hal tersebut dan siapakah sebenarnya yang
benar, akan saya berikan mengapa Anaximenes menyatakan bahwa unsur dari alam
semesta adalah udara. Anaximenes menyatakan bahwa alam semesta berasal dari
udara didasarkan pada beberapa alasan, seperti udara ada di mana-mana, tidak
adalah sesuatu yang di dunia ini yang tidak terdapat udara di dalamnya, udara
tidak berkesudahan dan tidak berkeputusan; udara tidak pernah berhenti, udara
selalu bergerak secara kontinu sehingga tidak ada satu apa pun kejadian atau
perubahan di dunia ini tidak dipengaruhi oleh udara; dan udara adalah unsur
kehidupan, tidak ada satu pun mahluk di dunia ini yang mampu hidup tanpa udara.
Udara menjadi sebab terjadinya alam semesta, udara bisa rapat dan bisa jarang.
Ketika udara jarang, maka terbentuklah api. Ketika udara rapat, maka
terbentuklah angin dan awan. Ketika udara itu makin rapat lagi, maka
terbentuklah hujan dari awan tersebut. Hujan menghasilkan air dan air
menghasilkan tanah. Dan tanah yang sangat rapat akan menjadi batu. Anaximenes
dalam buku yang sama juga menyatakan mengenai asal manusia. Dia menyatakan
bahwa manusia berasal dari sesuatu yang tak terbatas dan satu yang disebut
jiwa. Jiwa disini sama dengan udara. Jiwa mengikat segala sesuatu yang ada di
tubuh manusia agar tidak bercerai-berai. Sehingga jika jiwa keluar dari diri
manusia, maka akan mengakibatkan bagian tersebut menjadi bercerai-berai dan
hancur. Yang demikian inilah yang disebut dengan mati. Intinya, tanpa jiwa
tidak adalah manusia itu (Juhaya S. Praja, 2010: 78).
Anaximenes, jika
kita bandingkan dengan Anaximdros memiliki kesamaan dalam mengatakan bahwa alam
semesta itu berasal dari satu dan tak terbatas. Akan tetapi, kita menemukan
sesuatu yang baru dalam Anaximenes, yaitu istilah jiwa. Kita dapat melihat,
bahwa sebenarnya Anaximenes memisahkan alam semesta menjadi dua bagian, yaitu
alam dan manusia Alam terbentuk dari
udara dan manusia dari jiwa. Bagi Anaximenes udara adalah jiwa dan jiwa adalah
udara.
D.
Pythagoras
Pythagoras hidup
sekitar tahun 571-497 SM. Dia lahir di Samos dan bermigrasi ke daerah Grik di
bagian selatan Italia sekitar tahun 529 SM. Pythagoras adalah seorang filsuf
yang bersifat loyal terhadap golongan aristocrat dan bersifat sangat oposisi terhadap
pemerintahan tirani di bawah pemerintahan Plykrates. Disebabkan sifat
oposisinya ini, Pythagoras akhirnya bermigrasi kembali ke kota Krotona. Di
sana, dia mendirikan sebuah perkumpulan tarekat atau agama yang dinamai mazhab
Pythagorean yang dipengaruhi oleh aliran mistik yang disebut Orfisme. Aliran
ini adalah aliran yang mempercayai tentang kebatinan atau jiwa. Pythagoras
mengajari mengenai inkarnasi. Inkarnasi diartikan sebagai jiwa manusia yang
tidak pernah mati. Ketika manusia mati, maka jiwanya akan berpindah kepada
hewan. Dan jika hewan itu mati, maka jiwa itu akan berpindah ke hewan lain dan
begitupun seterusnya. Agar jiwa suci manusia tersebut tidak berpindah ke hewan,
maka diperlukan suatu acar pensucian jiwa yang dapat dilakukan dengan tidak
memakan makanan tertentu, seperti ikan, daging, dan kacang. Ajaran ini pun
mengajarkan mengenai hidup bersahaja dan berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Pythagoras
adalah seorang matematikawan. Dia tidak terlalu tertarik untuk memikirkan
mengenai asal alam semesta tetapi lebih banyak memikirkan mengenai hubungan
antara berbagai macam benda, terutama yang berhubungan dengan bentuk dan
hubungan yang bersifat kuantitatif. Bahkan dia beranggapan bahwa angka
merupakan suatu prinsip terhadap segala sesuatu yang ada. Pythagoras menekankan
bahwa di balik sesuatu itu, pasti terdapat bilangan. Kemudian, dia membagi
bilangan-bilangan tersebut menjadi bilangan-bilangan yang saling berlawanan,
seperti ganjil dan genap, terhingga dan tidak terhingga. Meskipun Pythagoras
tidak terlalu memikirkan tentang alam tetapi ditemukan juga pemikirannya
mengenai alam. Bahwa di alam ini terdapat hal-hal yang berlawanan, seperti baik
dan buruk, laki-laki dan perempuan, gelap dan terang, lurus dan bengkok, dan
lain sebagainya. Menurutnya, titik tengah antara hal-hal yang berlawanan ini
adalah keserasian dalam alam semesta (Frater, O. L., 2006: 19; Juhaya S. Praja,
2010: 79-80).
Secara
keseluruhan, Pythagoras adalah seorang yang sangat religious, mengajarkan hidup
yang sederhana atau bersahaja, dan dia merupakan matematikawan pertama yang mengenalkan
konsep bilangan dalam hidup ini. Pythagoras menurt saya adalah seorang yang
sangat berpengaruh dan berperan penting terhadap perkembangan matematika
sehingga bisa seperti sekarang. Selain itu, dia menemukan bahwa sebenarnya di
alam semesta ini, terdapat hal-hal yang saling berkontradiksi antara satu
dengan yang lain. Jika terdapat tesis, maka terdapatlah anti-tesis. Begitulah
sekiranya bahasa yang tepat untuk mengungkapkannya. Ada hal yang paling saya
senangi dari Pythagoras, dia menyatakan bahwa di antara yang bertentangan
tersebut, terdapat suatu keserasian. Misalkan, kesusahan yang berlawanan dengan
kebahagian. Dalam hidup, tidaklah kita selamanya mengalami kesusahan, melainkan
juga mengalami kebahagian. Sungguh, kebahagian dan kesusahan dalam hidup
tidaklah dapat dipisahkan satu sama lain. Dari kesusahan, kita dapat belajar
mengenai bagaimana cara agar selalu berusaha untuk tetap hidup.
Kesusahan
mengajarkan kita bahwa kita adalah mahluk ALLAH SWT yang tidak punya daya upaya
untuk berpaling dari kesusahan tersebut. Dari kesusahan tersebut, kita bisa
belajar bangkit. Kita bisa belajar mengenai hakikat doa dan ikhtiar. Sedangkan
dari kebahagiaan, kita dapat belajar banyak hal, seperti selalu bersyukur
kepada ALLAH SWT dan selalu berusaha untuk mempertahankan kebahagiaan itu agar
hidup menjadi tenang. Dengan adanya kesadaraan mengenai hakikat kedua hal ini,
sungguh kita akan mendapatkan hidup kita dalam keadaan yang normal atau
harmonis atu serasi. Memahami mengenai hakikat kedua hal yang berlawanan itu
untuk kemudian menggunakannya sebagai refleksi dalam kehidupan, itulah
sebenarnya yang dimaksudkan sebagai titik temu untuk memperoleh keserasian
hidup yang dimaksudkan oleh Pythagoras.
E.
Herakleitos
Herakleitos
lahir sekitar tahun 540 SM dan meninggal sekitar tahun 480 SM. Herakleitos
terlahir dari keluarga arisrokrat di Ephesos. Herakleitos adalah seorang yang
keras dan sangat bebas dalam menyampaikan pendapat. Bahkan dia tidak
segan-segan untuk menghina filsuf-filsuf terkemuka, seperti Pythagoras. Berdasarkan
kebebasannya tersebut, sehingga dia mempunyai pandangan sendiri mengenai
filsafat. Dia tergolong orang yang tertarik terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi di alam. Menurutnya, alam semesta ini selalu berubah secara kontinu.
Tidak adalah satu apa pun di alam semesta ini yang diam. Atas dasar perubahan
ini, maka terjadilah pluralitas dalam alam semseta. Bahkan sesuatu yang
terlihat tetap pun sebenarnya sedang mengalami perubahan yang yang tiada
hentinya. Beberapa pandangan Herakleitos yang terkenal adalah semuanya mengalir
dan tidak ada satu pun yang tinggal menetap dan matahari adalah baru setiap
hari. Herakleitos berkeyakinan bahwa elemen utama dari sesuatu yang ada adalah
api. Api mebutuhkan bahan bakar dan bahan bakar itu berubah menjadi asap dan
abu. Dia pun beranggapan bahwa dunia ini tidak diciptakan oleh siapa pun. Dunia
tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir (Juhaya S. Praja, 2010: 81-82).
Pendapat
Herakleitos mengenai segala sesuatu itu selalu berubah adalah pendapat yang
sangat menakjubkan menurut saya. Secara tidak sadar, dalam filsafatnya, dia
sudah menemukan istilah dimensi ruang dan waktu. Sesuatu yang kelihatan tetap
secara hakikatnya adalah berubah. Berubah dalam arti yang sedalam-dalamnya dan
seluas-luasnya. Mungkin secara fisik sesuatu yang terlihat tetap itu tidak
berubah tetapi bagaimana jika kita berbicara mengenai ruang dan waktu di mana
sesuatu itu berada. Sungguh, tidak ada satu apa pun di dunia ini yang dapat
mencegah perubahan ruang dan waktu, kecuali ALLAH SWT.
Ada hal yang
sangat bertentangan dalam diri saya mengenai pendapat Herakleitos yang
mengatakan bahwa dunia tidak dijadikan oleh satu apa pun. Tuhan (ALLAH SWT)
adalah pencipta alam semesta beserta isinya. Semuanya sudah tertulis jelas
dalam Al-Qur’an. Sehingga saya pun dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya
Herakleitos adalah seseorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Selain itu,
ada hal yang menurut saya masih menjadi pertentangan, mengenai pendapat
Herakleitos yang menyatakan tidak adalah dunia ini memiliki awal dan akhir.
Akan tetapi, pada sisi lain, dia menyatakan bahwa api adalah elemen utama
pembentuk segala sesuatu yang ada. Jadi, dari pendapatnya ini pun, kita dapat
simpulkan bahwa api adalah awal dari segala sesuatu. Tidakkah hal ini kontradiksi
dengan pendapat sebelumnya? Semua saya serahkan kepada pembaca untuk
menghermeneutikakannya.
F.
Parmenides
Parmenides dilahirkan
di Elea sekitar tahun fl.501-492. Dia
adalah seorang yang sangat berbeda pendapat dalam berfilsafat dengan yang
orang-orang yang ada sebelumnya, dia mengatakan bahwa “yang realitas dalam alam
ini hanya satu, tidak bergerak, dan tidak berubah.” Adapun dasar pemikirannya
adalah yang ada itu mustahil menjadi tidak ada, sebagaimana yang tidak ada
mustahil menjadi ada. “yang ada” menurut Parmenides adalah satu dan tidak dapat
terbagi-bagi sehingga tidak terdapat pluralitas dalam filsafatnya. Selanjunya,
“yang ada” tidak dijadikan dan tidak dimusnahkan atau bersifat kekal. “Yang ada”
itu sempurna, dan “yang ada” mengisi segala tempat. Selain itu (Hansen, M. J.,
2010: 65-66; Juhaya S. Praja, 2010: 82-83; Stamatellos, G., 2012: 244).
Pandangan ini
sebenarnya ada sedikit kecocokan jika kita kaitkan dengan keberadaan Tuhan (ALLAH
SWT). ALLAH SWT adalah satu, ALLAH SWT bersifat kekal, ALLAH SWT maha sempurna
dalam kebaikan, dan ALLAH SWT akan selalu ada di mana pun itu, selama seorang
hamba selalu mengingat-Nya. Akan tetapi, jika kita kaitkan pandangan Parmenides
tersebut dengan segala sesuatu selain ALLAH, sungguh tidak ada sedikit pun
kebenaran dalam pandangan Parmenides tersebut. Segala sesuatu yang ada pasti
bukanlah satu, melainkan banyak dan dapat terbagi-bagi, bahkan sesuatu yang
terlihat satu pun sebenarnya banyak secara hakikatnya. Tidak adalah sesuatu
yang ada itu bersifat tidak dijadikan dan tidak dimusnahkan atau kekal, melainkan
memiliki awal dan akhir. Meskipun, awal bisa berarti akhir, dan akhir bisa
berarti awal, tergantung dari penjelasan yang kita berikan.
Sungguh, akhir
dari dunia ini adalah ketika kiamat datang menimpa dunia ini. Dan sungguh, awal
dari kehidupan yang sebenarnya adalah dunia akhirat. Selain itu, segala sesuatu
yang ada dan mungkin ada tidaklah bersifat sempurna. Semua tesis memiliki
anti-tesis dan semua anti-tesis memiliki tesis. Pandangan yang terakhir mungkin
begitu sulit untuk diterjemahkan karena memiliki sifat kebenaran di dalamnya.
Akan tetapi, saya menemukan satu tempat kosong yang tidak diisi oleh sesuatu,
yaitu pikiran. Pikiran dimana kita sedang berdoa. Kosongkanlah pikiran kita
dari semua urusan dunia ketika sedang berdoa. Sungguh ALLAH SWT akan sangat
mencintai hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya dengan mengesampingkan urusan
dunianya. Akan tetapi, sebenarnya tidak adalah pendapat ini saya dapat
pertanggungjawabkan karena sungguh tidak adakah kekosongan dalam pikiran dan
diri kita, melainkan selalu mengingat-Nya. Sungguh itulah hamba yang paling
dicintai ALLAH SWT.
G.
Zeno
Zeno adalah
seorang murid Parmenides yang sangat terkenal sebagai filsuf matematika barat
yang pertama. Zeno dilahirkan di Elea sekitar tahun 490 SM. Zeno termasuk orang
yang mengatakan bahwa sesungguhnya realitas adalah satu. Zeno adalah penganut
paham yang demokratis tetapi dalam perjalanan karirnya di pemerintahan dia
berhasil digulingkan oleh kaum aristocrat. Zeno mengungkapkan bahwa alam
semesta terdiri atas empat substansi, yaitu air, udara, api, dan tanah. Elemen-elemen
ini tergabung karena cinta dan terpisah karena kebencian. Dia mengatakan bahwa
tidak adalah satu apa pun di dunia ini yang bersifat kekal kecuali keempat
substansi tersebut dan cinta dan kebencian. Zeno terkenal sebagai orang yang sangat
cerdas dan sependapat terhadap pandangan gurunya. Dan berusaha untuk
membuktikan kebenaran gurunya mengenai ketidakberadaan gerak. Akan tetapi, jika
kita lihat dalam pandangannya kita melihat perbedaan antara keduanya. Parmenides
mengatakan bahwa gerak itu tidak ada. Akan tetapi, Zeno dalam pandangannya
mengatakan bahwa campuran yang berbeda-beda dari substansi (air, udara, api,
dan tanah) membentuk segala yang ada di alam semesta. Bercampur secara
hakikatnya pasti bergerak, bergerak dari satu substansi ke substansi yang lain
dan begitupun selanjutnya. Zeno mengatakan bahwa substansi adalah awal dari
terbentuknya segala sesuatu sesuatu. Sedangkan Parmenides mengatakan bahwa
“yang ada” tidak dijadikan. Zeno mengatakan bahwa wujud dalam alam ini adalah
sementara, sedangkan Parmenides mengatakan bahwa “yang ada” tidak akan
dimusnahkan. Tidakkah kedua pandangan ini berbeda? Semua diserahkan kepada
pembaca (Jan Hendrik Rapar, 2002: 95; Juhaya S. Praja, 2010: 84; Venugopalan,
A., 2007: 52).
Ada istilah baru
yang kita temukan dalam pandangan Zeno, yaitu cinta dan kebencian. Sungguh
tingkatan pandangan ini sudah masuk ke dalam tingkatan spiritual atau hati.
Sangatlah benar ketika Zeno mengatakan bahwa cinta bersifat kekal. Kekal di
sini tergantung dari sudut pandang mana kita mendefinisikannya. Sungguh,
kecintaan ALLAH SWT kepada hambanya adalah bersifat kekal karena ALLAH SWT
adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Akan tetapi, ketika kita mengatakan
bahwa kecintaan dalam arti hubungan antara manusia, mungkin hal ini akan sulit
untuk ditemukan karena manusia tidaklah emiliki sifat tersebut secara kekal,
melainkan sementara. Dan meskipun itu ada, mungkin itu hanya dimilki oleh orang
tertentu saja, seperti cinta orang tua kepada anaknya. Karena sesungguhnya
ridho ALLAH SWT adalah sangat bergantung terhadap ridho orang tua.
Zeno adalah seorang pemikir yang
berhasil menemukan metode dalam membuktikan kebenaran suatu pernyataan seseorang
dengan membuktikan kesalahan dalam premis-premis lawan. Adapun caranya adalah
dengan mereduksikan premis itu menjadi suatu kontradiksi sehingga kesimpulannya
pun menjadi mustahil. Cara seperti ini pun sangat sering kita temukan dalam
pembuktian kebenaran suatu teorema dalam matematika. Dengan cara mengambil
percontohan yang bertentangan dengan pernyataan awal untuk kemudian mencari
kemustahilan terhadap hal tersebut sehingga bertentangan dengan pernyataan awal
atau pernyataan secara umum. Kemudian ditariklah suatu kesimpulan baru yang
membuktikan kebenaran proposisi awal. Sebenarnya, dalam filsafatnya, Zeno ingin
mengatakan bahwa sungguh tidak adalah satu pun pernyataan yang melahirkan
pertentangan dapat dianggap benar (Jan Hendrik Rapar, 2002: 95-98).
Dan sungguh
hanya ada satu hal yang memang-memang benar dan tidak memilki pertentangan di
dalamnya, bahwa ALLAH SWT adalah Tuhan dan MUHAMMAD SAW adalah Rasulullah.
Islam adalah sebenar-benar agama dan Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah
sebenar-benar petunjuk atau pedoman hidup. Semoga kita semua termasuk orang
yang selalu mendapatkan petunjuk dari ALLAH SWT dan selalu berusaha untuk
mencari ridhonya dalam setiap hembusan nafas kita. Amin.
H.
Anaxogras
Anaxogras lahir
sekitar tahun 500 SM di Lazomonal, Ionia dan meninggal sekitar tahun 428 SM. Pada
usia muda dia pindah ke Athena dan menetap di sana selama 30 tahun. Disana, dia
memiliki seorang teman yang bernama Pericles. Ketika Pericles lanjut usia,
Anaxogras pernah ditolongnya karena sempat hendak ingin dibunuh oleh Mahkamah akibat
difitnah musuh-musuhnya. Dia dianggap sudah murtad dan keluar dari ajaran agama
dengan melakukan kesalahan yang menyatakan bahwa matahari adalah benda yang
menyala panas dan bulan menyala diakibatkan memantulkan sinar matahari. Bulan
menurutnya sama dengan bumi bergunung dan berdaratan rendah. Selain itu, dia
mengatakan timbul dan hilang itu ada. Isi-isi alam ini tidak pernah bertambah
dan berkurang, mereka selama-lamanya. Timbul dan hilang tersebut hanyalah
percampuran anasir-anasir awal yang jumlahnya tak berhingga dan digerakkan oleh
kodrat dari luar yang dinamakan Nus. Nus menurutnya adalah pencipta alam semesta
ini (Juhaya S. Praja, 2010: 84).
Jika kita
pikirkan pandangan ini dari sudut pandang astronomi, maka tidak ada kesalahan
yang terdapat di dalamnya. Sangatlah benar bahwa matahari tersebut adalah mengeluarkan
cahaya karena termasuk bintang dan bulan bisa bersinar karena memantulkan
cahaya yang dikeluarkan matahari. Seperti yang ketahui juga bahwa tekstur
permukaan bulan hampir mirip dengan bumi karena bergunung-gunung. Sungguh,
Anaxogras adalah seorang yang sangat jenius dalam hal yang berkaitan dengan
astronomi. Dia bisa membuat suatu teori yang notabenenya pada zaman dahulu belum
ada tekhnologi canggih dan memiliki kebenaran.
Pandangan
Anaxogras mengenai isi alam adalah selama-lamanya kayaknya kurang begitu pas
dengan pandangan kita. Hal ini disebabkan karena alam semesta beserta isinya,
termasuk manusia-manusia kafir, suatu saat nanti akan musnah dan hancur, yaitu
pada saat datangnya hari kiamat. Sungguh, kiamat pasti datang dan hanya ALLAH
SWT yang mengetahui kapan kiamat tersebut akan terjadi. Akan tetapi, ada
istilah baru yang dikenalkan Anaxogras kepada kita, yaitu Nus. Nus jika kita
kaitkan dengan Theologi, mungkin Nus adalah Tuhan. Sehingga dapat kita
mengatakan bahwa dia adalah orang yang percaya akan keberadaan Tuhan.
Keberadaan suatu Dzat yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya. Dan
sungguh, sebenar-benar Tuhan adalah ALLAH SWT.
I.
Socrates
Masa hidup
Socrates sekitar tahun 470-399 SM. Socrates hidup di tengah-tengah keruntuhan
Athena oleh orang-orang oligarki dan demokratis. Pandangan Socrates mengenai
kebenaran adalah bahwa tidak semua kebenaran itu bersifat relative. Dia
menganggap bahwa ada juga kebenaran yang bersifat mutlak atau objektif yang
bisa dijadikan pedoman bagi semua orang. Kebenaran objektif inilah yang
biasanya disebut sebagai definisi dan induksi. Socrates adalah seorang penganut
moral yang absolute; meyakini bahwa penegakan moral adalah tugas filosof, yang
berdasarkan ide-ide rasional dan keahlian dalam ilmu pengetahuan; dan seorang
yang sangat menentang ajaran relativisme sofis dan sangat menegakkan agama dan
sains. Pada tahun 399 SM, Socrates dituduh merusak pemuda dan menolak
tuhan-tuhan negara. Oleh karena itu, Socrates pernah diadili oleh pengadilan
Athena. Dalam persidangannya, Socrates sempat membacakan pidato pembelaanya
yang berjudul Apologia yang dituliskan oleh Plato. Dalam pidato tersebut
Socrates menjelaskan pembelaannya dengan panjang-lebar seolah-olah mengajari
semua orang yang ada di ruangan tersebut. Hal ini pun dianggap penghinaan oleh
sebagian besar orang yang ada di sana. Dan akhirnya, Socrates dihukum mati
dengan sebagian besar orang di pengadilan tersebut menyatakan dia bersalah. Sebenarnya
hukuman mati ini bisa ditolak Socrates dengan meminta untuk dibuang ke luar
kota. Akan tetapi, karena kecintaannya kepada negaranya, Socrates menolak hal
tersebut dan sempat mengajukan tebusan sebesar 30 mina tetapi ditolak hakim. Socrates
dihukum mati sebulan setelah pemberian keputusan sehingga dia pun mendekam di dalam
penjara selama masa jeda hukuman tersebut bersama para sahabatnya yang juga
muridnya, seperti Kriton. Plato menceritakan bahwa pada hari terakhir hidupnya,
Socrates dengan tenang meminum racun di keadaan senja dengan di kelilingi
sahabat-sahabatnya tersebut. Socrates tidak meninggalkan satu tulisan apa pun
tetapi ajarannya bisa diperoleh dari tulisan murid-muridnya, seperti Plato. Sangat
banyak filsuf-filsuf yang mengagumi Socrates, salah satunya Kierkegaard yang
merupakan Bapak Eksistensialisme Modern (Ahmad Tafsir, 2009: 53-56; Crome, K.,
2005: 1).
Ada hal menarik
yang bisa kita kaji dalam pemikiran Socrates mengenai kebenaran objektif. Socrates
adalah orang yang sangat memegang teguh agama dan mungkin dapat kita ambil
suatu kesimpulan bahwa sebenarnya yang dia maksudkan sebagai kebenaran objekif
adalah kebenaran ajaran agama. Hal ini pun didukung alasan karena ajaran agam
tersebut dapat digunakan sebagai pegangan atau pedoman dalam hidup seperti yang
dikatakan Socrates. Sungguh kebenaran ajaran agama itu adalah benar. Dan
sebenar-benar ajaran agama adalah ajaran agama ISLAM. Dan sebenar-benar
definisi atau hakikat tentang segala sesuatu adalah terdapat di dalam Al-Qur’an
dan Al-Hadits. Selain itu, kita dapat mengambil banyak pelajaran dari
pandangan-pandangan Socrates, seperti rasa cinta terhadap tanah air dan belajar
sampai akhir hayat. Sungguh ini adalah suatu yang sangat indah untuk dijadikan
salah satu motto dalam hidup kita.
Manusia adalah
titik tolak semua pemikiran-pemikiran Socrates. Sehingga dalam berfilsafat dia
memulainya dari kehidupan sehari-hari yang konkret untuk kemudian berusaha
menggapai kebenaran yang objektif terhadap hal tersebut. Adapun metode filsafat
Socrates adalah dialektik atau bercakap-cakap. Dalam bercakap-cakap Socrates secara
aktif menggunakan argumentasi rasional dalam menunjukkan perbedaan,
pertentangan, penolakan, menyaring, dan membersihkan, serta menjelaskan
keyakinan dan pendapat demi lahirnya kebenaran objektif (Jan Hendrik Rapar,
2002: 99-101).
Bercakap-cakap
dalam sudut pandang kita adalah cara berinteraksi yang paling bagus. Dengan
bercakap-cakap paling tidak kita bisa lebih akrab dalam interaksi social kita
dengan orang lain, berbagi ilmu sesama kita, dan lebih saling mengenal satu
sama lain. Bercakap-cakap sungguh mampu menambah teman dan sahabat dalm hidup
kita.
J.
Plato
Plato hidup
sekitar tahun 427-347 SM. Plato adalah seorang teman sekaligus murid dari
Socrates. Plato mempertegas pandangan Socrates, bahwa kebenaran objektif atau
definisi tidak bisa diperoleh dengan cara bercakap-cakap seperti yang dikatakan
Socrates. Menurut Plato, definisi itu tersedia di dalam idea. Definisi itu
mempunyai realitas dan realitas itu berada di alam idea. Sehingga menurutnya, idea
itu berlaku umum. Selain itu, Plato dalam memahami konsep kebenaran sama saja
dengan gurunya, yaitu membedakan kebenaran menjadi dua, yaitu kebenaran yang
bersifat umum dan kebenaran yang bersifat khusus. Kebenaran khusus diartikan
sebagai bentuk konkret dari kebenaran umum yang ada di alam ide. Contoh, “ayam”
di alam ide berlaku umum, sedangkan “ayam yang dipelihara ayah saya” adalah
kucing yang khusus (Ahmad Tafsir, 2009: 57-59).
Apabila kita
memperhatikan pandangan Plato mengenai kebenaran objektif atau definisi, maka
akan didapatkan bahwa Plato sebenarnya meletakkan alam ide di atas
segala-galanya bahkan mengalahkan bentuk konkret dari kebenaran umum tersebut. Sungguh,
sangat banyak pengikut dari Plato ini termasuk orang-orang besar di negara
kita. Sekarang, bayangkan apa yang terjadi jika konsep atau pandangan plato ini
kita aplikasikan dalam dunia pendidikan, seperti pembelajaran matematika di
kelas. Dalam pandangan plato, dia menempatkan bahwa sebenar-benar kebenaran adalah
definisi-definisi matematika, postulat-postulat, aksioma-aksioma, dan
teorema-teorema yang ada di dalam matematika. Jika kita langsung menerapkan hal
ini dalam pembelajaran di kelas, sungguh tidaklah tepat, terutama dalam
pembelajaran matematika di sekolah. Hal ini disebabkan karena tidak sepenuhnya
definisi-definisi itu dapat diterima dengan mudah oleh siswa karena sifatnya
yang abstrak. Sedangkan seperti yang kita ketahui bahwa tahapan pemikiran siswa
di sekolah masih tergolong konkrit. Hal ini pun berimplikasi langsung dengan
mengakibatkan kesulitan siswa dalam memahami konsep matematika. Selain itu,
keberadaan definisi-definisi ini pun sungguh akan membatasi ruang gerak siswa
dalam berpikir dan beraktivitas dalam pembelajaran. Ada hal fatal yang merupakan
akibat terburuk dengan adanya kebenaran objektif dalam idea ini dalam
pembelajaran di sekolah, yaitu hilangnya intuisi siswa dalam pembelajaran.
Sungguh, 80% hidup adalah intuisi dan bayangkan jika hal tersebut hilang dari
siswa-siswa kita. Tidakkah ini kejam? Sangat Kejam.
Intuisi bagi
siswa sangatlah penting, hal ini disebabkan karena beberapa hal seperti intuisi
merupakan bentuk cerminan awal pengetahuan siswa mengenai konsep sehingga
mempermudah guru dalam menentukan pembelajaran yang tepat bagi siswa dan
intuisi mampu menambah motivasi siswa dalam mempelajari matematika karena
sesungguhnya pembelajaran yang memperhatikan intuisi selalu memulai dari bentuk
konkrit dari konsep matematika yang dipelajari. Sehingga hal ini pun
berindikasi terhadap kesuksesan pembelajaran siswa, baik dalam proses, maupun
hasil akhirnya.
Satu yang paling
parah dari kekejaman ini, yaitu tidak adanya usaha untuk mengembalikan
pembelajaran yang berbasis intuisi dari pemerintah, bahkan sekarang ini
pemerintah menggagas kurikulum 2013 yang berbasis tekhnologi. Akan tetapi, hal
ini adalah wajar bahwa sebenarnya sebagian besar atau bahkan hampir semua
pejabat pembuat kebijakan adalah orang-orang yang berpayung pada Platonism.
Apakah layak seorang yang platonis membuat kebijakan untuk pendidikan yang
sebanr-benarnya berbasis kontekstual? Tidaklah layak. Sungguh, diperlukan
revolusi besar-besaran dalam dunia pendidikan demi menghentikan kekejaman penghilangan
intuisi siswa ini, mulai dari merubah paradigma mengajar kita, sampai pada
mengubah semua unsur-unsur yang barbau Platonism dalam aspek pendidikan,
seperti pejabat pembuat kebijakan dengan orang-orang yang lebih peduli terhadap
pendidikan dan selalu meletakkan siswa sebagai orientasi utama pengambilan
kebijakan. Salah satu contoh konkrit kekejaman para kaum Platonism adalah Ujian
Nasional. Sungguh, kita semua telah mengetahui bentuk kekejaman ujian nasional dan
saya rasa saya tidak perlu utnuk menyajikannya kembali dalam makalah ini.
K.
Aristoteles
Aristoteles
lahir sekitar tahun 384 SM dan meninggal sekitar tahun 322 SM. Dia lahir di
Stagira, sebuah kota di Thrace dari keluarga yang tertarik dengan ilmu kedokteran
sehingga dia cenderung berpikir sistematis dan empiris. Pada saat Aristoteles
masih muda, ayahnya meninggal dan ia pun diambil oleh Proxenus dan diberikan
pendidikan yang bagus. Ketika dia berusia 18 tahun, ia disekolahkan Proxenus ke
Akademia Plato. Dan tentu di sana gurunya adalah Plato. Dalam perjalanan
hidupnya, Aristoteles lebih berhasil jika dibandingkan dengan Plato. Dia adalah
seorang guru dari raja yang sangat terkenal, yaitu Alexander The Great putra
Philip. Bahkan Aristoteles, pernah menekuni riset di Stagira dengan dibantu
Theophrastus dengan pembiayaan Alexander The Great. Riset ini pun menghasilkan
banyak kemajuan dalam bidang sains dan filsafat. Ketika, raja Alexander The
Great berperang ke Asia sekitar tahun 334 SM, Aristoteles kembali ke Athena dan
mendirikan sekolah yang bernama Lyceum.
Dalam perkembangannya, Lyceum
bersaing dengan Akademia Plato dan memaksa Arisoteles untuk melakukan
penelitian dan menghasilkan banyak kemajuan lagi dalam bidang politik, retorika,
dan dialektika. Dalam dunia filsafat, Aristoteles terkenal sebagai Bapak Logika
tradisional atu logika formal (Ahmad Tafsir, 2009: 59-61; Shand, J., 1993: 53).
Dalam berlogika,
Aristoteles menggunakan bahwa ada dua metode yang dapat digunakan untuk menarik
kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode deduktif
(apodiktik) dan metode induktif (epagogi). Metode deduktif adalah cara menarik
konklusi berdasarkan dua premis yang tidak diragukan kebenarannya, yang
bertolak dari suatu yang umum menuju khusus. Sedangkan metode induktif adalah cara
menarik konklusi dengan bertolak dari suatu yang khusu menuju yang umum. Metode
deduktif tidak berdasarkan atas pengamatan dan pengetahuan indrawi yang
berdasarkan pengalaman, sedangkan induktif sebaliknya. Meskipun dalam
perkembangan logikanya, Aristoteles lebih dihubungkan dengan penalaran
deduktif. Istilah logika sebenarnya tidak pernah digunakan oleh Aristoteles,
melinkan dia menggunakan istilah analitika (berangkat dari proposisi yang
benar) dan dialektika (berangkat dari proposisi yang diragukan kebenarannya).
Inti logika bagi Aristoteles adalah silogisme. Silogisme diartikan sebagai
bentuk formal dari deduksi yang terdiri atas tiga proposisi, dua proposisi awal
disebut premis, dan satu proposisi akhir disebut konklusi (Jan Hendrik Rapar,
2002: 104-105).
Banyak hal yang kita
bisa kita dari seorang Aristoteles, seperti pentingnya riset demi kemajuan.
Atas dasar kuasa ALLAH SWT melalui perantara riset akan mampu mengakibatkan
kemajuan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, termasuk dalam
pembelajaran matematika. Aristoteles secara langsung mengajarkan kita bahwa untuk
menjadi seorang guru yang baik haruslah sering-sering melakukan penelitian atau
riset demi kemajuan dalam pembelajaran kita di kelas. Peneiltian dapat
berbentuk penelitian kuantitatif dan kualitatif. Gunakan hasil-hasil dari penelitian
tersebut sebagai bahan refeleksi pemebelajaran yang sudah ada untuk kemudian
melakukan perbaikan dalam setiap pembelajaran ke depannya. Selain itu, dengan
adanya penelitian atau riset sungguh akan menambah eksistensi seorang guru
dalam menghadapi ketatnya persaingan globalisasi dalam dunia pendidikan.
Sungguh, hanya guru-guru yang berkompeten yang bisa menghadapi ketatnya
persaingan dalam dunia pendidikan.
Aristoteles dari
sudut pandang pure matematika pun memiliki peranan penting, yaitu dengan
dipelajarinya materi khusus logika, seperti silogisme dalam matematika.
Sungguh, teknik pengambilan kesimpulan dengan menggunakan teknik silogisme ini
memiliki banyak manfaat dalam penarikan kesimpulan, baik dalam dunia
matematika, maupun kehidupan sehari-hari. Meskipun kadang, tidak semua permasalahan
yang kita hadapi di dunia ini mampu kita logikakan. Dan bahkan semua yang kita pikirkan pun, belum
tentu bisa dilogikakan. Sungguh logika berada jauh di bawah filsafat apalagi
spiritual. Sehingga janganlah sekali-kali meletakkan logika di atas segalanya
dan berusaha untuk melogikan segala sesuatu yang berkaitan dengan spiritual.
Seperti yang sering dikatakan guruku (Prof. Dr. Marsigit, M.A.), “apalah daya dan kemampuanku untuk
memikirkan hatiku.”
L.
Thomas
Aquinas
Thomas Aquinas
lahir sekitar tahun 1225 M dan meninggal sekitar tahun 1274 M. Dia lahir di
Roccasecca, Italia dari keluarga bangsawan. Aquinas dalam berfilsafat lebih
pada kepastian adanya Tuhan. Menurutnya, Tuhan dapat diketahui dengan akal. Hal
ini didasarkan pada lima argumen, yaitu 1) Diangkat dari sifat alam yang selalu
bergerak. Segala sesuatu yang ada di alam ini bergerak dan digerakkan oleh
Tuhan. 2) Sebab yang mencukupi, ada sebab ada akibat, akibat yang satu
mengakibatkan hal yang lain, dan keberadaan dunia ini disebabkan sebab pertama,
yaitu Tuhan. 3) Kemungkinan dan keharusan, segala sesuatu yang ada di alam
bersifat mungkin ada dan mungkin tidak ada. Segala sesuatu yang ada disebabkan
karena adanya sesuatu yang ada sebelumnya, dan yang ada pertama adalah Tuhan.
Sedangkan sesuatu yang mungkin tidak ada itu tidak mungkin benar karena segala
sesuatu yang ada sekarang adalah ada. Jika dikembalikan kepada sebabyang
mencukupi di atas, maka segala sesuatu yang ada ini disebabkan sesuatuyang ada
pertama, yaitu Tuhan. 4) Tingkatan yang ada pada alam ini bahwa segala sesuatu
yang ada di alam semesta ini memiliki kekurangn dan kelebihan. Disebabkan hal
ini, maka muncul bahwa ada tingkatan yang lebih tinggi dan yang lebih rendah.
Dan Tuhanlah yang berada pada tingkatan yang paling tinggi. Dan 5) Keteraturan
alam bahwa segala sesuatu yang ada di alam memiliki tujuan. Mereka semua
bergerak menuju tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka mereka digerakkan
oleh Tuhan. Dari sini dibuktikan Tuhan ada (Ahmad Tafsir, 2009: 59-61).
Sungguh,
keberadaan Tuhan itu memang ada. Akan tetapi, satu hal yang perlu kita garis
bawahi adalah Tuhan yang sebenar-benar Tuhan adalah ALLAH SWT. Sesungguhnya,
Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali, ALLAH SWT. Olehkarena itu, bagi
barang siapa yang merasa sedang dalam keberadaan tidak menyembah ALLAH SWT
sekarang, maka segeralah bertaubat dan berusaha untuk mencari Hidayah-Nya.
Pelajarilah ISLAM dengan cara yang mendalam dan dengan bimbingan ustads atau
ulama, maka sesungguhnya kita akan mendapatkan kebenaran yang hakiki yang tidak
ada keraguan di dalamnya yang tidak akan pernah kita dapatkan pada agama-agama
lain. Sungguh, sebenar-benar agama adalah islam. Berikut, akan kita lihat
beberapa pandangan tentang beberapa hal, antara lain:
1. Kosmologi
Hal yang paling penting dalam
pandangan Aquinas adalah matter
(bahan) dan form (sifat). Matter dan
form tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya (Ahmad Tafsir,
2009: 101-102). Sebagai contoh, Batu. Zat batu adalah bendanya dan batu itu
keras adalah sifatnya. Coba bayangkan, adakah batu yang tidak keras?
2. Jiwa
Beranjak dari matter dan form. Raga
menghadirkan matter dan jiwa menghadirkan form. Selama kita hidup, sungguh
tidak dapat dipisahkan antara kedua hal ini. Menurut Aquinas, jiwa adalah
kapasitas intelektual dan kegiatan vital kejiwaan manusia. Dia juga mengatakan
bahwa manusia adalah mahluk berakal dan konsekuensinya adalah jiwa membimbing
raga karena jiwa lebih tinggi tingkatannya dibandingkan raga. Jiwa memiliki
kesatuan tetapi bisa dibedakan menjadi tiga hal, yaitu kemampuan mengindera
atau sensation, kemampuan pikir atau reason, dan nafsu atau appetite (Ahmad
Tafsir, 2009: 101-102).
3. Teori
Pengetahuan
Aquinas berpendapat bahwa segala
sesuatu yang tidak dapat diteliti oleh inderawi adalah iman. Menurutnya, antara
iman dan akal haruslah diseimbangkan. Aquinas membagi pengetahuan menjadi tiga
hal, yaitu pengetahuan fisika, matematika, dan metafisika (Ahmad Tafsir, 2009:
101-102). Ketiga hal tersebut sangatlah bereperan penting bagi pengetahuan
sehingga bisa berkembang menjadi sekarang ini. Akan tetapi, yang paling penting
adalah pengetahuan metafisika. Metafisika adalah mempelajari sesuatu dibalik
sesuatu yang tingkatannya lebih tinggi dibandingkan dua pengetahuan yang lain. Dan
kita tidak akan pernah bisa mempelajari pengetahuan ini jika kita tidak pernah
belajar tentang filsafat. Itulah salah satu kegunaan filsafat, yaitu kita bisa
menemukan maksud atau makna dibalik sesuatu. Sehingga berbanggalah kita yang
bisa mempelajari filsafat ilmu, terutama filsafat ilmunya Prof. Dr. Marsigit,
M.A. Melalui makalah ini, sungguh saya ingin mengatakan bahwa saya bangga sudah
bisa belajar filsafat dari beliau.
4. Etika
Menurut Aquinas, kita tidak akan
pernah mampu mencapai kebaikan yang tertinggi pada masa sekarang ini (Ahmad
Tafsir, 2009: 105-106). Sangat benarlah pandangan ini tetapi sungguh sampai
kapan pun kita tidak akan pernah mencapai tingkatan kebenaran yang paling
tinggi. Hal ini dikarena kita adalah seorang hamba ciptaan ALLAH SWT. Dan
sungguh, kebenaran yang tertinggi atau yang Maha Benar adalah ALLAH SWT.
M.
Rene
Descartes
Rene Descartes
atau Renatus Caertesius adalah putra keempat Joachim Descartes yang merupakan
seorang anggota perlemen kota Britari Prancis. Dia lahir tanggal 31 Maret 1596
di La Haye, Provinsi Tourine. Pada msa mudanya, Rene Descartes sudah merasa
kebingungan dan tidak merasa puas dengan ilmu-ilmu yang diterima dari guru,
maupun buku teksnya, terutama yang berkaitan dengan ilmu filsafat. Dalam
memperoleh hasil yang sahih (adequate), Descartes mengungkapkan bahwa ada empat
hal yang penting, yaitu 1) Tidak menerima sesuatu apa pun sebagai suatu
kebenaran, kecuali kita melihatnya secara jelas (clearly) dan tegas (distinctly).
2) Pecahkan setiap masalah sebanyak mungkin bagian-bagiannya sehingga tidak ada
satu pun keraguan yang mampu merobohkannya. 3) Bimbinglah pikiran dengan
teratur dengan mulai dari hal yang sederhana atau mudah diketahui menuju hal
yang kompleks atau sulit. Dan 4) Dalam proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat suatu
perhitungan yang sempurna dan pertimbangan yang menyeluruh sehingga kita
menjadi yakin bahwa tidak ada satu pun yang ketinggalan dari hal yang sulit
tersebut. Metode meragukan segala sesuatu Descartes inilah yang sering disebut sebagai
metode skeptis dalam filsafat. Descartes adalah salah satu tokoh rasionalisme
dalam filafat karena selalu mengandalkan rasio dalam menyelesaikan setiap
permasalahan (Juhaya S. Praja, 2010: 91-96; Shand, J., 1993: 75).
Coba renungkan
keempat gagasan yang diungkapkan Descartes di atas. Berargumen terhadap gagasan
yang pertama. Sungguh, awal dari ilmu adalah kebingungan. Selama kebingungan
itu bisa kita manfaatkan dan kita gunakan untuk berusaha mencari kebenaran yang
sesungguhnya, maka akan diperoleh suatu informasi yang mendalam tentang sesuatu
hal tersebut. Beranjak kepada pandangan kedua bahwa pecahkan setiap kesulitan
sebanyak mungkin bagian. Hal ini jika kita terapkan dalam kehidupan sungguh
sangatlah bermanfaat. Pandangan ini mengajarkan kita akan hidup yang pantang
menyerah, pantang putus asa, dan selalu berusaha untuk memecahkan segala
kesulitan yang kita hadapi bahkan sampai kepada bagian-bagian terkecilnya.
Sekarang
pandangan ketiga, jika kita mengimplikasikan hal tersebut untuk pemebelajaran
matematika sekolah, maka sangatlah tepat. Hal ini disebabkan karena pandangan
tersebut mengajarkan kita (guru) untuk memulai suatu pembelajaran dari hal-hal
yang sangatlah sederhana atau diketahui siswa. Hal tersebut tidak lain dan
tidak bukan yang dimaksudkan adalah pembelajaran yang dimulai dari sesuatu yang
bersifat konkrit utnuk menuju sesuatu yang abstrak. Memulai pembelajaran dari
masalah kehidupan sehari-hari siswa untuk kemudian dipecahkan di dalam
pembelajaran, itulah yang dimaksudkan. Diharapkan dengan memulainya dari
masalah kehidupan sehari-hari yang sifatnya familiar, maka akan menambah
motivasi belajar siswa dan tidak menghilangkan intuisinya sehingga mampu
berimplikasi pada pemahaman siswa yang lebih cepat dan lebih mudah dalam membangun
konsep matematika yang bersifat abstrak.
Manusia dari
sudut pandang Descartes mengatakan bahwa manusia adalah mahluk dualitas, yang
terdiri atas jiwa dan tubuh. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keluasan
atau mesin yang dijalankan oleh jiwa (Juhaya S. Praja, 2010: 99). Jiwa adalah
pemikiran, apakah kita semua setuju dengan hal ini? Saya secara pribadi
tidaklah setuju sepenuhnya kerena menurut saya, jiwa adalah roh dan lebih
bersifat spiritual. Jiwa lebih berkaitan dengan hati dan berhubungan langsung
dengan Tuhan. Satu hal yang perlu menjadi perhatian bagi kita adalah bahwa
tingkatan spiritual atu hati berada di atas tingkatan pikiran. Pemikiran
tidaklah mampu menjelaskan segala sesuatu yang ada di hati. Hal ini disebabkan
karena hati adalah keyakinan atau iman.
Seperti yang
sering dikatakan guru saya Bapak Prof. Dr. Marsigit bahwa “Kembangkanlah keraguan di dalam pikiranmu karena itu adalah awal dari
ilmu. Akan tetapi, janganlah engkau ragu sedikitpun dengan sesuatu yang ada di
hatimu karena itu adalah iblis yang sedang menggoda imanmu.” Sehingga satu
hal yang dapat kita simpulkan dari pandangan seorang Rene Descartes bahwa
ragukanlah semua hal yang berkaitan dengan pikiran kita karena itu adalah ilmu
dan jangan sekali-kali meragukan segala sesuatu yang ada di hati kita. Akan
tetapi, hal ini hanyalah cocok bagi orang-orang muslim, sedangkan orang-orang
di luar muslim (kafir) adalah bukan. Saya menyarankan kepada semua kaum kafir
untuk meragukan semua keyakinan mereka karena hal itu bukanlah keyakinan yang
baik. Keyakinan mereka tersebut adalah iblis bagi diri mereka sendiri. Iblis
tersebut akan membawa mereka kepada Neraka Jahannam. Pelajarilah ajaran agama
islam jika kalian semua ingin menghilangkan semua keraguan tersebut.
Pelajarilah islam secara mendalam dan kalian semua akan menemukan sebenar-benar
yang benar tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.
N.
De
Spinoza
De Spinoza atau
Spinoza lahir di Amsterdam pada tahun 1632 M dan meninggal sekitar tahun 1677
M. Spinoza dalam berfilsafat meletakkan substansi sebagai tema pokok dalam
metafisika. Dia menganggap bahwa substansi dari segala sesuatu adalah satu. Dia
menggunakan deduksi matematis untuk membuktikan kebenaran dari sesuatu. Dia
memulai membuktikan sesuatu dengan meletakkan definisi-definisi,
aksioma-aksioma, dan proposisi-proposisi di awal pembuktiannya. Barulah dari
hal-hal tersebut kemudian dia berusaha untuk membuktikan sesuatu tersebut. Spinoza
juga dikenal sebagai seorang filsuf yang rasionalis (Ahmad Tafsir, 2009:
133-134; Shand, J., 1993: 53).
Pembuktian
dengan menggunakan deduksi matematis ini bagi semua kita mungkin adalah sesuatu
yang rumit. Hal ini disebabkan karena pembuktian dengan cara seperti ini sangat
mengandalkan definisi-definisi dengan aturan-aturan tertentu dalam proses
pembuktiannya. Satu hal yang mungkin menjadi pertanyaan besar yang sangat
mengganggu di pikiran saya, yaitu “Bagaimanakah
cara kita membuktikan kebenaran definisi tersebut?” Akankah kita membuat
definisi sebelum definisi untuk kemudian membuktikan definisi tersebut. Lalu
muncul pertanyaan lagi, “Kita sebut
apakah definisi sebelum definisi itu? Apakah kita akan menyebutnya sebagai
metadefinisi?” Ditambah satu lagi yang menjadi pertanyaan saya dalam kasus
ini, “Apakah definisi hanya sekedar
kesepakatan orang-orang sebelum kita?” Sungguh, saya belum mendapatkan penjelasan
dari permasalahan ini. Semoga melalui makalah ini, saya bisa mendapatkan
penjelasan dari siapapun yang membacanya. Amin.
O.
John
Locke
John Locke lahir
pada tahun 1632 dan meninggal sekitar tahun 1704. Menurut Locke, rasio pada
awalnya dapat kita anggap sebagai suatu lembaran putih dan seluruh isinya
berasal dari pengalaman. Kemudian Locke memisahkan menjadi pengalaman ke dalam
dua hal, yaitu pengalaman lahiriah atau sensation
dan pengalaman batiniah atau reflection.
Dari pengalaman inilah muncul suatu ilmu. Dari sini, sebenarnya kita dapat melihat
seorang John Locke adalah seorang yang lebih mengandalkan pengalaman
dibandingkan ide. Tidak bergunalah suatu kertas yang kosong tanpa ada tulisan
di dalamnya. Tulisan ini menurut John Locke yang diartikan sebagai pengalaman.
Sehingga dia pun dikenal sebagai salah seorang yang empiris (Juhaya S. Praja,
2010: 110; Shand, J., 1993: 116).
Hal ini ada
benarnya juga, bahwa pengalaman kadang dapat berpengaruh penting bagi kehidupan
manusia. Dan bahkan ada yang kata bijak yang mengatakan bahwa “pengalaman
adalah guru yang paling berharga”. Kadang sesuatu yang secara teorinya bagus
tetapi sangat berbeda jika diterapkan di dalam pengalaman. Hal ini pun
mengindikasikan bahwa sebenarnya sesuatu yang baik dalam bentuk ide belum
menjamin baiknya dalam dunia nyata. Akan tetapi, kita tidaklah dapat
membenarkan pendapat ini secara sepenuhnya karena kadang ide pun sudah cukup
baik untuk membuktikan suatu kebenaran yang ada. Bayangkan, jika ide kita
mengenai “berada bersama singa di kandangnya adalah bahaya” dan kita tidak
mempercayai hal tersebut. Lalu kemudian kita mencari pembenaran ide tersebut
dengan menggunakan pengalaman. Sungguh, saya tidak bisa membayangkan apa yang
akan terjadi ketika kita mempraktikan keadaan tersebut.
P.
Gottfried
Wilhelm von Leibniz
Gottfried
Wilhelm von Leibniz adalah seorang filosof Jerman. Dia lahir di Leipzig, Jerman
pada tahun 1646 dan meninggal pada tahun 1716. Berbeda dengan Spinoza, Leibniz
menyebutkan bahwa substansi dari sesuatu itu adalah banyak. Substansi inilah
yang dia sebut sebagai monad. Setiap monad berbeda satu sama lain dan Tuhan
adalah supermonad, yaitu satu-satunya
monad yang tidak diciptakan oleh monad
dan merupakan pencipta dari monad-monad
itu. Leibniz, seperti juga Descartes dan Spinoza disebut juga sebagai seorang
yang rasionalis (Ahmad Tafsir, 2009: 138-139; Shand, J., 1993: 100).
Ada satu hal
yang bisa kita petik dari Leibniz bahwa tidak adalah sesuatu apa pun di dunia
ini yang sama. Semuanya berbeda antara satu hal dengan hal yang lain. Hal ini
pun mengindikasikan bahwa kita harus sadar bahwa perbedaan itu memang ada dan
kita harus bisa menghargai perbedaan-perbedaan tersebut. Dengan saling
menghargai perbedaan, maka kita akan memperoleh kehidupan yang harmonis, saling
menghargai satu sama lain, dan saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Dan
semoga kita semua adalah orang-orang yang bisa menghargai perbedaan tersebut.
Amin.
Keberadaan
perbedaan ini pun telah kita sadari dan sangat dihargai oleh negara ini
(Indonesia). Bahkan hal ini pun dijadikan semoboyan untuk bangsa kita ini,
yaitu Bhineka Tunggal Ika. Bhineka Tunggal Ika berarti meskipun berbeda-beda
tetapi kita tetap satu, yaitu satu bangsa dan satu negara Indonesia. Hal ini
sungguh membuat kita sadar bahwa dimana pun kia berada selama masih warga
negara Indonesia, maka kita semua adalah satu dan saudara yang harus saling
menolong satu sama lain. Hal yang sama juga bisa kita analogikan untuk agama,
bahwa kita semua umat muslim adalah satu. Dimanapun kita berada kita adalah
satu sehingga kita haruslah selalu saling mendoakan satu sama lain dan saling
tolong menolong dalam kebaikan.
Q.
George
Berkeley
George Berkeley
lahir di Irlandia sekitar tahun 1685 dan meninggal sekitar tahun 1753. Dia
merupakan salah seorang penganut empirisme. Berkeley mencanangkan teori yang
dia namakan immaterialisme atas dasar prinsip-prinsip empiris. Dalam teorinya
ini, Berkeley berpendapat bahwa sama sekali tidak ada substansi-substansi
material, yang ada hanyalah pengalaman dalam ruh saja (Juhaya S. Praja, 2010:
111; Shand, J., 1993: 129). Jika kita bandingkan dengan pandangan ini dengan
pandangan John Locke, maka kita akan melihat keradikalan berpikir dari seorang
George Berkeley yang menganggap bahwa ide tidak pernah ada. Sedangkan dari kaca
mata John Locke, dia masih menganggap bahwa ide itu ada tetapi tidak begitu
penting. Dalam kasus ini, saya tidak bisa berbicara sedikit pun karena menurut
saya, baik antara ide, maupun pengalaman sama-sama merupakan substansi dari ilmu
dan sama-sama memiliki peranan penting bagi terwujudnya suatu ilmu.
R.
Dahid
Hume
David Hume lahir
pada tahun 1711 dan meninggal sekitar tahun 1776. Berdasarkan informasi,
empirisme berpuncak pada David Hume. Hal ini disebabkan karena prinsip-prinsip
empiris dengan cara yang paling radikal. Ia tidak menerima substansi dikarenakan
yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa hal (Juhaya S. Praja,
2010: 112; Shand, J., 1993: 141). Ternyata pandangan David Hume ini lebih
radikal jika dibandingkan dengan Berkeley. Hal ini disebabkan karena tidak
adalah objek yang ada di dunia bisa berinteraksi dengan kita melainkan hanya
melalui pengalaman kita dengan objek tersebut.
S.
Immanuel
Kant
Immanuel Kant
lahir sekitar tahun 1724 di Prussian dan meninggal sekitar tahun 1804. Abad
ke-18 adalah abad pencerahan bagi hampir semua negara di Eropa. Di Jerman,
zaman pencerahan disebut Aufklarung,
sedangkan di Inggris disebut dengan Enlightenment.
Di Prancis, muncul beberapa ensiklopedis materialis seperti Voltaire, Charles
De Montesque, dan Jean Jaqcues Rousseau yang amat terkenal dengan teori kontrak
sosialnya. Sedangkan di Jerman muncul seorang filsuf besar yang melebihi zaman
pencerahan, dia adalah Immanuel Kant. Dia lahir di Konigserg, Prusia Timur,
Jerman pada tahun 1724 dan meninggal sekitar tahun 1804. Filsafat yang dikenal
dengan kritisisme adalah filsafat yang diintrodusir oleh Immanuel Kant.
Ciri-ciri kritisisme adalah 1) Menganggap bahwa objek pengenalan berpusat pada
subjek dan bukan pada objek. 2) Menegaskan
keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui hakikat sesuatu. Dan 3)
Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu diperoleh berdasarkan
perpaduan antara peranan unsur Anaximenes priori yang berasal dari rasio serta
berupa ruang dan waktu dan peranan unsur aposteriori yang berasal dari
pengalaman yang berasal dari pengalaman yang berupa materi (Juhaya S. Praja,
2010: 113-114; Shand, J., 1993: 160).
Ada hal menarik
yang bisa kita kaji pada kritisisme yang diungkapkan Immanuel Kant, terutama
poin kedua dan ketiga. Mengenai poin kedua, sungguh kita memperoleh suatu
pandangan bahwa rasio manusia memang bersifat terbatas. Hal ini mengajarkan
bahwa apalah daya dan kemampuan rasio manusia untuk memikirkan segala sesuatu
yang ada dan mungkin ada. Apalagi untuk memikirkan segala sesuatu yang
berkaitan dengan hakikat sesuatu. Hal ini pun mengindikasikan kepada kita semua
bahwa janganlah sekali-kali meletakkan rasio di atas segalanya karena rasio
penuh dengan keterbatasan. Janganlah mengungkapkan segala sesuatu yang ada selalu
dengan rasio karena kadang akan membawa kita kepada bahaya, apalagi ketika mengungkapkan
sesuatu yang berkaitan dengan spiritual. Tanamkanlah iman yang kuat berupa
selalu mengingat ALLAH dan meletakkannya sebagai pedoman ketika kita berusaha
untuk mengungkapkan sesuatu. Dan berhentilah menggunakan rasio ketika sudah
melewati batas. Rasio tetaplah rasio dan memiliki keterbatasan, itulah kodrat
yang harus kita terima.
Berlanjut kepada
pandangan ketiga mengenai pengenalan sesuatu. Pengenalan sesuatu itu kita
anggap saja sebagai ilmu. Sungguh, ini adalah pandangan terhebat seorang
Immanuel Kant bagi saya. Dia berhasil menemukan titik temu antara kedua hal
yang berbeda, yaitu antara rasio (a priori) dan empiris (aposteriori). Dia
mengungkapkan bahwa antara kedua hal tersebut sangatlah penting untuk mengenali
sesuatu. Hal ini pun menurut saya adalah hal yang paling tepat jika kita
implikasikan pada pembelajaran matematika di kelas. Gunakan pengalaman dan ide siswa
untuk memulai suatu pembelajaran. Sungguh, siswa bukan merupakan botol kosong
yang tanpa ide sedikitpun tentang suatu konsep meskipun tanpa pengalaman. Berusahalah
untuk menggali ide dan pengalaman siswa sebelum kegiatan pembelajaran dimulai
dan gunakan hal tersebut sebagai bahan pertimbangan utama dalam mengambil model
atau metode pembelajaran yang akan diterapkan di kelas.
Dalam sumber
lain dikatakan suatu pemikiran yang menurut saya sangat bagus dan dapat kita
gunakan sebagai motto dalam belajar. Kant (Ahmad Tafsir, 2009: 159) menyatakan
bahwa “Saya sudah menetapkan jalan yang pasti. Saya ingin belajar, tidak satu
pun yang dapat menghalangi saya dalam mencapai tujuan itu.” Sungguh, kata yang
bijak dan berpengaruh besar dari seorang filsuf bijak dan besar. Belajar adalah
esensi hidup. Belajar adalah tujuan hidup. Belajar tidak mengenal umur. Belajar
adalah tanpa batas. Belajar adalah ibadah. Belajar bisa dari siapa pun dan
kapan pun. Bahkan kita pun tidak pernah bisa mengenal diri kita sendiri,
melainkan belajar untuk mengenalnya. Sungguh, belajar yang benar-benar belajar
adalah belajar mencari ridha ALLAH SWT dalam setiap aspek kehidupan kita. Semoga
kita semua termasuk dalam orang-orang yang selalu berada di jalan ALLAH SWT dan
selalu belajar. Amin.
Berlanjut
membicarakan tentang filsafat Immanuel Kant. Menurut Kant, syarat utama suatu
ilmu pengetahuan adalah bersifat umum dan mutlak dan memberikan pengetahuan
yang baru (Juhaya S. Praja, 2010: 115). Dari sini, sebenarnya kita dapat
menilai suatu ilmu apakah termasuk ilmu pengetahuan atau bukan. Pertama,
tentukanlah apakah ilmu tersebut bersifat umum dan kebenarannya bernilai
mutlak. Ilmu bersifat umum dimaksudkan bahwa ilmu bersifat objektif. Objektif
di sini dimaksudkan bahwa ilmu tersebut haruslah memiliki kebenaran yang
berlaku untuk umum, bukan hanya pada objek pembuat ilmu. Sedangkan mutlak
dimaksudkan sebagai kebenaran yang tidak memiliki kontradiksi sedikit pun di
dalam unsur-unsurnya. Langkah kedua adalah haruslah ilmu tersebut bersifat
baru, bukan merupakan ilmu yang plagiat. Baru di sini dimaksudkan bukanlah
sepenuhnya sesuatu yang benar-benar baru dan tidak pernah diungkapkan
sebelumnya, melainkan bisa berupa perluasan terhadap suatu kajian ilmu
pengetahuan untuk kemudian menghasilkan suatu teori baru. Jika salah satu saja
dari kedua hal tersebut tidak bisa dipenuhi, maka ilmu tersbut bukanlah ilmu
pengetahuan.
Ada hal yang perlu
diingat, ilmu pengetahuan duniawi kadang tidaklah bisa memiliki kebenaran
mutlak seperti yang dikatakan seorang Immanuel Kant. Hal ini disebabkan karena
kesemua hal tersebut adalah hasil eksplorasi manusia. Sungguh, hanya ada satu
kebenaran dan sumber ilmu dari segala ilmu, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Kant adalah
satu-satunya filsuf yang berusaha untuk mendamaikan konflik antara rasionalisme
dan empirisme. Dia mengatakan bahwa antara kedua hal tersebut sama-sama berat
sebelah. Dan bahkan dia berusaha menjelaskan bahwa pengalaman manusia merupakan
perpaduan antara sintesa unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori. Unsur
apriori menurut Kant memainkan peranan bentuk dan unsur aposteriori memainkan
peranan materi. Selain itu, ia berpendapat bahwa pengetahuan inderawi selalu
ada dua bentuk apriori, yaitu ruang dan waktu. Jadi, ruang tidak merupakan
“ruang dalam dirinya” dan waktu bukan merupakan suatu arus tetap yang di
dalamnya bisa diciptakan penginderaan-penginderaan. Pendirian tentang
pengenalan inderawi ini mempunyai implikasi yang penting. Kant mengatakan bahwa
memang ada benda dalam dirinya tetapi selalu tinggal X yang tidak dikenal.
Pemikiran inilah yang disebut sebagai kritik Kant terhadap Rasio murni (Juhaya
S. Praja, 2010: 116-117).
Di samping
mengenal rasio murni atu teoritis, dalam filsafat Kant dikenal juga istilah
rasio praktis. Rasio praktis diartikan sebagai rasio yang mengatakan apa yang
harus kita lakukan atau disebut juga rasio yang memberi perintah kepada
kehendak kita. Kant menyebutkan bahwa ada tiga postulat mengenai rasio praktis,
yaitu kebebasan kehendak, immortal jiwa, dan adanya ALLAH. Intinya, perbedaan
mendasar antara rasio murni dengan rasio praktis adalah rasio praktis
tingkatannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan rasio murni. Hal ini
disebabkan karena apa yang tidak dapat ditemui atas dasar rasio teoritis harus
diandaikan atas dasar rasio praktis. Sehingga tiga hal yang merupakan postulat
dari rasio praktis tersebut tidaklah memiliki rasio teoritis, melainkan suatu
kepercayaan (Juhaya S. Praja, 2010: 121-122).
Selanjutnya Kant (2010: 32)
menyatakan bahwa:
In all judgements wherein the relation of a subject to the
predicate is cogitated (I mention affirmative judgements only here; the
application to negative will be very easy), this relation is possible in two
different ways. Either the predicate B belongs to the subject A, as somewhat
which is contained (though covertly) in the conception A; or the predicate B
lies completely out of the conception A, although it stands in connection with
it. In the first instance, I term the judgement analytical, in the
second,synthetical. Analytical judgements (affirmative) are therefore those in which
the connection of the predicate with the subject is cogitated through identity;
those in which this connection is cogitated without identity, are called
synthetical judgements. The former may be called explicative, the latter
augmentative judgements; because the former add in the predicate nothing to the
conception of the subject, but only analyse it into its constituent
conceptions, which were thought already in the subject, although in a confused
manner; the latter add to our conceptions of the subject a predicate which was
not contained in it, and which no
analysis could ever have discovered therein.
Kita akan mencoba menganalisis
pernyataan Kant di atas. Menurut pemahaman saya, Kant menyatakan bahwa pada
suatu keputusan terdapat dua jenis hubungan antara subjek dengan predikat. Jika
semua predikat B termasuk ke dalam subjek A, maka disebut sebagai keputusan
analitik. Dan jika predikat B tidak termuat keseluruhannya pada subjek A, maka
disebut keputusan sintetik. Keputusan analitik inilah yang sebenarnya sering
disebut dengan hukum identitas dan keputusan sintetik inilah yang sering
disebut dengan hukum kontradiksi. Hal ini disebabkan karena di dunia ini
sungguh hanya terdapat dua kemungkinan hubungan antara suatu subjek dengan
predikat, yaitu jika tidak bersifat samaatau identitas, maka pastilah bersifat
berbeda atau kontradiksi.
Tidak ada hal
yang bisa saya ungkapkan mengenai kritik Kant di atas. Bahasa yang digunakan
adalah sangat tinggi dan belum bisa saya pahami. Semoga dikesempatan lain saya
bisa memberikan pandangan tentang kedua kritik tersebut seraya saya menuntut
ilmu lebih mendalam kepada guru besar saya, Prof. Dr. Marsigit, M. A.. Mohon
maaf atas keterbatasan saya.
T.
George
Wilhelm Friedrich Hegel
George Wilhelm
Friedrich Hegel lahir di Stuttgart, Jerman pada tanggal 17 Agustus 1770 dan
meninggal pada tahun 1831. Pada usia tujuh tahun Hegel memasuki sekolah latin. Hegel
pada masa mudanya dikenal sebagai seorang yang telmi (telat mikir). Akan tetapi, meskipun dia telmi, Hegel adalah seorang yang rajin sehingga berimplikasi pada
karirnya ke depan. Dia adalah seorang filsuf yang terkenal, seorang guru besar
atau profesor dan sekitar satu tahun sebelum meninggalnya, dia menjadi rektor
Universitas Berlin (Juhaya S. Praja, 2010: 128; Shand, J., 1993: 179).
Sebelum
berlanjut ke pembahasan lain mengenai Hegel, ada hal yang penting yang perlu
kita garis bawahi dari seorang George Wilhelm Friedrich Hegel, yaitu rajin.
Peribahasa Indonesia pun mengatakan bahwa “rajin pangkal pandai.” Rajin adalah
kunci keberhasilan. Seorang Hegel yang telmi pun bisa menjadi Profesor dan
rektor diakibatkan rajin tersebut. Hegel telah mengajarkan kita dan memberikan
bukti nyata kepada kita bahwa rajin adalah satu-satunya cara untuk terlepas
dari kebodohan. Menurut saya, sungguh kita semua berada dalam kebodohan kecuali
kita yang berusaha keluar dari kebodohan tersebut. Dan salah satu cara untuk
keluar dari kebodohan tersebut adalah rajin.
Hegel sangat
berkaitan erat dengan sejarah. Hal ini disebabkan karena Hegel sangat menonjol
dalam menerapkan metode dialektisnya dalam sejarah. Menurut Hegel, realitas
seluruhnya sebagai proses, yaitu sadarnya ruh absolute. Munculnya manusia
mengakibatkan ruh sadar akan dirinya sendiri. Proses penyadaran ini berlangsung
terus-menerus dalam sejarah sehingga akhirnya mencapai titik penghabisan. Perjalanan
sesuatu yang terus-menerus dan mencapai suatu penghabisan inilah yang disebut
metode dialektika bagi Hegel. Selain itu, Hegel menyatakan bahwa pada masa ini
(abad ke-19 ketika itu) ruh sudah menjadi absolute. Hal ini disebabkan karena
tidak ada sesuatu pada masa ini yang sifatnya benar-benar baru, melainkan
pengulangan suatu sejarah lama (Juhaya S. Praja, 2010: 132).
Pendapat Hegel
ini menurut saya ada benarnya juga. Memang sesuatu yang kita alami sekarang ini
adalah suatu bentuk pengulangan kejadian-kejadian masa lalu. Maksudnya,
kejadian yang ada sekarang ini merupakan kejadian yang pernah dialami di masa
lalu dan bukanlah sesuatu yang tabu. Hal ini pun jika kita kaitkan dengan
ajaran agama (ISLAM) sungguh mengandung kebenaran. Sebagai contoh, melakukan
hal-hal yang bersifat sunnah. Sekarang bayangkan, semua yang kita lakukan
sekarang ini sudah memiliki aturan-aturan. Aturan-aturan tersebut muncul
dikarenakan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita. Tidak
ada yang bisa menyangkal kebenaran dari Al-Hadits karena datangnya dari
Rasulullah SAW. Sunnah tetaplah sunnah dan sudah bersifat mutlak menjadi
aturan-aturan tambahan dalam semua aspek kehidupan. Tidak adalah satu aspek
kehidupan yang bisa melepaskan diri dari hal-hal sunnah. Semua sudah ada
aturannya di dalam Al-Hadits. Kemudian, adakah yang berani menyangkal kebenaran
mutlak akan hal ini? Sungguh, nerakalah ganjarannya bagi orang yang ragu dan
ingkar. Hal ini mengindikasikan bahwa semua aspek kehidupan yang ada sekarang
ini sebenarnya sudah ada dari zaman dahulu dan pernah dialami oleh orang-orang
sebelum kita. Kemudian dari hal ini pun kita dapat menyimpulkan bahwa segala
sesuatu yang ada sekarang ini merupakan pengulang dari sesuatu yang ada
sebelumnya (zaman dahulu). Pengulangan dalam arti yang sedalam-dalam dan seluas-luasnya.
U.
William
James
William James
lahir di New York pada tahun 1842 dan meninggal pada tahun 1910. William James
menyatakan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak. Tidak ada kebenaran yang
berlaku umum, yang bersifat tetap, dan yang berdiri sendiri. Hal ini disebabkan
karena pengalaman berjalan secara terus-menerus. Segala yang kita anggap benar
dalam pengalaman itu belum tentu benar ke depannya karena sebenarnya apa yang
kita anggap benar akan dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. William James
dikenal sebagai seorang yang pragmatis. Nilai pengalaman bagi pragmatisme
tergantung pada akibatnya. Sesuatu dalam pragmatism dianggap benar jika mampu
bermanfaat bagi pelakunya dan mampu mendatangkan kekayaan-kekayaan hidup (Juhaya
S. Praja, 2010: 2010).
Ada beberapa hal
yang bisa kita soroti dari seorang William James, seperti pengalaman yang kita
anggap benar sekarang belum tentu benar ke depannya. Sungguh hal ini
mengajarkan kita akan arti keberadaan ruang dan waktu. Kebenaran kadang sangat
bergantung kepada ruang dan waktu tersebut. Apa yang kita anggap benar sekarang
belum tentu dianggap benar suatu saat nanti. Mungkin saja kebenaraan tersebut
berubah sesuai dengan kebiasaan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat.
Kebenaran sangatlah bergantung pada pandangan masyarakat. Bahkan sesuatu yang
benar secara teori saja, bisa dianggap salah jika tidak sesuai dengan kebiasaan
masayarakat, begitupun sebaliknya. Tidak ada kebanaran yang objektif ini pun
bisa mengajarkan kita bahwa sesungguhnya di mana pun kita berada, maka
berusahalah untuk menghargai atau mengikuti aturan yang ada di tempat tersebut.
Hal ini disebabkan karena belum tentu hal yang kita anggap baik (kebiasaan di
daerah asal) berlaku baik di daerah tempat tinggal kita sekarang. Berusahalah
untuk saling menghargai masalah kebiasaan yang berkembang di suatu daerah dan
gunakanlah jika kita menganggap hal tersebut baik. Sungguh, hanya ada satu
kebenaran yang bersifat mutlak, yaitu kebenaran ajaran agama Islam.
Selanjutnya, ada
hal lain yang bisa kita soroti dari seorang William james mengenai
pragmatisnya. Sungguh, inilah yang disebut guru saya (Prof. Dr. Marsigit)
sebagai salah satu dari empat serangkainya sang power now. Pragmatis meletakkan ranah spiritual di tingkatan bawah
dan menganggap bahwa sesuatu yang benar itu adalah yang bermanfaat bagi dirinya
sendiri. Sungguh, hal ini adalah kesalahan besar dan mereka (para kaum
pragmatisme) inilah yang menimbulkan banyak kerusakan di dunia ini. Mereka
tidak pernah peduli terhadap objek yang lain, mereka selalu meletakkan
kebenaran berdasarkan pemikiran mereka, dan mereka selalu berusaha untuk
menggoda semua orang agar termasuk di dalam kaumnya. Sungguh, dalam makalah ini,
saya ingin mengatakan bahwa kaum pragmatisme, hedonisme, utilitarian, dan kapitalisme
adalah dajjal yang siap menghancurkan dunia ini dengan segala tipu dayanya. Dan
semoga kita semua tidak termasuk ke dalamnya dan kita termasuk orang yang
selalu mengingat ALLAH SWT. Amin.
V.
Prof.
Dr. Marsigit, M.A.
Prof. Dr.
Marsigit, M.A. lahir di Kebumen pada tanggal 19 Juli 1957. Beliau adalah
seorang dosen pada Jurusan Pendidikan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
(1983-sekarang). Beliau juga pernah menjabat dan bahkan sampai sekarang sebagai
Ketua Jurusan Pendidikan Matematika (1999-2003), Local Coordinator IMSTEP-JICA (1999-2003),
Peneliti Ahli (Specialist Researcher) bidang Pendidikan Matematika untuk
Negara-negara APEC (2003-sekarang), Ketua Divisi Pengembangan Penjaminan Mutu
UNY (2008), Ketua Task Force World Class University (2008-2010), Penulis Buku
Matematika SMP-SMA (2004-sekarang), Staf Ahli PR I UNY (2008-2009), dan Kepala
Bidang Internal Kantor Internasional UNY (2010-sekarang). Beliau mendapatkan gelar
profesor atau guru besar dengan bidang keahlian pembelajaran matematika
terhitung mulai bulan Juli tahun 2012 (Marsigit, 2011: 1).
Sekarang beliau
adalah dosen mata kuliah filsafat ilmu saya. Begitu banyak tulisan beliau, baik
yang berkaitan dengan pendidikan matematika, maupun dengan filsafat. Tulisan
beliau dapat langsung kita baca dengan mengikuti blog beliau. Berikut alamat
blog beliau: http://powermathematics.blogspot.com/.
Ikutilah blog tersebut, dan insyaALLAH kita akan mendapatkan banyak tulisan
yang berkaitan dengan filsafat, terutama filsafat pendidikan matematika dan
sains yang sangat bermanfaat bagi kita semua, baik sebagai mahasiswa, maupun
sebagai guru atau pengajar.
Banyak tulisan
beliau yang sudah saya baca, terutama yang berada di dalam blog tersebut. Dan
sungguh saya merasakan ada perbedaan yang insyaALLAH berguna bagi diri saya
setelah membaca tulisan-tulisan tersebut. Beliau mengajarkan saya bahwa hati
(yang ber-Tuhan-kan ALLAH SWT dan ber-Rasul-kan MUHAMMAD SAW) adalah pedoman
utama dalam belajar filsafat. Ketika pikiran kita sudah tidak mampu untuk
memikirkan segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, maka kembalikanlah semua
hal tersebut ke hati. Dan sungguh kita akan menyadari bahwa itulah keterbatasan
kita sebagai seorang hamba, keterbatasan pikiran kita yang tidak mungkin mampu
menjelaskan semua fenomena yang ada di hati.
Ada hal yang
sangat menarik yang insyaALLAH akan sangat berguna bagi saya dari pengajaran
yang dilakukan Prof. Dr. Marsigit, M.A. bahwa ternyata saya menemukan bahwa
pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan melaui tatap muka langsung di kelas
saja, melainkan melalui dunia imajiner dengan memanfaatkan internet. Dunia
imajiner diartikan sebagai dunia pembelajaran yang tidak terbatas oleh ruang
dan waktu. Beliau mengajarkan kepada saya bahwa pembelajaran bisa dilakukan di
mana saja, kapan saja, dan secara kontinu dengan membuka blog beliau untuk
kemudian membaca tulisan-tulisan yang ada di sana. Karena sungguh, cara
meningkatkan kemampuan berfilsafat atau membangun dunia kita dalam filsafat
hanyalah dengan cara: baca, baca, baca, dan baca, dan baca, dan baca, dan baca
lagi, dan baca lagi, dan baca lagi, dan begitulah seterusnya, terutama membaca
pikiran para filsuf. Dan sungguh, bagi saya, Prof. Dr. Marsigit, M.A. adalah
seorang filsuf. Ada istilah menarik yang akan banyak kita temui dalam tulisan
beliau tersebut, yang disebut elegi. Elegi tersebut menurut saya merupakan kata
yang mencerminkan pikiran beliau yang di dalamnya mengandung suatu ungkapan
kepedulian beliau terhadap suatu objek filsafat.
Dari sekian
banyak tulisan beliau, ada hal yang paling menarik menurut saya dan mungkin
akan sangat bermanfaat bagi semua kita, terutama mahasiswa yang menempuh mata
kuliah filsafat ilmu. Dalam salah satu blog yang berjudul Forum Tanya Jawab 55:
Tentang Tes Filsafat 1, diperoleh beberapa kesimpulan bahwa:
1. Filsafat
yang obyeknya di luar pikiran adalah realism.
2. Filsafat
yang obyeknya di dalam pikiran adalah idealism.
3. Filsafat
yang dibangun berdasarkan rasio adalah rasionalisme.
4. Filsafat
yang dibangun di atas pengalaman adalah empirisisme.
5. Filsafat
dimana nilai kebenarannya bersifat mutlak adalah absolutisme.
6. Filsafat
dengan nilai kebenaran koheren adalah koherentisme.
7. Filsafat
dengan obyek benda-benda alam adalah filsafat alam atau naturalisme.
8. Filsafat
yang berlandaskan keraguan adalah skeptisisme.
9. Filsafat
yang mempelajari logika para Dewa adalah transendentalisme.
10. Filsafat
dimana hakekatnya adalah materi adalah materialism.
11. Filsafat
yang mengatasi segala ramalan dan prakiraan adalah teleologi.
12. Nama
lain Filsafat Bahasa adalah analitik.
13. Filsafat
pertama adalah filsafat alam.
14. Filsafat
hidup adalah pilihan adalah reduksionalisme.
15. Filsafat
yang kebenarannya berdasar asas manfaat adalah utilitarian.
16. Filsafatnya
yang hanya mengejar kenikmatan dunia adalah hedonism.
17. Filsafatnya
yang dibangun berdasarkan asas permodalan adalah kapitalisme.
18. Filsafat
yang berdasarkan atas kriteria diri adalah individualtisme.
19. Filsafat
yang kebenarannya memerlukan konfirmasi orang lain adalah obyektivisme.
20. Filsafat
yang menggunakan permulaan adalah foundationalisme.
21. Filsafat
yang tidak menggunakan permulaan adalah intuitionalisme.
22. Filsafat
yang tidak mau berhenti adalah infinite regress.
23. Kausa
Prima adalah Tuhan.
24. Filsafat
dari khusus menuju umum adalah induktionisme.
25. Filsafat
yang berkaitan dengan ketiadaan adalah nihilisme.
26. Filsafat
dimana yang ada adalah “satu” adalah monoism.
27. Filsafat
dimana yang ada adalah “dua” adalah dualisme.
28. Filsafat
dimana yang ada adalah “banyak” adalah pluralisme.
29. Filsafat
yang hobinya menentukan nasib orang lain adalah determinisme.
Ada beberapa hal yang perlu diingat
di sini bahwa yang poin-poin di atas bukanlah untuk dihapalkan, melainkan untuk
dimengerti, untuk kemudian dihayati, untuk kemudian diperbincangkan, untuk
kemudian diperbincangkan, dan untuk kemudian dihidupkan (Marsigit, 2012: http://powermathematics.blogspot.com/).
Inilah sekiranya
salah satu dari sekian banyak tulisan Prof. Dr. Marsigit, M.A. yang bisa saya
tampilkan dalam makalah ini. Akhirulkalam, dalam kesempatan ini saya selaku
murid ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Prof. Dr. Marsigit, M.A.
yang telah memberikan banyak sekali ilmu dan bekal filsafat kepada saya. Dan
semoga ini semua dapat bermanfaat bagi saya ke depannya dan saya bisa membangun
dunia filsafat saya sendiri. Amin. Dan tidak lupa pula, permohonan maaf yang
sedalam-dalam dan seluas-luasnya dari saya untuk beliau jika sekiranya ada
kata, tulisan, dan perbuatan yang kurang berkenan terhadap beliau. Itu semua
semata-mata karena kekhilafan saya dan dapat saya perbaiki kedepannya. Amin.
Sebelum
mengakhiri makalah ini, saya ingin mengatakan bahwa sungguh semua kata-kata dalam
tulisan ini, mulai dari pendahuluan, sampai pada akhir makalah ini secara tidak
langsung adalah hasil dari pembelajaran saya pada perkuliahan Prof. Dr.
Marigit, M.A.. Dan sungguh beliau adalah inspirasi saya dalam berfilsafat. Dan
sekali lagi saya ingin mengucapkan dua kata untuk beliau, “terima kasih.”
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan
pendahuluan dan pembahasan dalam makalah ini, maka dapat disimpulkan beberapa
hal penting dalam filsafat, antara lain:
1.
Teguhkanlah hati kita dalam cahaya ISLAM
yang ber-Tuhan-kan ALLAH SWT dan ber-Rasul-kan MUHAMMAD SAW sebelum mempelajari
filsafat.
2.
Hidup adalah filsafat. Oleh karena itu,
mempelajari filsafat adalah hal penting yang harus dilakukan oleh semua kita.
3.
Objek filsafat adalah segala sesuatu
yang ada dan mungkin ada.
4.
Metode filsafat adalah hermeneutika.
5.
Filsafat adalah berpikir refleksif yang
bersifat sedalam-dalam dan seluas-luasnya.
6.
Filsafat bisa dilakukan oleh siapa pun
di dunia ini, selama mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup
tentang suatu objek.
7.
Filsafat adalah para filsuf dan
pikirannya.
8.
Thales menyatakan bahwa air adalah unsur
utama dari alam semesta.
9.
Anaximander menyatakan bahwa apeiron adalah unsur utama dari alam
semesta.
10. Anaximenes
menyatakan bahwa udara adalah unsur utama dari alam semesta.
11. Pythagoras
menyatakan bahwa titik tengah antara dua hal yang bertentangan adalah bentuk keserasian
dalam alam semesta.
12. Herakleitos
menyatakan bahwa dunia tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir.
13. Parmenides
menyatakan bahwa yang realitas dalam alam semesta ini hanya satu, tidak
bergerak, dan tidak berubah.
14. Zeno
mengungkapkan bahwa alam semesta terdiri atas empat substansi, yaitu air,
udara, api, dan tanah.
15. Anaxogras
menyatakan bahwa timbul dan hilang itu ada dan digerakkan oleh Nus.
16. Socrates
mengatakan bahwa tidak semua kebenaran itu bersifat relative, melainkan ada
yang mutlak.
17. Plato
mengatakan bahwa kebenaran yang umum itu adalah yang berada di alam ide.
18. Aristoteles
mengartikan bahwa logika adalah silogisme.
19. Thomas
Aquinas mengatakan bahwa Tuhan dapat diketahui dengan akal.
20. Rene
Descartes adalah seorang filsuf yang selalu mengandalkan rasio dengan
menggunakan metode skeptic dalam membuktikan suatu kebenaran.
21. De
Spinoza adalah seorang filsuf rasionalis yang selalu meletakkan
definisi-definisi di awal pembuktian suatu kebenaran.
22. John
Locke adalah tokoh empiris yang menganggap bahwa pengalaman adalah awal kemunculan
suatu ilmu.
23. Gottfried
Wilhelm von Leibniz mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini adalah berbeda.
24. George
Berkeley berpendapat bahwa sama sekali tidak ada substansi-substansi material,
yang ada hanyalah pengalaman dalam ruh saja.
25. David
Hume tidak menerima subtansi dikarenakan yang dialami hanya kesan-kesan saja
tentang beberapa hal.
26. Immanuel
Kant adalah seorang criticism yang menyatakan bahwa pengenalan manusia atas
sesuatu adalah perpaduan antara unsur-unsur a priori dan aposteriori.
27. George
Wilhelm Friedrich Hegel menyatakan bahwa ruh sudah menjadi absolute karena
tidak ada satu apa pun pada masa sekarang ini yang bersifat baru, melainkan
pengulangan suatu sejarah lama.
28. William
James menyatakan bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak.
29. Prof.
Dr. Marsigit, M.A. menyatakan bahwa tetapkanlah hati (yang ber-Tuhan-kan ALLAH
SWT dan ber-Rasul-kan MUHAMMAD SAW) sebagai pedoman utama sebelum mempelajari
filsafat.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad
Tafsir. (2009). Filsafat Umum: Akal dan
Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT. Remaja. Rosdakarya.
Crome,
K. (2005). Socrates and Sophistry. Richmond
Journal of Philosophy 9, 1-7.
Frater,
O. L. (2006). The Pythagorean Philosophy of Numbers. Spelendor Solis, Vol. V, 19-21.
Hansen,
M. J. (2010). Plato’s Parmenides:
Interpretations and Solutions to the Third Man. Aporia, vol. 20, no. 1, 65-75.
Juhaya
S. Praja. (2010). Aliran-aliran Filsafat
dan Etika. Jakarta: Kencana.
Kant,
I. (2010). The Critique of Pure Reason.
(Terjemahan Meiklejohn, J.M.D.). Harrisburg: University State Pennsylvania.
(Buku asli diterbitkan tahun 1781).
Knierim,
T. (tth). Pre-Socratic Greek Philosophy. Greek
Philosophy,www.thebigview.com, 1-25.
Marsigit.
(2011). Daftar riwayat hidup (on-line).
______.
(2012). Phylosophy, Psychology,
Spiritual, Character, Mathematics Education, Lesson Study, Indonesia. http://powermathematics.blogspot.com/.
Rapar,
J.H. (2002). Pengantar Filsafat.
Yogyakarta: Kanisius.
Shand,
J. (1993). Philosophy and Philosophers:
An Introduction to Western Philosophy. London: University Collage London
Press Limited.
Stamatellos,
G. (2012). Parmenides, Plato, and Mortal Philosophy: Return from Transcendence.
The International Journal of the Platonic
Tradition 6, 219-249.
Strub,
W. (tth). Anaximander’s Boomerang: Tracing the Return of a Pre-Socratic Notion.
Departement of Philosophy, 133-145.
Venugopalan,
A. (2007). The Quantum Zeno Effect-Watched Pots in the Quantum World. Resonance, 52-68.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar